Tinta Media – Satu tahun berlalu sejak berbagai skema internasional kembali digulirkan atas nama “penyelesaian konflik Palestina–Israel”. Namun, alih-alih mendekatkan pada kemerdekaan Palestina, realitas di lapangan justru menunjukkan arah sebaliknya. Palestina semakin terjepit, sementara Israel terus memperluas cengkeramannya atas tanah yang dirampas.
Dilansir dari Antara News (27/12/2025), Israel secara resmi menyetujui pembukaan 19 permukiman ilegal baru di wilayah Tepi Barat. Langkah ini menegaskan bahwa proyek penjajahan Zionis tidak pernah berhenti, meskipun dunia internasional terus berbicara tentang solusi damai. Pada saat yang sama, tragedi kemanusiaan di Gaza—mulai dari genosida, penindasan sistematis, hingga serangan yang terus berlanjut pascagencatan senjata—perlahan tersingkir dari sorotan global, seolah boleh dilupakan begitu saja.
Sementara itu, kekerasan pemukim ilegal terhadap warga Palestina terus berlangsung. Dilansir dari CNN Indonesia (26/12/2025), para pemukim Israel menyerang warga Tepi Barat dan bahkan mencuri ratusan ekor ternak milik rakyat Palestina. Fakta ini menunjukkan bahwa penjajahan tidak hanya dilakukan oleh negara, tetapi juga difasilitasi secara sistematis melalui perlindungan terhadap para pemukim ilegal.
Ironisnya, di tengah kejahatan yang nyata ini, dunia internasional kembali menggaungkan solusi-solusi lama, seperti solusi dua negara, proposal 20 poin Trump, maupun skema gencatan senjata yang rapuh. Semua ini, dalam praktiknya, lebih menyerupai konspirasi politik untuk menenangkan opini publik global, bukan upaya tulus membebaskan Palestina. Solusi-solusi tersebut justru memberi waktu dan legitimasi bagi Israel untuk menguatkan penguasaan wilayah, politik, dan ekonominya.
Secara nyata, Israel menempuh berbagai cara untuk merampas dan menguasai seluruh wilayah Palestina. Arogansi Zionis tidak berhenti pada penjajahan lokal, tetapi juga tampak dalam ambisi mendominasi politik dan ekonomi dunia. Dukungan negara-negara besar terhadap Israel memperlihatkan bagaimana standar ganda diterapkan: genosida terjadi secara terang-terangan, namun pelakunya tetap dilindungi.
Lebih dari itu, kebencian ideologis Zionis terhadap Islam dan umat Islam bukanlah rahasia. Sejarah panjang konflik ini menunjukkan bahwa yang disasar bukan sekadar wilayah, melainkan juga eksistensi Islam itu sendiri. Dunia hari ini tampak tidak memiliki kemampuan—atau bahkan kemauan—untuk menghentikan kejahatan Zionis Israel dalam membuat kerusakan di muka bumi, termasuk genosida di Gaza dan Palestina secara keseluruhan.
Dalam pandangan Islam, sifat perusakan yang dilakukan oleh kaum penjajah telah Allah Swt. kabarkan sejak lama. Allah Swt. berfirman: “Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi,’ mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang membuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadarinya.”
(QS Al-Baqarah: 11–12). Ayat ini relevan menggambarkan bagaimana penjajah selalu membungkus kejahatan dengan narasi perdamaian dan stabilitas.
Islam juga memberikan panduan tegas dalam urusan loyalitas politik. Umat Islam diperintahkan untuk tidak memberikan wala’ (loyalitas ideologis dan politik) kepada pihak-pihak yang secara nyata memusuhi Islam dan kaum muslim. Prinsip ini dijelaskan secara rinci dalam literatur fikih siyasah Islam, termasuk pembahasan tentang hukum loyalitas kepada pihak yang memerangi umat Islam.
Dalam sirah Nabi Muhammad ﷺ, sikap tegas terhadap negara-negara yang memusuhi Islam dan pihak-pihak yang mengkhianati perjanjian merupakan bagian dari kebijakan negara. Rasulullah ﷺ tidak membiarkan agresi dan pengkhianatan terus berlangsung atas nama toleransi semu, tetapi menanganinya dalam kerangka perlindungan umat dan penjagaan kedaulatan.
Oleh karena itu, bagi umat Islam, persoalan Palestina bukan sekadar isu kemanusiaan, melainkan persoalan akidah dan politik umat. Banyak ulama dan pemikir Islam menegaskan bahwa selama umat Islam tercerai-berai dan tidak memiliki kekuatan politik yang menyatukan, arogansi Zionis akan terus berlangsung. Pembebasan Palestina menuntut perubahan mendasar, bukan sekadar diplomasi kosong yang berulang dari tahun ke tahun.
Setahun solusi yang ditawarkan dunia hari ini telah membuktikan satu hal: selama solusi lahir dari kepentingan penjajah dan para sekutunya, Palestina akan tetap terjajah. Umat Islam dituntut untuk melihat persoalan ini dengan kacamata Islam yang jernih, bukan terbuai oleh narasi damai yang menutupi kejahatan kemanusiaan. Wallahualam bissawab.
Oleh: Anggun Istiqomah,
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 31
















