Empat Tradisi Jahiliah yang Berhasil Diubah Rasulullah saw

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Setidaknya ada empat tradisi pada masa jahiliah yang disoroti Mubaligah Kota Depok, Ustazah Nanik Wijayati, yang berhasil diubah Rasulullah saw. dan di zaman ini malah kembali terjadi.

Hal tersebut ia kupas dalam acara ’Kajian Muslimah Bulanan: Maulid Nabi, Momentum Memperkuat Iman dan Ukhuwah Islamiyah’, Sabtu, (13/09/2025) di Depok.

Adapun keempat tradisi tersebut, yakni:

Pertama, tradisi jahiliah terkait kepercayaan dan agama. “Masyarakat Arab pada masa jahiliah menyembah benda-benda seperti patung dan benda lain seperti matahari dan bulan sebagai bentuk kepercayaan. Sementara hari ini, banyak dari umat Islam yang mendatangi dukun dan mempercayai ramalan bintang untuk kelancaran bisnis, jodoh, dan kebaikan hidupnya,“ terangnya.

Kedua, tradisi jahiliah di bidang sosial dan moral. “Salah satu kebiasaan keji masyarakat Arab jahiliah adalah membunuh bayi perempuan. Tradisi ini dilakukan karena menganggap perempuan beban bagi keluarga. Kemudian, ada tradisi judi dengan mengundi nasib menggunakan anak panah. Lalu, mabuk-mabukan dan minum khamar di tempat-tempat maksiat,“ ujarnya di hadapan 100 lebih jemaah Muslimah.

Ia pun menegaskan, semua itu terjadi pada masa Arab jahiliah. Sementara itu, hari ini di zaman serba canggih dan modern, banyak kasus bayi diaborsi sebelum diketahui jenis kelaminnya. “Lalu, judi dan pinjol yang dilakukan seorang suami membuat istrinya tega mengakhiri nyawa kedua anaknya serta mengakhiri hidupnya akibat tidak tahan dikucilkan, penuh utang, serta hilang kepercayaan. Mirisnya, ini bukan kasus baru. Kemudian, minuman-minuman keras hari ini begitu mudah ditemukan di warung-warung pinggir jalan,” tambahnya.

Ketiga, tradisi jahiliah terkait perilaku perempuan. “Masyarakat Arab jahiliah sudah biasa melakukan poligami secara berlebihan. Satu orang pria bisa memiliki 10 orang istri. Di sana, kaum perempuan tidak memiliki hak apalagi untuk diperlakukan secara adil. Lalu, terjadi pula perdagangan perempuan. Perempuan diperjualbelikan layaknya barang. Kemudian, pakaian perempuan saat melakukan tawaf. Kaum wanita Arab jahiliah terbiasa melakukan tawaf dengan bertelanjang bulat dan hanya menutupi kemaluannya dengan tangan. Terakhir, ada pernikahan yang berlebihan dan tidak manusiawi. Maksudnya, terdapat berbagai pernikahan tanpa aturan seperti pernikahan tanpa mahar dan pernikahan syighar (menikahi anak yang masih kecil),” bebernya.

Hari ini perilaku pernikahan berlebihan, ujarnya. Perempuan tidak memiliki hak dan perlakuan adil. Pakaian wanita yang sangat terbuka bahkan telanjang sangat mudah untuk kita temui.

Keempat, perang saudara. Suburnya fanatisme suku (asabiah) yang berlebihan. “Masyarakat Arab terbiasa hidup dalam kabilah kecil dengan loyalitas yang sangat kuat terhadap sukunya. Hal ini menciptakan persaingan dan permusuhan yang sering berujung pada peperangan untuk membela kehormatan suku atau anggota kabilah. Kemudian, ada persaingan sumber daya. Wilayah Arab yang tandus dan sumber daya yang terbatas, seperti mata air dan padang rumput sering menjadi penyebab konflik yang memicu perang antarkabilah. Lalu, ada ketidakstabilan politik dan hukum, seperti tidak adanya pemerintahan terpusat, sistem peradilan, atau polisi, membuat masyarakat setempat bergantung pada kekuatan kabilah masing-masing. Ketika terjadi sengketa, tidak ada otoritas yang menengahi sehingga solusi yang diambil sering kali dengan kekerasan,” jelasnya.

Keempat budaya atau tradisi jahiliah ini sekarang kembali terjadi, terangnya, bahkan sering disebut sebagai bentuk jahiliah modern. Jasa terbesar Rasulullah saw., yakni berhasil mengubah tradisi syirik, perilaku maksiat, peperangan, dan perpecahan di kalangan masyarakat Arab menjadi tradisi sesuai Islam yang dipenuhi dengan keimanan dan ketauhidan.

“Rasul saw. juga membawa syariat Islam untuk mengatur kehidupan dan menyejahterakan manusia serta seluruh alam. Bahkan tidak cukup sampai di situ, Beliau berhasil mempersatukan kabilah-kabilah yang sering bertikai di Arab atas dasar ukhuwah islamiah,” tambahnya.

“Oleh sebab itu, kita harus kembali pada ajaran tauhid yang murni, menegakkan hukum-hukum Allah yang terbukti membawa rahmat bagi seluruh alam, dan bersatu padu dalam ikatan ukhuwah islamiah untuk umat Islam di mana pun berada,” pungkasnya. []Fatmah Ramadhani

Views: 37

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA