Tinta Media – Mentari belum tinggi ketika Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menginjakkan kaki di Bandara Domine Eduard Osok (DEO) Sorong, Sabtu (7/6/2025).
Namun pagi itu, suasananya jauh dari gegap gempita penyambutan pejabat negara. Tak ada karpet merah, tak ada tepuk tangan. Yang hadir justru wajah-wajah muram penuh luka.
Di hadapan rombongan kementerian, rakyat telah berkumpul. Mereka bukan sekadar massa aksi. Mereka adalah anak negeri, penjaga tanah adat, pewaris peradaban yang kini terancam oleh rakusnya eksploitasi.
Jeritan menggema. Suara mereka menembus udara, menyapa telinga Menteri Bahlil, putra asli Fak-Fak, Papua Barat.
“Penipu…!” Sebuah teriakan yang bukan lahir dari kebencian, melainkan dari rasa dikhianati yang telah lama membusuk di dada.
Spanduk terentang, pamflet tersebar. Satu pesan utama menggema, “Hentikan perusakan tanah warisan Raja Ampat oleh tambang nikel!”
Apa yang terjadi di Raja Ampat bukanlah sekadar konflik lokal. Ini adalah cermin dari rusaknya sistem kapitalisme sebuah sistem yang memandang alam sebagai komoditas, dan rakyat sebagai penghalang investasi.
Raja Ampat sebagai titipan Ilahi yang seharusnya dijaga, kini menjadi korban kerakusan korporasi dan pengabaian negara.
Massa aksi menuntut agar seluruh izin tambang di wilayah itu dicabut. Tapi harapan untuk berdialog secara terbuka justru dikhianati. Bahlil pergi melalui pintu belakang bandara. Sebuah langkah yang seolah menegaskan bahwa suara rakyat tak layak untuk didengar.
“Bahlil Lahadalia menipu rakyat Indonesia dan lari dari massa lewat pintu belakang Bandara DEO Sorong,” ujar Uno Klawen, seorang pemuda adat Raja Ampat dengan nada getir.
Uno tidak sekadar berteriak. Ia membawa fakta. Ada empat perusahaan tambang nikel yang kini beroperasi dan merusak lingkungan Raja Ampat: PT Gag Nikel, PT Kawei Sejahtera Mining, PT Anugerah Surya Pratama, dan PT Mulya Raymon Perkasa.
Uno mengatakan bahwa yang disebut Bahlil hanya PT Gag Nikel yang akan ditutup sementara. “Padahal, tiga perusahaan lain masih terus beroperasi,” ungkapnya. Kata-katanya bukan sekadar tudingan, tapi juga jeritan keadilan yang terus menanti jawaban.
Alam dipandang dalam Islam sebagai amanah dari Allah SWT yang harus dijaga dan dikelola dengan penuh tanggung jawab.
Sebagaimana firman Allah SWT:
“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS Ar-Rum: 41)
Islam menegaskan bahwa sumber daya alam (SDA) adalah milkiyyah ‘ammah (kepemilikan umum) yang haram dikuasai individu atau korporasi, apalagi oleh pihak asing. Pengelolaannya pun harus menghindari kerusakan.
Namun kini, itu semua dibalik oleh sistem kapitalisme. Negara lebih memilih peran sebagai pelayan investor daripada pelindung rakyat. Atas nama “pembangunan”, hutan digunduli, laut tercemar, penghidupan dan perasaan masyarakat adat dilukai.
“Kami sebagai anak adat Raja Ampat meminta agar jangan tutup mata terhadap permainan elite pusat. Alam kami dirusak dan dirampok atas nama pembangunan oleh negara,” lanjut Uno, mencabik hati nurani siapa pun yang masih memiliki empati.
Di mana amanah pemimpin dalam menjaga bumi warisan generasi?
Islam telah menetapkan bahwa pemimpin adalah ra’in (penggembala), yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat dan alam yang ia urus.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Imam (pemimpin) adalah penggembala, dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas gembalaannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hari ini, suara rakyat adat Raja Ampat tidak boleh dipinggirkan. Ini bukan sekadar soal tambang, melainkan tentang keberpihakan.
Apakah negara akan terus berdiri di belakang kaum kapitalis (para pemilik modal bersama korporasinya)? Atau berani berpihak pada rakyat dan lingkungan yang teraniaya?
Islam tidak anti pembangunan. Tapi Islam menolak pembangunan yang dibangun dari darah, air mata, dan kehancuran lingkungan. Islam memuliakan bumi, sebagaimana ia memuliakan manusia.
Kini saatnya negeri ini kembali pada sistem Islam yang memuliakan manusia dan alam.
Hanya dalam sistem Islam bernama khilafah dengan kepemimpinan yang bertakwa yang disebut sebagai khalifah alam akan dijaga, rakyat akan didengar, dan keindahan alam seperti Raja Ampat tidak akan berubah menjadi kerusakan alam atas nama investasi kaum kapitalis.
Oleh: Muhar
Jurnalis
Views: 56
















