Tinta Media – Gawai memudahkan anak untuk mendapatkan jawaban secara instan dari soal ujian atau tugas yang dikerjakan di rumah, sehingga anak menjadi malas berpikir. Bahkan, ada satu aplikasi yang dapat memberikan jawaban lengkap dan benar hanya dengan memotret soal atau tugas yang diberikan bapak/ibu guru di sekolah. Tidak membutuhkan waktu lama, jawaban pun tersedia. Kemudahan yang ditawarkan gawai dapat melemahkan kemampuan kognitif anak. Anak menjadi malas berpikir karena semua jawaban sudah tersedia melalui gawai di tangan.
Menyadari hal tersebut, aturan yang melarang penggunaan gawai selama proses belajar di kelas mulai diterapkan di berbagai daerah, seperti Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Surabaya, dan beberapa daerah lainnya. Contohnya, siswa SD hingga SMA di Jakarta dilarang memakai gawai selama berada di sekolah.
Namun, penerapan sebuah aturan perlu disertai sanksi. Aturan tanpa sanksi tidak ada artinya atau sia-sia. Apalagi kondisi anak zaman sekarang yang lebih sulit diingatkan dan cenderung melawan. Sementara itu, banyak terjadi kriminalisasi terhadap guru karena orang tua tidak terima anaknya dihukum. Oleh karena itu, diperlukan perlindungan hukum dalam pelaksanaannya, terutama bagi guru yang ingin menjalankan aturan dengan memberikan sanksi kepada siswa yang tidak mematuhi ketentuan yang telah ditetapkan.
Aturan yang baik harus diikuti dengan penerapan yang baik di lapangan. Tugas mendidik tidak hanya dibebankan kepada guru, tetapi juga orang tua dan negara. Guru mendidik anak di sekolah, dan untuk mendisiplinkan anak agar tidak menggunakan gawai selama pelajaran berlangsung, diperlukan sanksi. Sanksi apa yang perlu diberikan ketika siswa melanggar aturan dapat didiskusikan bersama. Sanksi yang telah disepakati bersama harus dipatuhi dan tidak boleh ada keberatan atau protes saat guru menjatuhkan hukuman yang telah disepakati tersebut.
Orang tua harus dilibatkan dalam proses mendidik anak. Mereka juga harus dipahamkan pentingnya membatasi penggunaan gawai saat anak berada di rumah. Selain itu, orang tua perlu memahami dampak buruk penggunaan gawai yang berlebihan serta pentingnya pemberian hukuman saat anak melawan dan tidak mau mematuhi aturan yang telah ditetapkan. Sosialisasi dari Dinas Pendidikan sebagai perwakilan negara perlu dilakukan agar orang tua mengerti dan tidak lagi melakukan protes ketika anak mereka mendapatkan hukuman, apalagi sampai melapor ke polisi.
Pembatasan gawai pada anak juga harus dilakukan di rumah oleh orang tua. Anak perlu didorong untuk memahami konsep dasar dan mencoba mengerjakan banyak latihan soal secara mandiri, bukan mencari jawaban instan dari gawai di tangan. Negara juga harus hadir dengan melarang iklan yang secara gencar mengajak anak menggunakan cara instan untuk mendapatkan jawaban dari satu aplikasi, karena hal tersebut dapat membuat anak malas berpikir.
Tugas kita bersama untuk menjauhkan anak dari penggunaan gawai yang berlebihan dan tidak pada tempatnya. Semoga lahir generasi cemerlang yang memiliki kemampuan kognitif dan adab yang baik serta semangat belajar secara mandiri, bukan bergantung pada gawai. Wallahualam bissawab.
Oleh: Mochamad Efendi,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 36
















