Tinta Media – Prof. Dr. Ir. Lilik Sutiarso, M.Eng. (Guru Besar Universitas Gajah Mada) memberi dukungan atas langkah cepat yang dilakukan oleh Satgas Pangan Mabes Polri, yaitu langkah investigasi anomali harga beras yang naik di saat stok beras melimpah mencapai 4,2 juta ton. Pengecekan dilakukan di sejumlah pasar induk besar di Jakarta Timur.
Menumpuknya cadangan beras dikarenakan adanya kebijakan penyerapan gabah petani yang besar. Keadaan itu menyebabkan suplai ke pasar menjadi terganggu sehingga harga menjadi naik. Ujung-ujungnya, rakyat pula yang terkena imbas. Rakyat makin berat menanggung beban hidup dengan kondisi saat ini.
Beras merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dicukupi oleh negara, karena merupakan sumber penghidupan. Pemenuhan kebutuhan pangan sudah seharusnya dilakukan oleh negara secara merata dan terjangkau harganya.
Jika ditelaah lebih dalam, permasalahan yang sesungguhnya bukan dari pengadaan barang semata, tetapi dari distribusi dan mekanisme distribusi kepada rakyat. Rakyat harus dipastikan mampu membeli barang tersebut, dalam hal ini adalah beras.
Rakyat sudah seharusnya diperhatikan, apakah dengan harga beras yang mahal rakyat bisa membelinya atau tidak. Karena seperti kita ketahui bersama, beras merupakan kebutuhan pokok dasar rakyat seluruhnya, baik kaya atau miskin. Semua berhak mendapatkan kebutuhan pokok dengan mudah dan terjangkau.
Kenyataannya, semua itu masih ilusi, karena masih banyak rakyat yang merasa _mumet_ dengan kondisi yang serba mahal ini. Ditambah lagi dengan harga beras yang juga naik di tengah maraknya PHK belakangan ini.
Semua akibat Salah Sistem
Beras yang seharusnya didistribusikan oleh negara dalam rangka mengurus rakyat, dalam sistem kapitalisme sekuler justru dijadikan sebagai komoditas yang diperdagangkan oleh para pemilik modal dengan tujuan memperoleh keuntungan. Negara yang seharusnya menjamin dan melayani kebutuhan rakyat, justru menjadikan rakyat sebagai lahan bisnis demi cuan. Dalam hal ini, peran negara hanya sebagai regulator saja.
Begitulah, cengkeraman ekonomi kapitalis sudah begitu kuat dan mengakar di negeri ini. Sistem ekonomi kapitalis akan melahirkan berbagai kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir orang, yaitu adanya monopoli pasar.
Begitulah jika aturan Islam diabaikan dan mengambil sistem buatan manusia. Jelaslah bahwa akar masalah dari semua karut-marut negeri ini adalah sistem kapitalisme sekuler. Sekularisme adalah pemisahan agama dari kehidupan, sehingga melahirkan perbuatan yang tidak memedulikan halal haram, tetapi berfokus pada manfaat dan keuntungan saja. Itulah sistem batil buatan manusia yang rusak dan merusak. Selama pengelolaannya masih dalam sistem tersebut, maka rakyat akan terzalimi dan menderita.
Hal itu berbeda dengan pandangan Islam. Islam memandang bahwa beras merupakan kebutuhan primer yang menjadi tanggung jawab negara. Negara wajib memenuhi dan menjamin agar rakyat tercukupi kebutuhannya. Negara juga harus memastikan bahwa seluruh manusia bisa memenuhi kebutuhan dasar dengan mudah dan murah. Negara punya peranan yang sangat penting dalam mengurusi urusan rakyat, termasuk dalam hal pangan. Begitu juga dengan kebutuhan dasar lainya, seperti sandang dan tempat tinggal (rumah).
Terkait beras, Khilafah akan mengutamakan produksi dengan memberikan subsidi bibit unggul kepada rakyat, supaya mendapatkan hasil terbaik. Kemudian, negara juga memberikan pupuk, obat penyemprot hama secara cuma-cuma agar mendapatkan hasil yang maksimal. Di sisi lain, yang tak kalah penting adalah negara akan mengelola distribusi sesuai dengan aturan Islam. Tidak ada bisnis dengan rakyat, melainkan dalam rangka menunaikan kewajiban mengurus urusan rakyat.
Islam juga sangat melarang adanya penimbunan barang oleh segelintir orang. Oleh karena itu, barang atau beras akan tersedia secara merata dan stabil sehingga rakyat terjamin kebutuhannya. Tidak ada yang boleh mematok harga, melainkan mengikuti mekanisme pasar. Jual beli harus saling rida dan tidak menzalimi satu sama lain. Sanksi tegas dalam Islam juga punya peran penting, yaitu sebagai penjaga, agar rakyat terlindungi dari berbagai kejahatan dan tindak kesewenang-wenangan orang lain.
Begitulah cara Islam dalam mengelola kebutuhan dasar rakyat, bukan dengan solusi pragmatis. Semua takkan bisa terwujud tanpa adanya negara yang menerapkan syariat Islam secara kaffah. Tidakkah kita rindu hidup dalam naungan Khilafah? Mariah terus semangat berjuang dalam rangka mengembalikan kehidupan Islam agar terwujud rahmatan lil ‘alamin.r Itulah solusi hakiki yang harus dipahami oleh seluruh manusia sebagai makhluk Allah Swt. Wallahu a’lam bishawab .
Oleh: Dartem
Sahabat Tinta Media
Views: 40














