80 Tahun Indonesia Merdeka, tetapi Sejatinya Masih Terjajah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Catatan simpanan nasabah perorangan di perbankan mengalami penurunan pada triwulan 2025. Hal itu disampaikan Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Indonesia (UI) setelah melakukan penyelidikan. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa masyarakat telah mengambil tabungan itu untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka. (CNBC Indonesia.com, 08/08/2025)

Menurut riset, masyarakat menarik dana untuk makanan, listrik, transportasi, dan air. Melemahnya daya beli masyarakat adalah salah satu faktor penyebab menurunnya simpanan nasabah di bank, ungkap LPEM UI. Sementara pada triwulan I-2025, pertumbuhan kredit konsumsi melambat menjadi 10,00% dari 10,70% pada pada akhir 2024.

Peringatan Hari Kemerdekaan ke-80 RI telah kita lewati. Sayangnya, kemeriahan perayaan ini menyimpan sisi gelap kondisi masyarakat, seperti banyaknya pengangguran akibat PHK. Sementara itu, harga kebutuhan pokok makin mahal, begitu pula dengan biaya pendidikan dan layanan kesehatan. Mirisnya, rakyat terus diburu dengan berbagai macam pajak di saat penghasilan masyarakat sedang menurun. Masyarakat akhirnya terpaksa menggunakan tabungan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Sementara itu, rusaknya moral generasi penerus juga menjadi masalah serius negeri ini. Alih-alih menjadi corong perubahan, justru mereka dirusak melalui pemikiran ala Barat. Semua itu dilakukan untuk mengukuhkan ideologi kufur kapitalisme. Pendidikan ala sekuler menanamkan racun pemikiran seperti moderasi, dialog antaragama, deradikalisasi, dll. Semua itu ditujukan untuk menjauhkan umat dari pemikiran Islam.

Memang benar, saat ini tidak ada lagi penjajahan fisik. Namun, ternyata beralih ke penjajahan nonfisik. Umat diserang dan dijajah melalui perang pemikiran yang sangat halus sehingga tidak merasa sedang dijajah. Padahal, sebenarnya itulah racun yang sangat mematikan.

Sesungguhnya Indonesia hanya merdeka secara fisik saja, sedangkan kemerdekaan hakiki belum diraih. Faktanya, rakyat masih hidup dalam kondisi memprihatinkan. Mereka belum mampu mencukupi kebutuhan hidupnya, bahkan banyak yang terjerumus ke dalam pinjol dan judol. Kesenjangan antara yang miskin dan kaya juga semakin terlihat.

Jika sudah merdeka, seharusnya terlihat dalam kehidupan rakyat yang terpenuhi semua kebutuhan hidupnya. Tidak lagi banyak pengangguran dan ekonomi stabil. Kemerdekaan akan tecermin dan terlihat pada kaum Muslim yang berpikir sesuai dengan Islam.

Kondisi ini sangat erat kaitannya dengan sistem yang diterapkan, yaitu sistem kapitalisme sekuler. Negara hanya melayani kepentingan oligarki, sedangkan rakyat berjuang sendiri. Mereka selalu diburu dengan berbagai macam pungutan yang makin memberatkan. Sungguh tragis nasib rakyat dalam asuhan sistem rusak demokrasi.

Jika ingin merdeka secara hakiki, maka harus membuang sistem yang rusak dan mengambil sistem sahih, yaitu sistem Islam. Hanya Islam sajalah yang mampu menyelesaikan semua problematika kehidupan. Syariat Islam membawa cahaya yang akan membawa rahmat untuk semesta alam.

Dalam Islam, sumber pendapatan negara bisa berasal dari kepemilikan negara dan kepemilikan umum, seperti sumber daya alam. Sumber daya alam akan dikelola oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk pelayanan, seperti kesehatan, pendidikan, dan berbagai infrastruktur, seperti jalan, jembatan, pusat perbelanjaan, dll. Seorang pemimpin atau Khalifah akan memperhatikan semua kebutuhan dasar rakyatnya, seperti sandang, pangan, dan papan.

Negara juga bertanggung jawab dalam hal pekerjaan dengan cara membuka lapangan pekerjaan yang banyak. Setiap kepala rumah tangga dipastikan tidak menganggur karena mereka adalah pemimpin untuk keluarganya. Islam akan memprioritaskan agar tanah selalu produktif. Jika ada tanah mati (tidak diurus), maka akan diberikan kepada rakyat yang bersedia mengurus atau menghidupkan. Fakir miskin akan mendapatkan santunan dari baitulmal. Negara Islam akan menerapkan sistem pendidikan Islam dengan landasan akidah Islam yang akan melahirkan generasi penerus yang beriman dan bertakwa. Penerapan Islam secara kaffah akan menjaga pemikiran umat agar sejalan dengan aturan Allah.

Oleh karena itu, harus ada upaya untuk mewujudkan kemerdekaan yang hakiki dengan melakukan perubahan mendasar, yaitu perubahan sistem. Umat Islam mesti disadarkan bahwa ada solusi tuntas agar Indonesia bisa benar-benar merdeka. Walaupun saat ini sudah banyak umat yang bangkit melawan dengan maraknya pengibaran bendera One Piece, namun itu belum menyentuh akar permasalahan. Perubahan harus diarahkan pada penerapan Islam secara kaffah.

Di sinilah pentingnya dakwah Islam kaffah yang dilakukan oleh jemaah dakwah ideologis ke tengah-tengah umat. Hal ini bertujuan membentuk kesadaran umum bahwa kemerdekaan hakiki bisa diraih dengan perubahan sistem kufur menuju sistem sahih, yaitu Islam. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Dartem

Sahabat Tinta Media

Views: 33

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA