Tinta Media – Semakin hari, banyak manusia yang sibuk dengan dunianya sendiri dan tak peduli pada lingkungan sekitar. Begitu kebanyakan tanggapan orang ketika melihat seseorang yang asyik bermain gawai—seolah benda itu sahabat sejati yang tak boleh ditinggal mati.
Ada perasaan senang saat menggenggam gawai, seakan manusia berkuasa atas segalanya. Tangan mengendalikan dunia dan orang lain seolah tak lagi berarti. Mengapa fenomena ini begitu merebak? Andai saja manusia masih memiliki rasa empati terhadap sesamanya, tentu lebih indah jika kembali menjalin hubungan nyata—berteman dengan manusia, bukan hanya dengan layar.
Sayangnya, manusia zaman sekarang semakin kurang dibekali ilmu agama. Pertemanan terasa hambar, percakapan kehilangan makna, bahkan banyak hubungan hanya dibangun di atas kepentingan. Di tengah masyarakat yang katanya “sangat bersosial”, justru fitnah dan perundungan (bullying) sering terjadi. Ironisnya, media sosial yang seharusnya menjadi ruang berbagi malah berubah menjadi arena saling menjatuhkan.
Bagaimana nasib para pendiam, orang jujur, atau mereka yang berpikiran lurus? Mereka justru sering menjadi sasaran bully—baik dengan kata-kata keji maupun tindakan kasar. Bahkan ketika melangkah keluar rumah pun, mereka harus siap menghadapi cibiran dari orang-orang yang kehilangan nurani.
Akibatnya, banyak yang akhirnya lebih memilih “berteman” dengan benda tak bernyawa bernama gawai. Gawai dianggap lebih aman karena tidak menghakimi. Namun, jika manusia dikuasai oleh gawai, maka yang baik pun bisa berubah menjadi jahat. Banyak kasus di media sosial menunjukkan betapa kejahatan digital semakin marak—dari perundungan daring hingga peretasan akun yang digunakan untuk menjelekkan nama baik orang lain.
Ketika seseorang menjadi korban kejahatan digital, ia sering dibenci masyarakat tanpa tahu apa salahnya. Bahkan, ketika tahu akunnya dihack, ia tak bisa berbuat banyak. Rasa takut dan kecewa itu akhirnya membuatnya menjauh dari manusia dan hanya gawai yang menjadi “teman sejati”. Di sinilah muncul fenomena loneliness in the crowd (kesepian di tengah keramaian).
Sifat individualisme pun tumbuh karena trauma sosial dan rendahnya kepercayaan antarmanusia. Tak jarang seseorang memilih hidup sendiri, menjauh dari keluarga, bahkan merasa nyaman dalam kesendirian yang menyakitkan. Luka hati yang tak terselesaikan membuat banyak orang tenggelam dalam kesepian, terutama di kalangan Gen Z dan mereka yang introvert.
Padahal, jika iman dan takwa menjadi dasar hidup, gawai hanyalah alat penghubung, bukan tujuan hidup. Kebahagiaan sejati tidak berasal dari layar, melainkan dari kedekatan dengan Allah dan sesama manusia.
Gawai mungkin bisa memberi kesenangan sesaat, tapi ketika baterainya habis, hati pun ikut gersang. Karena itu, perlu ada penyadaran dengan mengkaji Islam secara kafah. Hanya dengan ilmu dan dakwah, rasa kesepian bisa terobati. Hati akan hidup kembali dan media sosial bisa berubah menjadi sarana dakwah, bukan sumber masalah.
Maka, wahai Gen Z, hapuslah kesepianmu dengan mendekatkan diri kepada Allah dan mengkaji Islam kafah. Bergabunglah dengan komunitas dakwah yang peduli, karena Allah selalu bersama orang-orang yang sabar, beriman, dan taat. Wallahualam bissawab.
Oleh: Desti Marzuliantini, S.K.M.,
Sahabat Tinta Media
Views: 20






