Catatan KTT G20, Di Balik Green Screen Ada Ratusan Ribu Orang Miskin

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Publik dunia tersentak saat KTT G20 di New
Delhi ternyata pemerintah New Delhi menyembunyikan kemiskinan yang dialami oleh
ratusan ribu orang di ibukota negaranya. Pemerintah India menutup kawasan kumuh
atau kawasan miskin itu dengan green screen atau penutup berwarna
hijau seolah-olah ini adalah satu sambutan kepada delegasi yang datang. Aktivis
Muslimah, Iffah Ainur Rochmah memberikan catatan, di balik green screen
ternyata ada ratusan ribu orang miskin.

“Di balik green screen itu ada ratusan ribu orang
yang sedang mengalami kemiskinan dan bertolak belakang dengan apa yang
dibanggakan oleh negaranya sebagai negara dengan ekonomi terkuat di wilayah
Selatan,” ungkapnya, dalam Muslimah Talk: Di Balik Layar Hijau KTT G20 India
Tersembunyi Puluhan Ribu Warga Miskin, di kanal Youtube Muslimah Media Center,
Sabtu (7/10/2023).

Ia menambahkan, yang menyembunyikan borok hasil pembangunan
kapitalistik bukan hanya India.

“Di Amerika, sudah terekspos ke publik bagaimana orang-orang
miskin, tunawisma, orang-orang yang terlantar karena tidak mendapatkan akses
sumber daya ekonomi, ternyata dibiarkan. Dan jumlah mereka bukan ratusan ribu
lagi, tapi jutaan hingga belasan juta,” bebernya.

Bahkan, lanjutnya, di kawasan paling elit untuk pengembangan
teknologi di sekitar Silicon Valley Amerika, itu juga ada kawasan-kawasan kumuh
yang sudah sering terekspos, padahal sangat dekat dengan pusat masuknya uang
untuk menambah jumlah hitungan pemasukan negara.

“Demikian pun di Cina, beberapa tahun lalu Cina pernah kedapatan
memindahkan sekitar 2 juta penduduk dari kawasan kumuh ke tempat tertentu yang
pemindahan itu tidak bermakna mereka lebih sejahtera,” terangnya.

Tidak Manusiawi

Menurut Iffah, kepemimpinan ideologi kapitalisme termasuk
dalam sistem ekonominya tidak manusiawi. “Semua itu karena manusia tidak
memiliki kemampuan untuk menghasilkan sistem yang adil,” kritiknya.

Bicara soal ekonomi, sambungnya, manusia punya naluri untuk
mengembangkan kekayaan, naluri untuk memperbanyak harta yang dimiliki.

“Kalau dikembalikan kepada apa yang dipikirkan oleh manusia
sebagai sistem terbaik yang sanggup mereka rancang, maka tetap bahwa sistem
ekonomi yang dibuat oleh manusia itu akan eksploitatif yakni akan ada
kecenderungan untuk mengeksploitasi atau mengambil keuntungan sebesar-besarnya
dengan pengorbanan sekecil-kecilnya, dari sumber daya alam maupun sumber daya
ekonomi,” bebernya.

Karena itu, simpulnya, sistem ekonomi kapitalistik ataupun
sistem ekonomi buatan manusia yang lain cenderung akan eksploitatif.

“Bahkan di dunia barat itu kita kenal ada
prinsip homohominilupus, yaitu prinsip manusia yang satu bisa memakan
manusia yang lain asalkan punya kemampuan,” imbuhnya.

Dalam sistem ekonomi seperti ini, ucapnya, akan terus
terjadi ketidakstabilan, akan ada konflik, akan ada penindasan dan perlawanan
dari pihak yang tertindas. Dan ini memunculkan ketidaktenangan pada semua
pihak.

“Ketika seseorang menikmati keuntungan dari hasil membodohi,
mengeksploitasi, ataupun memanipulasi kemaslahatan orang lain, pasti akan ada
rasa tidak tenang,” terangnya.  

Demikian juga pada level negara, ulasnya, boleh jadi
negara-negara yang disebut sebagai negara dengan ekonomi terkuat tadi
mendapatkan banyak sekali keuntungan dari aktivitas ekonomi yang dibolehkan
atau diizinkan oleh sistem kapitalisme.

“Tetapi apa yang dilakukan oleh sistem kapitalisme ini
mengeksploitasi negara lain, mengeksploitasi manusia yang lain. Perdagangan
bebas membuat ada persaingan tidak sehat. Perampokan sumber daya alam atas nama
investasi juga terus terjadi,” urainya.

Maka negara-negara kapitalistik ini,
jelasnya,  bukan hanya akan menerima kemarahan atau kebencian dari
negara-negara yang menjadi korban kerakusan dan eksploitasi sistem ekonominya,
tapi juga akan mendapatkan kritik dan protes dari rakyatnya sendiri. “Pada titik
tertentu rakyat akan menyadari mereka hidup dan mendapatkan keuntungan dari
hasil perampokan yang dilakukan oleh negaranya di atas prinsip-prinsip
kapitalistik,” tambahnya.

Menurutnya, negara yang menggunakan sistem ekonomi
kapitalisme akan terus diliputi oleh kondisi ketidakstabilan sosial,
ketidakstabilan politik, dan bahkan akan terus mendapatkan guncangan dari
bangsa-bangsa ataupun negara-negara lain yang menjadi korbannya.

Sistem Islam

Dalam pandangan Iffah, sistem terbaik yang bisa mengayomi, menyejahterakan
dan membuat dunia stabil tidak lain adalah sistem Islam. Dari sistem Islam,
ujarnya, lahir sistem ekonomi Islam yang menjelaskan bahwa Allah Taala
memerintahkan kepada negara untuk memberlakukan prinsip-prinsip ekonomi yang
ditetapkan oleh syariat.

“Negara harus memiliki regulasi yang memastikan semua pihak
baik individu, organisasi ataupun kelompok usaha, perusahaan-perusahaan, baik
perusahaan dalam negeri maupun perusahaan asing atau aktivitas ekonomi yang
dilakukan oleh negara-negara lain, semuanya harus diarahkan untuk tunduk kepada
sistem ekonomi Islam,” terangnya.

Pemberlakuan sistem ekonomi Islam, lanjutnya, tidak hanya
diberlakukan oleh Khilafah tapi juga akan menjadi role model yang dicontoh oleh
negara-negara lain di dunia.

“Negara-negara lain di dunia akan menyesuaikan aktivitas
ekonominya ketika berhubungan dengan negara Khilafah tadi dengan prinsip-prinsip
yang diambil oleh kaum muslimin yang ditetapkan oleh syariat,” jelasnya.

Dalam pandangan Iffah, pemberlakuan sistem ekonomi Islam bukan
hanya menyejahterakan, tetapi akan semakin memperbesar pemasukan negara,
ketersediaan lapangan kerja, terwujud keadilan ekonomi yang akan dinikmati oleh
muslim maupun nonmuslim.

“Karena itu, kita membutuhkan hadirnya kembali sistem
ekonomi Islam. Sistem ekonomi Islam tidak akan mengedepankan gengsi dengan
ukuran materialistik, tetapi akan mampu memberikan pelayanan, memastikan
terealisirnya kesejahteraan bagi seluruh individu rakyat tanpa kecuali,”
bangganya.

Iffah berharap, kerinduan hadirnya sistem Islam harus
ditindaklanjuti dengan ikhtiar melakukan perubahan.

“Memperkenalkan kembali sistem ekonomi Islam dan terus
memupuk kesadaran dan keinginan untuk kembali terwujudnya sistem politik
Islam,” pungkasnya. [] Irianti Aminatun

               

 

Loading

Views: 5

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA