Tinta Media – Kasus kekerasan terhadap anak balita di Daycare Little Aresha, Yogyakarta, lalu disusul terungkapnya kasus serupa di Baby Preneur, Aceh, semestinya tidak dipandang sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Ini bukan sekadar cerita tentang oknum pengasuh yang lalai atau kehilangan kesabaran. Lebih dari itu, rangkaian kasus ini adalah luka sosial potret buram yang tak terlihat dari sebuah sistem yang perlahan menggeser fitrah pengasuhan dalam keluarga.
Memang benar, pelaku langsung dalam kasus-kasus tersebut adalah pekerja daycare. Mereka jelas bersalah. Namun pertanyaannya tidak boleh berhenti di situ. Mengapa anak-anak usia dini—yang sedang berada pada fase paling krusial dalam pembentukan emosi dan kepribadian—justru lebih banyak menghabiskan waktu di tangan orang lain, bahkan hingga seharian penuh?
Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari cara hidup yang dibentuk oleh sistem kapitalisme.
Dalam sistem ini, kehidupan diukur dengan standar materi. Kesejahteraan dipersempit maknanya menjadi kemampuan memenuhi kebutuhan finansial, sementara aspek pengasuhan sering kali dipinggirkan. Biaya hidup yang tinggi, tuntutan ekonomi, serta gaya hidup yang terus didorong oleh industri menjadikan banyak keluarga tidak memiliki pilihan realistis selain bekerja penuh waktu—baik ayah maupun ibu.
Di titik inilah peran ibu sebagai pusat pengasuhan mulai tergeser. Bukan karena ibu tidak ingin hadir untuk anaknya, tetapi karena sistem tidak memberi ruang yang cukup untuk itu. Daycare kemudian hadir sebagai solusi praktis, bahkan dianggap sebagai kebutuhan. Namun solusi ini sejatinya rapuh, karena ia memindahkan tanggung jawab besar, yakni pengasuhan dan pembentukan karakter anak kepada pihak yang tidak memiliki ikatan emosional mendalam.
Ketika relasi pengasuhan berubah menjadi relasi bisnis atau jasa, maka yang muncul bukan lagi kasih sayang sebagai fondasi utama, melainkan standar kerja yang sering kali terbatas pada prosedur. Dalam kondisi inilah, potensi kekerasan, pengabaian, atau perlakuan tidak layak menjadi lebih terbuka.
Apa yang diungkap oleh Deputi Bidang Perlindungan Khusus Anak KemenPPPA, Titi Eko Rahayu, bahwa tidak menutup kemungkinan masih banyak kasus serupa yang belum terungkap, semakin memperjelas bahwa fenomena ini ibarat gunung es. Yang terlihat hanyalah sebagian kecil, sementara yang tersembunyi bisa jadi jauh lebih besar dan mengkhawatirkan.
Jika akar persoalan ini tidak disentuh, maka upaya penyelesaian hanya akan berputar pada pengetatan aturan, pelatihan tenaga kerja, atau peningkatan pengawasan. Semua itu penting, tetapi tidak cukup. Sebab masalah utamanya bukan semata pada teknis pengasuhan, melainkan pada sistem yang memaksa keluarga menjauh dari peran alaminya.
Solusi Islam
Islam menawarkan cara pandang yang berbeda dan lebih mendasar.
Dalam Islam, pengasuhan anak adalah amanah besar yang melekat pada orang tua, terutama ibu sebagai pendidik pertama dan utama. Peran ini tidak diposisikan sebagai beban, melainkan kemuliaan. Karena itu, Islam tidak menjadikan perempuan sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Kewajiban nafkah berada di pundak laki-laki, sehingga ibu memiliki ruang yang luas untuk menjalankan peran pengasuhan secara optimal.
Lebih dari itu, dalam sistem Islam, negara bertanggung jawab menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar masyarakat. Ketika kebutuhan hidup dapat diakses dengan mudah dan layak, tekanan ekonomi yang memaksa kedua orang tua bekerja secara intens dapat diminimalkan. Keluarga pun tidak harus “menyerahkan” anak-anak mereka kepada pihak lain dalam durasi yang panjang.
Di sisi lain, sistem pendidikan Islam membentuk individu yang tidak hanya kompeten, tetapi juga bertakwa. Ini penting, karena pengasuhan bukan sekadar soal keterampilan, melainkan juga soal hati dan tanggung jawab di hadapan Allah. Seorang pengasuh yang memiliki kesadaran ini tidak akan mudah tergelincir pada tindakan zalim.
Masyarakat pun tidak bersikap pasif. Dengan budaya amar makruf nahi mungkar, kontrol sosial berjalan secara alami. Lingkungan menjadi lebih peduli dan responsif terhadap potensi penyimpangan, termasuk dalam pengasuhan anak.
Pada akhirnya, kasus kekerasan di daycare mengingatkan kita bahwa persoalan anak tidak bisa diselesaikan secara parsial. Ia berkaitan erat dengan bagaimana sistem mengatur peran keluarga, ekonomi, dan nilai-nilai kehidupan.
Selama pengasuhan masih diposisikan sebagai urusan yang bisa dialihkan sepenuhnya kepada mekanisme pasar, maka risiko-risiko serupa akan terus berulang.
Oleh karenanya, sudah sepatutnya melihat persoalan ini secara lebih jernih: bahwa menjaga anak bukan hanya soal pengawasan, tetapi soal mengembalikan peran, memperbaiki sistem, dan menempatkan keluarga sebagai pusat peradaban.
Karena dari sanalah masa depan dibentuk, bukan di ruang-ruang penitipan yang kering dari ikatan kasih sayang.
Oleh: Muhar
Tim Redaksi Tinta Media
![]()
Views: 9




