Krisis Adab Pelajar: Cermin Kegagalan Sistem Pendidikan Sekuler

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Peristiwa memprihatinkan kembali mencoreng dunia pendidikan. Sebuah video yang viral di media sosial menampilkan sejumlah siswa SMA 1 Purwakarta menunjukkan sikap tidak pantas terhadap guru di dalam kelas. Dalam rekaman tersebut, para siswa terlihat mengejek hingga melakukan gestur acungan jari tengah kepada pendidik yang seharusnya dihormati. Aksi itu menuai kecaman luas karena dinilai mencerminkan krisis etika di lingkungan sekolah. Menanggapi hal ini, Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengaku prihatin dan telah menerima laporan dari Dinas Pendidikan. Pihak sekolah menjatuhkan sanksi skorsing selama 19 hari, namun Dedi menyarankan hukuman berbasis tanggung jawab sosial, seperti membersihkan halaman dan toilet sekolah. Menurutnya, hukuman tersebut lebih efektif dalam menanamkan disiplin dan rasa hormat, dengan durasi yang disesuaikan dengan perkembangan siswa. “Prinsip dasar setiap hukuman harus memberikan manfaat dalam pembentukan karakter,” tegasnya, Sabtu (18/4/2026).

Pelecehan terhadap guru ini menunjukkan pola pendidikan dalam sistem sekularisme yang melahirkan krisis moral. Rendahnya adab dan rasa hormat siswa terjadi karena sistem pendidikan tidak menjadikan akidah sebagai fondasi. Demi konten media sosial, nilai penghormatan kepada guru diabaikan. Peristiwa ini sekaligus membuktikan lemahnya wibawa pendidik di hadapan peserta didik. Padahal, Profil Pelajar Pancasila kerap digaungkan. Namun, kasus ini menjadi tamparan bahwa program tersebut hanya bersifat formalitas dan gagal membentuk pelajar yang tangguh, berkualitas, serta berbudi pekerti luhur. Justru yang muncul adalah perilaku brutal, perundungan, pelecehan, dan tawuran yang marak di lingkungan pendidikan. Inilah konsekuensi penerapan sistem sekularisme di negeri yang mayoritas penduduknya Muslim, tetapi menjauh dari nilai-nilai Islam. Tidak mengherankan jika sistem ini mencetak generasi yang mengkhawatirkan.

Berbeda dengan Islam yang menjadikan akidah Islam sebagai landasan utama seluruh kurikulum dan sistem pendidikan. Tujuan pendidikan dalam Islam bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan membentuk kepribadian Islam pada setiap pelajar. Kepribadian Islam terwujud ketika pola pikir dan pola sikap seorang siswa senantiasa terikat dengan syariat. Untuk itu, negara memiliki peran sentral dan wajib dalam menjaga atmosfer pendidikan:

Pertama, negara berkewajiban menyaring secara ketat seluruh konten yang berpotensi merusak moral dan akidah generasi, baik dari media sosial, tontonan, maupun pergaulan. Sebab, lingkungan yang rusak akan membentuk pola pikir dan pola sikap yang rusak pula. Tayangan yang menormalisasi pelecehan, kekerasan, dan pembangkangan terhadap guru harus dicegah sejak hulu, bukan hanya ditindak di hilir.

Kedua, Islam memiliki sistem sanksi yang jelas, tegas, dan bersifat mendidik. Sanksi dalam Islam berfungsi sebagai jawabir, yaitu penebus dosa bagi pelaku di hadapan Allah Swt., sekaligus zawajir, yaitu pencegah bagi orang lain agar tidak melakukan perbuatan serupa. Dengan demikian, sanksi tidak hanya memberi efek jera yang nyata, tetapi juga adil dan proporsional sesuai kadar pelanggaran menurut syariat. Sistem ini menutup celah impunitas dan memastikan setiap pelanggaran memiliki konsekuensi yang mendidik.

Ketiga, Islam menempatkan guru pada posisi yang sangat mulia dan strategis. Guru bukan sekadar pengajar, melainkan penyampai ilmu, pembimbing spiritual, dan teladan akhlak bagi peserta didik. Oleh karena itu, negara wajib memberikan penghargaan tertinggi dan menjamin penghidupan yang layak bagi para guru, mencakup gaji, fasilitas, dan jaminan masa depan. Dengan kesejahteraan yang terjamin, wibawa guru akan terjaga secara alami di hadapan murid, dan profesi guru kembali menjadi cita-cita mulia. Para guru sejatinya melanjutkan tugas kenabian Rasulullah saw., yakni tazkiyatun nafs atau menyucikan jiwa, membimbing manusia menuju ketakwaan, dan menanamkan nilai-nilai moral Islam dalam seluruh aspek kehidupan.

Keempat, kurikulum berbasis akidah Islam akan melahirkan materi ajar yang mengaitkan setiap ilmu dengan keimanan. Pelajaran sains, sosial, dan teknologi diajarkan dalam kerangka tauhid sehingga siswa memahami bahwa seluruh ilmu berasal dari Allah dan harus digunakan untuk kemaslahatan umat.

Dengan empat pilar ini—kurikulum berakidah, penyaringan konten oleh negara, sanksi yang mendidik, dan pemuliaan guru—penghormatan kepada guru dan pembentukan adab siswa dapat terwujud secara sistemis, bukan parsial. Wallahu a’lam bish-shawab.

Oleh: Rukmini
Ibu Rumah Tangga

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA