Syawal di Bumi yang Terluka

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Suasana bulan Syawal selalu identik dengan kemeriahan dan kebahagiaan. Ini adalah waktu yang dinanti-nanti oleh umat Islam setelah sebulan penuh menjalankan ibadah
puasa di bulan Ramadan.

Hari Raya Idul Fitri dirayakan dengan penuh suka cita. Orang-orang mengenakan pakaian terbaik, memasak hidangan-hidangan istimewa dalam jumlah besar, serta saling bersilaturahmi dengan keluarga, kerabat, dan tetangga. Tawa anak-anak yang bermain kembang api, obrolan hangat antarsanak saudara, dan aroma makanan khas Lebaran seperti opor ayam, rendang, dan ketupat memenuhi udara, menambah semarak perayaan.

Namun, di tengah kebahagiaan yang dirasakan banyak umat Islam di berbagai penjuru dunia, ada sebagian saudara kita yang tidak bisa merasakan momen kebersamaan dan kedamaian itu. Saudara-saudara kita di Palestina, masih harus merasakan penderitaan penjajahan yang tak kunjung berhenti. Meskipun Idul Fitri telah tiba dan seharusnya menjadi hari kemenangan dan kebahagiaan, tetapi serangan demi serangan terus dilancarkan oleh pihak Israel tanpa mengenal belas kasih. Rumah-rumah hancur, anak-anak kehilangan keluarga, dan tanah kelahiran mereka terus dijarah tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun.

Ini bukan pertama kalinya, bahkan sudah terlalu sering Israel menyerang tanpa belas
kasih, tanpa rasa kemanusiaan sedikit pun. Setiap serangan yang mereka lancarkan bukan
hanya merusak bangunan dan merenggut nyawa, tetapi juga menghancurkan harapan, mimpi, dan masa depan satu generasi. Tindakan brutal ini sudah jauh melampaui batas kewajaran.

Ini bukan lagi sekadar penjajahan, melainkan genosida yang berlangsung di depan mata
dunia. Anak-anak, perempuan, orang tua, semuanya menjadi sasaran kekejaman yang dilakukan secara sistematis dan terus-menerus. Dunia menyaksikan, tetapi hanya sedikit yang benar-benar bergerak.

Jalur diplomasi yang selama ini digaungkan di level internasional, nyatanya tidak mempan. Pertemuan demi pertemuan, pernyataan demi pernyataan, tak satu pun yang benar-benar membungkam kebiadaban itu. Upaya boikot pun, meskipun
membawa semangat solidaritas, belum mampu mengguncang akar kekuasaan dan kezaliman yang mereka bangun.

Karena itulah, para ulama di berbagai penjuru dunia mulai bersuara lantang. Mereka menyatakan dengan tegas bahwa apa yang terjadi di Palestina
bukan sekadar konflik, melainkan kezaliman nyata yang harus dilawan.

Sekretaris Jenderal Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS), organisasi yang sebelumnya dipimpin oleh Yusuf Al-Qaradawi, Ali Al-Qaradaghi, menyerukan kepada semua negara muslim pada Jumat (4/4), agar segera campur tangan secara militer, ekonomi, dan politik untuk
menghentikan genosida dan penghancuran menyeluruh ini, sesuai dengan mandat mereka.

Dalam fatwa yang terdiri dari sekitar 15 poin, juga disebutkan bahwa kegagalan pemerintah Arab dan Islam untuk mendukung Gaza saat sedang dihancurkan dianggap oleh hukum Islam sebagai kejahatan besar terhadap saudara-saudara kita yang tertindas di Gaza.

Fatwa jihad pun telah mengeluarkan sebuah seruan bagi umat Islam untuk membela saudara-saudara mereka yang tertindas. Ketika kata-kata tak lagi didengar, dan diplomasi hanya menjadi basa-basi, maka melawan adalah satu-satunya jalan yang tersisa.

Berdasarkan realitas yang tak terbantahkan, harus diakui bahwa umat Islam hari ini berada dalam kondisi yang sangat rapuh. Tanpa adanya satu kekuatan politik dan militer yang besar, umat ini tampak tercerai-berai, lemah, dan tidak mampu membela diri sendiri dari berbagai bentuk kezaliman global.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa institusi-institusi dunia Islam, baik organisasi internasional, regional, maupun nasional, berulang kali gagal menunjukkan ketegasan dan keberpihakan nyata terhadap penderitaan rakyat Palestina selama ini. Kebrutalan zionis Yahudi, yang secara terang-terangan didukung oleh Amerika Serikat dan sejumlah negara besar di Eropa, terus berlangsung tanpa hambatan berarti. Mereka bukan hanya diberi ruang untuk menjajah, tetapi juga disokong dengan kekuatan militer, ekonomi, dan diplomatik yang menjadikan mereka nyaris tak tersentuh oleh hukum internasional atau kecaman publik global.

Di tengah situasi ini, seruan untuk sekadar “mengutuk” atau “mendukung solusi damai” nyatanya tak pernah mampu menghentikan agresi, bahkan cenderung menjadi bentuk pembiaran yang dibungkus dengan retorika diplomatik.

Oleh karena itu, dalam Islam, tidak ada institusi lain yang mampu menyatukan kekuatan umat, menggerakkan potensi mereka, dan menghadirkan solusi nyata selain Khilafah Islamiyah.

Telah terbukti dalam sejarah bahwa Khilafah adalah pelindung sejati umat Islam di seluruh penjuru dunia. Khilafah merupakan sebuah institusi kepemimpinan global yang diwajibkan oleh syariat Islam untuk menegakkan hukum-hukum Allah dan membela darah serta kehormatan kaum muslimin.

Persoalan Palestina tidak akan pernah terselesaikan dengan jalan kompromi yang terus-menerus merugikan pihak yang dizalimi. Satu-satunya solusi yang benar-benar sesuai dengan prinsip Islam adalah pembebasan secara total tanah suci Palestina melalui jihad fi sabilillah, yang dipimpin oleh satu kepemimpinan politik, yakni Khilafah.

Hanya dengan kekuatan ini, umat dapat mengakhiri penjajahan Zionis Yahudi dan membebaskan Masjid Al-Aqsha sebagaimana dahulu Salahuddin
al-Ayyubi membebaskan Yerusalem dari cengkeraman tentara Salib, bukan dengan
negosiasi, tetapi dengan kekuatan dan keteguhan iman.

 

 

Oleh: Shira Tara

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA