Tinta Media – Belakangan ini, media sosial seperti X dan TikTok tengah dihebohkan oleh sebuah tren baru yang disebut “S Line“. Banyak warganet mengunggah foto dengan coretan garis merah di atas kepala mereka. (Detik.com, 19/7/2025)
Setelah ditelusuri, ternyata tren ini terinspirasi dari sebuah serial drama Korea berjudul “S Line” yang tayang di platform streaming Netflix. Drama ini menceritakan tentang seseorang yang memiliki kemampuan melihat “benang merah” di atas kepala orang sebagai simbol jumlah hubungan seksual yang telah mereka lakukan. Kemudian tali merah tersebut akan terhubung ke orang lainnya sebagai tanda dengan siapa mereka melakukan hal tersebut.
Tren ini menyebar luas di kalangan pengguna TikTok dari berbagai latar belakang dan usia. Tak sedikit dari mereka yang ikut-ikutan menggambar benang merah di atas kepala mereka sendiri dan mempublikasikannya, baik sebagai guyonan maupun sebagai bagian dari narasi “keterbukaan” terhadap pengalaman pribadi.
Mirisnya, beberapa pengguna tidak menyadari makna sesungguhnya dari tren yang mereka ikuti tersebut. Hal ini menjadi evaluasi kembali untuk diri kita agar lebih bijak mengetahui asal-usul dari sebuah tren dan memilahnya kembali apakah hal tersebut pantas atau tidak untuk kita ikuti.
Dalam pandangan Islam, menyebarkan perbuatan maksiat, apalagi dosa pribadi yang seharusnya ditutupi adalah perbuatan yang sangat tercela. Tindakan ini termasuk dalam kategori “al-mujāhirūn”, yakni orang-orang yang terang-terangan melakukan dan menyebarkan dosa, padahal Allah telah menutup aib mereka.
Rasulullah saw. bersabda, “Setiap umatku akan diampuni, kecuali al-mujāhirūn (orang-orang yang terang-terangan berbuat dosa). Dan termasuk perbuatan terang-terangan adalah seseorang melakukan dosa pada malam hari, lalu di pagi harinya dia berkata, ‘Wahai Fulan, tadi malam aku telah melakukan ini dan itu.’ Padahal, Allah telah menutup aibnya. Namun di pagi harinya dia menyingkap aib yang telah Allah tutupi.“ (HR. Bukhari no. 6069, HR. Muslim no. 2990)
Penting bagi masyarakat, terutama generasi muda untuk lebih selektif dan kritis dalam mengikuti tren digital. Ini karena tidak semua hal yang viral layak untuk diikuti, apalagi hal-hal yang mengumbar maksiat. Jika kita telah melakukan maksiat, cukup kita dan Allah saja yang mengetahui. Selanjutnya, kita dapat bertobat dan tidak melakukannya kembali, bukan malah memamerkannya ke publik layaknya prestasi yang dapat dibanggakan. Akhirnya, hal tersebut berujung pada dosa dan merugikan diri sendiri.
Di tengah derasnya arus media sosial, menjaga diri dan harga diri adalah bentuk tanggung jawab moral dan spiritual. Jangan sampai demi tren dan viral, kita menggadaikan rasa malu dan membuka aib yang telah ditutupi oleh Allah. Banyaklah mencari tahu dan bijaklah dalam berperilaku karena tak semua yang viral itu benar, dan tak semua yang ditiru itu baik. Wallahualam bissawab.
Oleh: Kayla Mutia Nazwa
Peserta Pelatihan Menulis Eksklusif Class of SWI
Views: 69









