Tinta Media – Pemerintah menetapkan 1 Muharam 1448 H jatuh pada hari Selasa, 16 Juni 2026, sebagai hari libur nasional. Sementara itu, PBNU menetapkan 1 Muharam 1448 H jatuh pada hari Rabu, 17 Juni 2026, karena hasil pemantauan hilal tidak terlihat di seluruh Indonesia sehingga bulan Zulhijah digenapkan. Perayaan Tahun Baru Islam 1448 H di berbagai daerah di Indonesia pun dimeriahkan dengan beragam tradisi (detik.com, 16/6/2026).
Muharam merupakan satu dari empat bulan suci bersama Zulkaidah, Zulhijah, dan Rajab. Muharam juga disebut Syahrullah (Bulan Allah). Penyandaran nama bulan ini secara langsung kepada Allah Swt. menunjukkan betapa agung dan istimewanya Muharam. Di bulan ini pula terdapat peristiwa Asyura, yaitu momen bersejarah ketika Allah Swt. menyelamatkan Nabi Musa a.s. dan Bani Israil dari kejaran Fir’aun.
Di antara amalan sunah yang dianjurkan pada bulan Muharam adalah berpuasa. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa puasa yang paling utama setelah Ramadan adalah puasa pada bulan Allah, yaitu Muharam. Puasa Tasu’a dan Asyura sangat dianjurkan, yaitu pada tanggal 9 Muharam dan 10 Muharam, sebagai bentuk mengikuti sunah Rasulullah ﷺ serta mengharap penghapusan dosa setahun yang telah lalu.
Pergantian tahun yang diawali bulan Muharam menandai awal Tahun Baru Hijriah. Momentum ini sering dijadikan waktu untuk bermuhasabah, mengevaluasi diri, memperbarui niat, dan meningkatkan amal saleh agar menjadi pribadi yang lebih baik pada tahun yang akan datang. Hijrah secara total (kafah) bukan hanya tampak pada penampilan (outfit), tetapi juga pada cara berpikir dan berperilaku yang sesuai dengan ajaran Rasulullah ﷺ serta menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya pedoman hidup.
Muharam merupakan momentum perubahan dan kebangkitan umat untuk bersatu, berkomitmen, serta bersungguh-sungguh dalam menjalankan dan menegakkan kehidupan Islam secara kafah. Tujuannya adalah mengembalikan kehidupan Islam di tengah umat. Karena itu, Muharam menjadi momen yang tepat untuk menyatukan kembali umat yang selama ini terpecah, baik di dalam maupun di luar negeri, akibat semakin jauhnya kehidupan dari nilai-nilai Islam.
Bulan Muharam juga mengingatkan umat akan perjuangan Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Mereka tidak hanya mengorbankan waktu, tenaga, dan harta, tetapi juga darah dan jiwa demi tegaknya Islam. Rasulullah ﷺ tidak pernah mundur meski hanya selangkah karena kemuliaan Islam lebih berharga daripada apa pun, sekalipun nyawa menjadi taruhannya.
Namun, umat Islam saat ini terpecah belah oleh sekat-sekat nasionalisme. Umat bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya, tanpa perisai (junnah) dan tanpa pelindung. Berbagai persoalan datang bertubi-tubi menimpa negeri ini akibat penerapan sistem kapitalisme, yaitu sistem yang memisahkan agama dari kehidupan. Sistem buatan manusia yang diadopsi dari Barat ini dinilai telah melahirkan berbagai kerusakan di berbagai aspek kehidupan. Penerapan hukum dan berbagai kebijakan yang tidak adil pun terus menekan dan menyulitkan kehidupan rakyat.
Kekayaan alam dirampas oleh para elite politik dan oligarki. Sementara itu, rakyat harus menghadapi mahalnya biaya pendidikan, mahalnya biaya kesehatan, serta meningkatnya kebutuhan hidup dari hari ke hari. Belum lagi kewajiban membayar pajak yang tinggi. Akibatnya, kemiskinan struktural terus menimpa masyarakat. Di sisi lain, berbagai persoalan seperti judi daring, perundungan, kejahatan seksual, geng motor, perdagangan bayi, kemaksiatan, dan berbagai bentuk kejahatan lainnya terus bermunculan sebagai dampak dari penerapan sistem yang dinilai keliru.
Di luar sana, Gaza terus berdarah demi memperoleh kebebasan dan kemerdekaan. Namun, negara-negara Muslim dinilai hanya memberikan kecaman tanpa menghadirkan solusi yang mampu mewujudkan kemerdekaan tersebut. Diskriminasi yang dialami kaum Muslim di berbagai belahan dunia menjadi bukti bahwa sistem yang berlaku saat ini dianggap tidak layak dipertahankan. Karena itu, umat Islam di seluruh dunia diajak menjadikan momentum Muharam sebagai titik perubahan dan kebangkitan menuju kehidupan yang lebih baik sesuai syariat Islam.
Oleh karena itu, Muharam bukan sekadar momentum hijrah dalam bentuk perubahan penampilan atau perpindahan tempat, melainkan momentum perubahan dan kebangkitan umat melalui perubahan cara berpikir serta cara memandang sistem kehidupan saat ini. Dengan demikian, akan tumbuh keinginan untuk kembali kepada jalan yang telah ditentukan Allah Swt., yaitu menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup dengan menerapkan Islam secara kafah. Dengan cara itulah umat diyakini akan terjaga dari berbagai kemaksiatan. Lebih dari itu, sekat-sekat kebangsaan yang selama ini membelenggu umat diharapkan dapat runtuh sehingga umat dapat merasakan kebebasan, kedamaian, dan kesejahteraan. Karena itu, umat harus tetap gigih dan pantang menyerah dalam memperjuangkan kebangkitan Islam. Sebab, kemenangan merupakan janji Allah Swt., sehingga cepat atau lambat kemuliaan Islam diyakini akan kembali di bawah naungan Khilafah Islamiah. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Ermawati
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 3








