Tinta Media – Menyoroti penyiapan lahan tambang yang dilakukan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia agar bisa dieksplorasi Amerika Serikat, Pengamat Ekonomi Dr Arim Nasim menilai sebagai kebijakan yang sangat bahlul (bodoh).
“Ini kebijakan sangat bahlul alias bodoh,” tuturnya kepada Tinta Media, Jumat (8/8/2025).
Menurutnya, di tengah negara sedang mengalami kesulitan keuangan, justru sumber keuangan malah diserahkan kepada para penjajah.
“Pada saat yang sama, untuk mengatasi kesulitan keuangan, negara justru mencari utang ribawi dan memeras rakyat dengan berbagai pungutan pajak, termasuk rencana memungut pajak dari aktivitas PSK, memblokir rekening nasabah dan berbagai kebijakan lain yang menyengsarakan rakyat,” kritiknya.
Kondisi ini, jelas Arim, semakin mengokohkan bahwa pemerintah dalam sistem demokrasi, esensinya adalah agen para kapitalis yang mengabdi kepada kepentingan oligarki.
“Sehingga mental mereka adalah mental calo atau pedagang,” tegasnya mengkritik.
Padahal, ia menjelaskan, pemerintah harusnya melayani dan mengurus urusan rakyat.
“Tapi ternyata konsep politik atau pemerintah itu, adalah mengurus rakyat, hanya ada dalam sistem Islam, sebagai mana Sabda Rasulullah SAW
Pemimpin itu laksana penggembala dan dia akan diminta pertanggungjawaban terhadap gembalaannya,” kutipnya.
Karena itu, ajaknya, sudah saatnya umat dan tokoh umat serius dan sungguh-sungguh untuk mewujudkan tegaknya sistem Islam secara kaffah.
“Dengan penerapan syariat Islam secara kaffah akan mengubur sistem kapitalis termasuk para agen kapitalis,” tandasnya.
Arim menggambarkan buruknya kebijakan para agen kapitalis ini.
“Para agen kapitalis yang doyan menyengsarakan rakyat dengan kebijakan kapitalisnya, memalak rakyat dengan berbagai jenis pajak dan pungutan lainnya,” kritiknya.
Melindungi para oligarki dan bandar judi dan bisnis hitam mereka.
“Dan menjadi calo untuk menjual SDA milik umat kepada negara-negara kafir penjajah,” ungkapnya.
Hakikatnya, ucap Arim, mereka bukan mengurus rakyat, namun menjadi agen penjajah melalui kebijakan politik dan ekonominya.
Perspektif Islam
Arim menjelaskan, dalam pandangan sistem ekonomi Islam, haram menyerahkan harta milik rakyat kepada swasta apalagi asing penjajah seperti negara Kafir Imperialis AS.
“Dalam Hadits Riwayat Abu Dawud disebutkan, umat Islam bersekutu dalam tiga hal air, rumput, dan api, dan harganya haram,” kutipnya.
Hadits ini, jelas Arim, menekankan bahwa umat Islam memiliki hak yang sama dalam menggunakan beberapa sumber daya alam yang sangat penting bagi kehidupan manusia, yaitu,
Pertama, api. Sumber daya yang sangat penting bagi kehidupan manusia dan makhluk lainnya.
Kedua, lanjut Arim, rumput, merujuk pada padang rumput atau sumber daya alam lainnya yang terkait dengan kehidupan hewan dan lingkungan.
Ketiga, api, dalam konteks ini, api mungkin merujuk pada sumber daya energi yang penting bagi kehidupan manusia.
Dan tambahan harganya haram, menunjukkan bahwa tidak boleh mengambil harga atau biaya untuk ketiga hal tersebut.
Begitu juga dalam hadits lain, Arim memungkas,
diriwayatkan oleh Abu Dawud dan At-Tirmidzi, dan menekankan bahwa barang tambang yang depositnya melimpah adalah milik umum dan tidak boleh dimiliki oleh individu.[] ‘Aziimatul Azka
Views: 38





