Kiai Labib Jelaskan Tafsir Surah Fussilat ayat 30

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – KH Rokhmat S. Labib menjelaskan tafsir Surah Fussilat ayat 30 dalam Tafsir Al-Wa’ie bertajuk “Istiqamah: Jalan Menuju Ketenangan dan Surga” (QS. Fussilat ayat 30) di kanal YouTube Rokhmat S. Labib, Rabu (6/5/2026).

Kiai Labib mengawali dengan membacakan Surah Fussilat ayat 30 yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami ialah Allah,’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqamah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan berkata), ‘Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.’”

Ia melanjutkan bahwa orang-orang yang mengatakan “Tuhan kami ialah Allah” berarti telah mengakui keimanan tersebut.

“Semua itu adalah ikrar atau pengakuan bahwa orang tersebut meyakini Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Jadi ikrar atas satu keimanan,” ujarnya.

Menurut Kiai Labib, iman sejatinya berada di dalam hati karena iman merupakan tasdiqul jazim atau keyakinan yang pasti.

Ia kemudian menjelaskan dua macam orang beriman. Pertama, orang yang hanya beriman di dalam hati saja, tetapi belum disebut sebagai Muslim karena belum mengucapkan syahadat. Ketika seseorang mengucapkan syahadat, yakni Asyhadu alla ilaha illallah wa asyhadu anna muhammadar rasulullah, maka itu menjadi deklarasi atau ikrar atas keimanan sehingga ia disebut Muslim.

Kedua, seseorang tidak cukup hanya meyakini dalam hati, tetapi juga mengungkapkannya dalam bentuk pernyataan atau perkataan. Menurutnya, seorang Muslim adalah orang yang hatinya beriman dan keyakinannya diungkapkan melalui lisan. Dengan demikian, pengakuan dalam hati dan pengucapan melalui lisan merupakan ciri orang-orang mukmin yang sebenarnya.

Lebih lanjut, Kiai Labib mengatakan bahwa penjelasan tersebut juga disampaikan para ulama.

“Ada pernyataan atau penjelasan dari Sayyidina Abu Bakar maknanya adalah mereka tidak menyekutukan Allah dengan apapun ketika istiqomah dalam keimanan itu berarti dia tidak mengimani, tidak meyakini, tidak menyekutukan Allah berarti dia betul-betul keimanan yang tulus, keimanan yang benar. Sayyidina Umar mengatakan istiqomah pada jalan ketaatan, atau Usman mengatakan pemahaman mereka mengikhlaskan amal kepada Allah, atau Sayyidina Ali mengatakan kemudian mereka mengerjakan berbagai macam fardu-fardu,” ulasnya.

*Tiga Perkataan Malaikat*

Kiai Labib lantas menyebutkan ada tiga perkataan yang disampaikan malaikat kepada orang-orang beriman yang istiqomah.

Pertama, agar mereka tidak takut. Kedua, agar mereka tidak bersedih hati. Ketiga, kabar gembira berupa surga yang telah dijanjikan kepada mereka.

Ia kemudian menjelaskan kapan malaikat menyampaikan perkataan tersebut kepada orang-orang beriman dan istiqomah.

“Nah inilah kemudian para ulama mengatakan kalau terhadap kapan itu minimal tiga kejadian,” ujarnya.

Pertama, saat kematian atau ketika nyawa dicabut. Kedua, ketika berada di alam kubur saat malaikat memberikan pertanyaan sekaligus kalimat-kalimat yang menenangkan mereka.

“Kalau ada orang Muslim yang taat pada syariat lalu kemudian sebelum mati dia murtad maka tidak mendapatkan ucapan seperti itu dari malaikat,” sambungnya.

Ketiga, ketika manusia dibangkitkan kembali. maka itu,,Kiai Labib pun menegaskan bahwa istiqomah harus dijaga hingga akhir hayat.

“Oleh karena itu berarti ketika disebut lalu mereka istiqomah maka istiqomah itu harus sampai mati sampai dicabut nyawanya,” pungkasnya.

[] Muhammad Nur

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA