Siyasah Institute: Penguatan Dolar AS Sangat Berdampak bagi Rakyat Kecil

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Direktur Siyasah Institute Iwan Januar membeberkan bahwa penguatan dolar Amerika Serikat (AS) sangat berdampak bagi rakyat kecil. Hal itu karena utang luar negeri Indonesia yang membebani rakyat juga harus di bayar dengan dolar AS.

“Jadi kata siapa bahwa kenaikan dolar itu gak berdampak buat kita rakyat kecil? Ini berdampak banget. Dan juga kita melihat penyebabnya adalah bahwa hari ini kita mengandalkan utang luar negeri yang semua dibayar dengan dolar,” ujarnya dalam video bertajuk Dolar Meroket, Dapur Rakyat Terhimpit, Sabtu (15/5/2026) di akun Tiktok @iwanjanuarcom.

Sebab terkait utang Indonesia yang hampir tembus 10 ribu triliun rupiah (termasuk utang luar negeri), karena dibayar dengan dolar maka ungkap Iwan otomatis pembayarannya pun dalam APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) kembali bertambah.

“Hampir 37 persen APBN Indonesia habis dipakai untuk membayar utang luar negeri bunga dengan pokok cicilannya,” bebernya.

Dan ini berarti bahwa anggaran belanja negara yang semestinya untuk kepentingan rakyat seperti pembangunan, lanjut Iwan, itu pun akan berkurang. Karena sebagian besar harus dibayar untuk membayar bunga utang dan pokok utangnya yang semuanya dengan menggunakan kurs mata uang dolar.

“Dan juga kita melihat penyebabnya adalah bahwa hari ini kita mengandalkan utang luar negeri yang semua dibayar dengan dolar,” jelasnya.

Selain itu, bebernya lagi, di Indonesia ini juga banyak mengandalkan impor yang mesti dibayar dengan dolar.

“Dan kita hanya bergantung kepada mata uang dolar. Dan semua bukan kebetulan tapi ada desain yang dibuat oleh negara-negara besar untuk terus melemahkan negara-negara dunia ketiga, negara berkembang, agar mereka terperangkap dalam jerat utang dan terperangkap dengan permainan dolar yang dibuat oleh Amerika Serikat,” ungkapnya.

Berpikir

Maka dari itu, Iwan menilai, mestinya sebagai bangsa yang besar, apalagi kaum Muslimin yang ada di 50 negara dengan jumlah umatnya yang hampir 2 miliar, harus berpikir langkah apa yang mesti dilakukan.

“Pertama adalah membangun kemandirian, bahwa negeri-negeri kaum Muslimin, termasuk Indonesia, harus menjadi negara yang mandiri,” gugahnya.

Dengan sumber daya alam (SDA) yang luar biasa melimpah, lanjutnya, mestinya kaum Muslimin bisa mandiri dan tidak mengandalkan impor dari luar negeri.

“Dan yang kedua kita harus punya mata uang yang kuat. Dan sebetulnya Islam sudah mengajarkan dan sudah memiliki sistem mata uang yang kuat yaitu adalah dinar dan dirham,” ujarnya.

Menurutnya, mata uang yang berbasis emas dan perak yang nilainya relatif stabil, kuat dan tidak bisa dipermainkan oleh bangsa lain.

“Kalau kita kaum Muslimin, kembali kepada ekonomi yang mandiri yang dibangun dengan syariat Islam menggunakan mata uang dinar dan dirham, maka kita akan menjadi sebuah negara yang kuat dan umat Islam menjadi umat yang kuat pula,” pungkasnya.[] Setiyawan Dwi

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA