Fenomena Kesepian di Tengah Keramaian

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Media sosial bukanlah suatu hal yang baru. Setiap saat akan menyuguhkan berbagai macam konten, mulai dari konten edukasi hingga konten unfaedah. Mulai dari usia balita hingga orang tua, mayoritas pasti pernah menggunakan medsos. Entah untuk memosting konten atau sekadar scroll,. Seolah-olah hidup penuh warna.

Meski hidup tidak pernah sepi dengan adanya medsos, tetapi interaksi pengguna di dunia medsos tidak lantas menghilangkan perasaan sepi. Mereka masih merasa kesepian di dunia nyata. Memang, seseorang bisa begitu aktif di dunia maya, tetapi minim interaksi sosial.

Fenomena ini menarik perhatian mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Mereka melakukan riset berjudul “_Loneliness in the Crowd_: Eksplorasi Literasi Media Digital pada Fenomena Kesepian di TikTok melalui Konfigurasi Kajian Hiperrealitas Audiovisual”. Fifin Anggela Prista, ketua tim riset, melakukan penelitian tersebut kepada Gen Z yang biasa berselancar dan aktif di media sosial, tetapi minim interaksi sosial di dunia nyata.

Hasil dari penelitian tersebut menyebutkan bahwa berdasarkan teori hiperrealitas, representasi digital kerap dianggap lebih ‘nyata’ daripada realitas itu sendiri sehingga emosi yang dibentuk media dapat memengaruhi kesehatan mental dan hubungan sosial seseorang. (detik.com, 18/09/2025)

Media sosial juga bisa digunakan sebagai pelampiasan sementara ketika bosan. Karena, mampu memberikan berbagai macam komunitas, interaksi virtual, serta memberikan rasa senang dan kepuasan meski sesaat. Akhirnya, mengakibatkan perasaan kesepian dan terisolasi.

Manusia adalah makhluk sosial, di mana mereka tidak bisa hidup sendiri. Seseorang akan berinteraksi dengan orang lain untuk mencapai tujuan tertentu, baik interaksi di dunia nyata ataupun maya.

Namun, tidak bagi Gen Z. Ternyata mereka justru menjadi generasi yang paling merasa kesepian. Akibatnya, muncul sikap asosial, insecure, bahkan mengalami kesehatan mental. Terkadang mereka beranggapan bahwa tidak masalah tidak memiliki teman di dunia nyata, asalkan banyak relasi di dunia maya.

Kapitalisme Membajak Media Sosial

Rasa kesepian yang dialami generasi muda bukan sekadar persoalan kurangnya literasi digital dan manajemen penggunaan gawai, tetapi pengaruh sistem kapitalisme. Sistem ini menjadikan medsos sebagai sebuah industri yang menimbulkan dampak buruk, di antaranya sikap asosial, yaitu perilaku yang cenderung menghindari interaksi sosial atau memiliki kesulitan berinteraksi dengan orang lain. Hal ini berakibat anggota masyarakat sulit bergaul di dunia nyata, terutama generasi muda. Mereka fokus pada diri masing-masing sehingga menarik diri dari lingkungan sekitar. Seharusnya antaranggota masyarakat lebih peka dan peduli dengan sesama. Bahkan, di tengah keluarga pun pola hubungan di antara anggota keluarga terasa jauh. Dengan kesibukan di dunia kerja, membuat mereka terpaksa harus mengorbankan kebersamaan dengan keluarga. Komunikasi secara intens antaranggota keluarga jadi hilang.

Sikap asosial dan perasaan kesepian akan berdampak buruk dan merugikan umat jika dibiarkan tanpa ada solusi. Terlebih bagi generasi muda yang sebenarnya punya potensi besar untuk menghasilkan karya-karya produktif. Alih-alih berkarya, justru menjadi generasi yang lemah tak berdaya.

Kesehatan mental mereka akan rusak karena rasa kesepian dan terisolasi. Pemikiran rusak dan menyesatkan akan melemahkan daya pikir mereka sehingga potensi mereka dibajak. Lebih parahnya lagi, kepedulian terhadap persoalan umat juga tak akan mampu dilihat oleh masyarakat yang terjebak dalam kesepian dirinya karena waktu, tenaga, dan pikiran mereka teralihkan ke dunia digital yang tiada habisnya

Islam dan Media Sosial

Memang tidak bisa dihindari, hidup dengan medsos. Mulai dari bayi baru lahir hingga dewasa, semua tersentuh dengan dunia digital. Hidup tanpa dunia digital seperti katak dalam tempurung. Meski begitu, tetap harus bijak dalam penggunaan medsos agar tidak terjerumus pada hal-hal yang diharamkan Allah.

Media sosial adalah salah satu kemajuan teknologi informasi. Meski berasal dari produk Barat, Islam membolehkan seorang Muslim untuk menggunakan dalam hal kebaikan, bukan untuk hal-hal yang sia-sia dan menyita waktu. Sehingga, masyarakat harus menyadari bahwa pengaruh media sosial yang tidak dikelola dengan bijak akan menjadikan banyak orang makin asosial dan merasa kesepian di tengah keramaian. Fenomena ini akan merugikan umat.

Dalam Islam, tujuan hidup di dunia adalah untuk beribadah kepada Allah. Masyarakat harus menjadikan Islam sebagai identitas utama. Pemahaman ini harus tertancap kuat dalam benak seorang Muslim sehingga tidak terus-menerus menjadi korban sistem sekularisme liberalisme.

Sistem sekularisme liberalisme mengajarkan bahwa aturan agama harus dijauhkan dari pengaturan kehidupan bermasyarakat. Manusia boleh hidup bebas semaunya tanpa harus memikirkan orang lain. Ide inilah yang akan melemahkan umat dan mematikan potensi generasi muda.

Khilafah akan melakukan mekanisme untuk mengendalikan pemanfaatan dunia digital dengan memberikan informasi edukasi dan melarang tayangan pornoaksi dan pornografi. Dunia digital akan dimanfaatkan untuk menyebarluaskan dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia karena Islam adalah rahmatan lil-‘alamin.

Jika ada pelanggaran terhadap tayangan, maka Khilafah akan menindak tegas layanan informasi tersebut, misalnya pemberhentian secara paksa jika tidak ada evaluasi setelah mendapatkan peringatan. Negara tidak akan membiarkan tayangan yang tak bermanfaat merusak akal dan kesehatan mental umat.

Negara Islam akan mendorong masyarakat, khususnya generasi muda agar tetap produktif dan berkontribusi dalam menyelesaikan problematika umat. Generasi muda akan disibukkan dengan hal-hal yang bermanfaat untuk umat dan membuat karya yang mampu menunjang peradaban Islam. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Windih Silanggiri

Pemerhati Remaja

Views: 28

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA