Tinta Media – Pernyataan mengejutkan dari Anggota Kongres Amerika Serikat Randy Fine yang menyerukan penggunaan bom nuklir terhadap Jalur Gaza (beritasatu.com, 24/04/2025). Ini bukan sekadar retorika kebencian yang tidak beradab. Pernyataan itu merupakan simbol nyata dari runtuhnya standar etik dalam politik global, pelanggaran berat terhadap hukum internasional, dan penghinaan terbuka terhadap prinsip-prinsip dasar kemanusiaan serta nilai-nilai agama.
Ketika suara-suara seperti ini muncul dari para pembuat kebijakan di negara besar, maka sangat jelas bahwa peradaban dunia saat ini berada dalam krisis moral yang sangat dalam. Namun, yang lebih mengiris nurani adalah kenyataan bahwa pemimpin-pemimpin negeri muslim justru bergeming. Mereka memilih diam seribu bahasa demi stabilitas kekuasaan semu, alih-alih membela saudara-saudara muslim yang dihancurkan secara brutal di Gaza.
Pengkhianatan Para Penguasa Muslim
Pernyataan Anggota Kongres As yang menyerukan penggunaan nuklir terhadap Gaza bukan hanya ekspresi kebencian individual. Ini menjadi bukti nyata bahwa umat Islam mengalami penghinaan luar biasa di abad ini. Umat dijadikan sasaran kekerasan, dicitrakan sebagai ancaman, dan dibiarkan terbantai tanpa ada pembelaan yang bermakna dari pemimpin-pemimpin muslim sendiri. Mirisnya, para penguasa negeri-negeri muslim sama sekali tak terdorong hatinya untuk menunjukkan pembelaan terhadap agamanya, padahal apa yang terjadi di Gaza bukan hanya konflik geopolitik, tetapi penistaan terhadap Islam dan pembantaian atas umat Muhammad ﷺ.
Alih-alih bersatu dan bangkit, para pemimpin ini justru tetap bergeming lebih khawatir kehilangan legitimasi politik mereka daripada kehilangan harga diri sebagai pemimpin umat. Gaza telah dihancurkan sedemikian rupa, ribuan nyawa melayang, infrastruktur luluh lantah, dan penderitaan tak berkeseduhan. Namun, pengkhianatan para penguasa terhadap amanah kepemimpinan justru makin kuat dan mencolok di hadapan dunia. Mereka rela membiarkan umat diinjak-injak asalkan relasi dengan negara-negara penjajah tetap harmonis.
Kerusakan dan kekejaman yang terjadi di Gaza sejatinya mencerminkan kerusakan sistem kehidupan global hari ini yang berdiri di atas nilai-nilai sekularisme dan kekuasaan tanpa moral. Sistem ini tidak memuliakan manusia sebagai makhluk terbaik ciptaan Allah Swt., tetapi memperlakukan mereka sebagai objek politik dan ekonomi. Sistem ini tega membunuh bayi-bayi yang tak berdosa, membumihanguskan rumah-rumah ibadah, dan menyasar fasilitas sipil, tanpa ada rasa malu dan penyesalan. Sistem semacam ini jelas tidak layak memimpin dunia, apalagi mengatur kehidupan manusia yang membutuhkan keadilan dan kasih sayang.
Sistem Islam Pelindung Nyawa dan Kehormatan Umat
Berbeda dengan sistem buatan manusia yang cacat dan zalim, Islam memuliakan kehidupan manusia. Islam adalah agama yang menghormati nyawa manusia secara hakiki, bahkan dalam kondisi perang sekalipun. Islam memerintahkan umatnya untuk bersikap ma’ruf, baik terhadap penduduk sipil, melarang pembunuhan terhadap perempuan, anak-anak, orang tua, serta tidak membolehkan penghancuran rumah ibadah, fasilitas umum, atau harta benda yang tidak terlibat dalam peperangan. Inilah aturan perang dalam Islam yang luar biasa indah dan manusiawi. Islam tidak sekadar hadir sebagai sistem keyakinan spiritual, tetapi juga mengatur secara komprehensif tata kehidupan sosial-politik dengan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin.
Aturan Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam situasi perang guna menjaga kemuliaan manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling mulia. Berbeda dengan sistem global saat ini yang menjadikan manusia sebagai korban kepentingan ideologis dan ekonomi, Islam menjadikan keadilan dan kasih sayang sebagai asas dalam setiap kebijakan. Oleh sebab itu, penerapan Islam secara kaffah bukan sekadar pilihan, melainkan satu-satunya jalan yang layak untuk memimpin dan menyelamatkan peradaban manusia.
Namun, penerapan ini tidak akan terwujud secara individual atau sporadis. Perjuangan untuk menegakkan aturan Islam secara kaffah di muka bumi membutuhkan upaya kolektif dan kesungguhan dari seluruh umat Islam. Umat tidak bisa lagi berpangku tangan dan berharap kepada penguasa-penguasa yang telah terbukti gagal, bahkan mengkhianati amanah umat sebagai pemimpin muslim. Perubahan besar ini hanya mungkin terjadi jika umat bergerak bersama dalam satu arah perjuangan yang terorganisir dan dipandu oleh pemikiran serta metode yang benar.
Karena itu, umat membutuhkan kepemimpinan jamaah dakwah yang tulus, yakni gerakan dakwah ideologis yang berpegang teguh pada metode dakwah Rasulullah ﷺ yang menolak kompromi dengan sistem kufur dan konsisten menyeru kepada penegakan sistem Islam secara menyeluruh. Jamaah inilah yang mengemban visi kenabian untuk mengembalikan Islam sebagai kekuatan politik global yang akan menyatukan umat dan membebaskan mereka dari dominasi Barat yang rusak.
Umat Islam harus menyambut seruan jamaah dakwah ini, membuang jauh-jauh sikap pasif, dan mengambil peran aktif dalam perjuangan menuju tegaknya agama rahmatan lil alamin ini. Kemuliaan tidak akan pernah terwujud dengan sistem demokrasi, nasionalisme, ataupun kapitalisme. Kemuliaan hanya akan terwujud dengan Islam, dan Islam tidak akan tegak kecuali dengan penerapannya secara kaffah dalam naungan Khilafah rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Inilah satu-satunya solusi sejati yang mampu menghentikan kezaliman global, memuliakan umat Islam, dan menjamin keamanan serta keadilan bagi seluruh umat manusia. Inilah jalan yang wajib ditempuh oleh siapa saja yang mengaku beriman dan mencintai kemuliaan Islam.
Maka, sudah saatnya umat Islam bersatu dalam perjuangan menegakkan Islam secara kaffah, bukan hanya sebagai keyakinan pribadi, tetapi sebagai sistem hidup yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Perjuangan ini membutuhkan kepemimpinan dakwah yang tulus, yang berpegang pada metode dakwah Rasulullah ﷺ, berbasis ideologi Islam dan tanpa kompromistis. Umat harus menyambut seruan dari jamaah dakwah yang ikhlas mengajak kepada perubahan mendasar, bukan tambal sulam.
Khatimah
Hari ini, dunia menyaksikan tragedi besar di Gaza. Namun, dunia juga menyaksikan diamnya para penguasa muslim sebagai tragedi yang tak kalah memilukan. Ketika umat Islam diperlakukan sebagai musuh bersama dan para pemimpin mereka justru merapat ke pelaku kejahatan, maka tidak ada jalan lain selain mengembalikan kepemimpinan umat kepada sistem yang diturunkan oleh Allah Swt. Dunia tidak butuh lebih banyak pidato, konferensi, atau deklarasi kosong. Dunia butuh kepemimpinan Islam. Dunia butuh Khilafah.
Sebagaimana sabda Baginda Rasulullah saw, “Kemudian akan tegak kembali Khilafah atas manhaj kenabian.” (HR. Ahmad)
Kemuliaan hanya akan terwujud dengan Islam, dan Islam tidak akan tegak kecuali dengan penerapan secara kaffah dalam naungan Khilafah rasyidah ‘ala minhaj an-nubuwwah.
Oleh: Novi Ummu Mafa,
Sahabat Tinta Media
Views: 26
















