Tinta Media – Dunia saat ini terpaku pada ideologi kapitalisme sekuler yang diusung oleh negara adidaya Amerika Serikat (AS). Ideologi ini telah melahirkan berbagai aturan yang menyasar umat Islam, menjadikan negeri-negeri muslim lemah, mudah dijajah, dan didikte, sehingga umat semakin menderita dan menjauh dari aturan Islam. Ajaran Islam yang seharusnya diterapkan secara menyeluruh (kafah) akhirnya dibatasi hanya pada ibadah keseharian. Dengan kata lain, kehidupan umat semakin bersifat sekuler. Generasi muslim pun direcoki dengan narasi moderasi beragama yang semakin melenakan mereka dari kepemimpinan Islam. Akibatnya, umat Islam terbiasa menjalankan aktivitas sesuai dengan ideologi yang dianut oleh negeri-negeri saat ini.
Lihatlah bagaimana setiap kebijakan yang diterapkan di tengah umat kerap menyelisihi aturan Islam dalam berbagai sendi kehidupan. Politik, ekonomi, dan sosial begitu kental dengan ideologi kapitalisme, sehingga tidak mengherankan jika berbagai benturan dalam penerapannya di tengah masyarakat terus terjadi dan kemerosotan akhlak pun tak terhindarkan. Inilah warisan ideologi kapitalisme sekuler yang melahirkan individu-individu yang sibuk dengan urusan duniawi, menjadikan materi sebagai tujuan utama kehidupan. Tak heran jika generasi berikutnya pun lebih sibuk menata kehidupan dunia dengan mengabaikan kehidupan akhirat. Padahal, sejatinya umat Islam harus terikat dengan aturan Islam dalam setiap aspek kehidupan tanpa kecuali. Hal ini hanya dapat terwujud apabila ideologi Islam diterapkan di muka bumi.
Dominasi Amerika dalam Tatanan Dunia
Amerika Serikat (AS), selain menjadi pilar ideologi kapitalisme sekuler, juga berperan besar dalam mendominasi tatanan dunia. Terpampang jelas bagaimana kekuasaan AS membuat Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan mahkamah internasional tidak mampu berperan aktif dalam menegakkan keadilan global. Contohnya, proses peradilan internasional terhadap Israel tidak memberikan efek apa pun. AS yang menjadi sekutu Israel menjadikan setiap tawaran bantuan perdamaian antara Palestina dan Israel selalu berpihak pada kepentingan Israel. Sayangnya, dunia hanya mampu terdiam tanpa perlawanan yang setara.
AS terbukti berhasil membungkam berbagai hasil perundingan dan sanksi hukum internasional yang ditujukan kepada Israel. Akibatnya, Israel bebas melanggengkan genosida terhadap Gaza, Palestina. Hingga saat ini, tidak ada pihak yang mampu menghentikan serangan brutal tersebut. Umat Islam semakin terpuruk karena para penguasanya terbelenggu oleh nasionalisme dan kerja sama bilateral dengan AS–Israel. Alhasil, meskipun berbatasan langsung dengan Palestina, mereka tidak mampu memberikan bantuan berarti. Padahal, jika negeri-negeri muslim bersatu dengan kekuatan militernya, pendudukan Israel atas Palestina, khususnya Gaza, niscaya dapat diakhiri.
Belum lama ini, dunia juga dihebohkan oleh tindakan Presiden AS Donald J. Trump yang, atas dasar kekuasaannya, mengancam dan mendesak negara-negara lain yang memiliki potensi untuk menopang perekonomian AS agar tunduk dan patuh kepadanya. Tindakan ini sekaligus menunjukkan ambisinya menegaskan kekuasaan absolut di mata dunia. Trump bahkan menginstruksikan penahanan dan pengadilan Presiden Venezuela Nicolás Maduro beserta istrinya dengan tuduhan perdagangan narkotika. Padahal, secara terbuka Trump menginginkan penguasaan sumber daya minyak Venezuela. Tidak hanya itu, Trump juga mengancam Greenland—yang merupakan wilayah Denmark—serta Kanada dan Ukraina. Dominasi AS ini semakin menunjukkan bahwa dalam kepentingan nasionalnya, tidak ada kawan, dan siapa pun bisa dijadikan lawan.
Hegemoni AS yang luar biasa ini, dengan keserakahan kepemimpinan kapitalisme globalnya, turut mengakibatkan bencana ekologi dunia. Hal ini tampak dari kontribusinya terhadap perubahan iklim, pembatasan pendanaan lingkungan, serta peningkatan produksi bahan bakar fosil. Perubahan iklim berdampak pada meningkatnya suhu global yang memicu berbagai bencana alam, seperti banjir besar, badai yang semakin kuat, dan gelombang panas ekstrem. Pembatasan pendanaan lingkungan internasional, termasuk penghentian dana untuk Green Climate Fund (GCF) dan perjanjian iklim multilateral lainnya, menyulitkan negara-negara berkembang dalam menangani dampak perubahan iklim. Semua kebijakan tersebut terjadi di bawah administrasi Trump. Selain itu, kebijakan energi yang berfokus pada bahan bakar fosil dan deregulasi lingkungan, seperti percepatan pengeboran minyak, menimbulkan kekhawatiran akan meningkatnya emisi metana serta kerusakan ekosistem sensitif (afsc.org, Beirt Heinz, Yang Perlu Anda Ketahui tentang Kebijakan Lingkungan Trump yang Merugikan).
Kondisi ini menunjukkan bagaimana negara adidaya dengan mudah memainkan perannya untuk mencapai tujuan politik dan ekonominya. Amerika Serikat, dengan berbagai cara, terus berupaya melakukan aneksasi atas nama menjaga keamanan dunia dan kekuatan militernya, padahal tujuan utamanya adalah penguasaan sumber daya alam, seperti yang terjadi di Venezuela, serta ancaman terhadap Greenland (Denmark) dan negara lainnya. Aneksasi semacam ini jelas melanggar hukum internasional dan dinilai ilegal. Namun, AS kerap mengabaikan ancaman sanksi hukum internasional maupun kecaman masyarakat dunia.
Ideologi Islam Menyelamatkan Umat dan Tatanan Hukum Dunia
Solusi mendasar untuk memperbaiki sendi-sendi kehidupan umat Islam yang terjebak dalam ideologi kapitalisme sekuler adalah dengan menegakkan ideologi Islam di tengah umat. Ideologi Islam pernah menguasai dua pertiga dunia dan berjaya di Eropa pada masa kekhilafahan Islam. Dengan demikian, Khilafah dapat disamakan dengan negara adidaya yang ideologinya memuliakan umat Islam maupun nonmuslim tanpa terkecuali. Pada masa itu, seluruh aspek kehidupan berjalan sesuai dengan aturan Islam yang menyeluruh (kafah).
Kekuatan lain yang mampu melawan hegemoni AS adalah kebangkitan umat Islam melalui dakwah Islam kafah sebagai upaya menegakkan kepemimpinan Islam dalam naungan Khilafah Islam dengan ideologinya yang khas, yaitu ideologi Islam. Dengan demikian, Islam akan kembali menjadi kekuatan besar dunia. Ibarat _apple to apple_ dalam menghadapi kekuatan adidaya saat ini, Amerika Serikat hanya dapat ditandingi apabila negeri-negeri muslim bersatu di bawah satu kepemimpinan Islam dan membentuk negara adidaya baru.
Khilafah Islam merupakan harapan besar untuk mengembalikan tatanan kehidupan dunia yang rahmatan lil-‘alamin. Segala bentuk kezaliman, kemaksiatan, kemungkaran, dan kerusakan di muka bumi dapat diatasi melalui kepemimpinan Islam yang berlandaskan akidah Islam. Sejarah kejayaan Khilafah Islam menjadi bukti nyata bahwa kesejahteraan dan keamanan umat manusia dapat terwujud. Wallahualam bissawab.
Oleh: Ageng Kartika, S.Farm.,
Pemerhati Sosial
![]()
Views: 29












