Jurnalis: Ketika Muslim India Dizaimi, Mengapa Dunia Islam Diam?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Di tengah menguatnya hubungan diplomatik Indonesia–India, Jurnalis Joko Prastyo (Om Joy) mempertanyakan sebuah pertanyaan yang kerap luput dari sorotan: bagaimana kondisi umat Islam di India yang dalam beberapa tahun terakhir kerap disorot berbagai laporan internasional?

“Ketika Muslim India dizalimi, mengapa Dunia Islam diam?” tuturnya kepada Tinta Media, pada Kamis (18/6/2026).

Pertanyaan tersebut, menurutnya, menjadi semakin relevan seiring rencana kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada pertengahan 2026.

“Agenda kunjungan tersebut sendiri dibahas dalam pertemuan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya dengan Duta Besar India untuk Indonesia Shri Sandeep Chakravorty di Jakarta, Selasa (16/6/2026),” ungkapnya.

Terkait kezaliman di India, Om Joy lanjut membeberkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir berbagai laporan lembaga internasional seperti Human Rights Watch dan Amnesty International menyoroti tekanan sosial dan politik terhadap komunitas Muslim di India.

“Kerusuhan di Delhi pada tahun 2020 menelan korban jiwa dan berdampak signifikan terhadap komunitas Muslim. Sementara itu, pencabutan status otonomi Jammu & Kashmir pada 2019 diikuti kebijakan keamanan ketat yang hingga kini masih memicu ketegangan sosial dan politik,” bebernya.

Di luar aspek politik, lanjutnya, ketegangan juga menyentuh ruang ibadah dan situs sejarah Islam yang merupakan bagian dari warisan panjang peradaban Muslim di anak benua India, terutama pada masa Kesultanan Delhi (1206–1526) dan pemerintahan Mughal di India (1526–1857) yang merupakan bagian dari sejarah panjang pemerintahan Muslim di anak benua India.

“Masjid Babri di Ayodhya merupakan bangunan bersejarah yang telah berdiri berabad-abad sebelum dihancurkan pada tahun 1992 oleh massa Hindu nasionalis, yang kemudian memicu kekerasan luas di berbagai wilayah India,” bebernya lagi.

Sejumlah situs lain, sambung Om Joy, juga masih menjadi sengketa hukum. Gyanvapi di Varanasi adalah kompleks ibadah yang saat ini masih dalam proses pengadilan terkait status kepemilikan dan sejarah bangunannya, yang dikaitkan dengan periode pemerintahan Mughal.

“Shahi Idgah di Mathura juga merupakan situs bersejarah dari periode yang sama dan hingga kini masih dipersengketakan terkait status lahan serta fungsi ruang ibadahnya,” tambahnya.

Rangkaian peristiwa ini, menurut Om Joy, menunjukkan persoalan yang dihadapi Muslim India tidak hanya bersifat sosial-politik. “Tetapi juga menyentuh warisan sejarah, ruang ibadah, dan identitas keagamaan,” tandasnya.

Om Joy lantas mengingatkan bahwa Islam memandang umat Islam sebagai satu tubuh. Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasakan dampaknya.

“Karena itu, penderitaan umat semestinya melahirkan tanggung jawab kolektif, bukan sekadar simpati,” gugahnya.

Maka dalam posisi seperti ini, kata Om Joy, muncul pertanyaan mendasar: bagaimana sikap dunia Islam terhadap kondisi tersebut?

Setiap sikap, tegasnya, akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Maka ia berpesan, umat Islam tidak boleh berhenti pada sikap diam, apatis, atau sekadar simpati. Kesadaran harus terus dibangun, kepedulian harus disuarakan, dan keberpihakan terhadap kaum Muslim yang dizalimi harus dinyatakan sesuai kemampuan masing-masing.

“Sebab diam di hadapan kezaliman bukanlah sikap netral, tetapi bagian dari pilihan yang juga akan dihisab di hadapan Allah SWT,” pungkasnya.[] Langgeng Hidayat

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA