Gen Z Berani Bicara, Kebangkitan Umat di Depan Mata

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Belakangan viral aksi demonstrasi yang dilakukan oleh Gen Z melalui media sosial, meme, poster kreatif hingga estetika visual. Mereka memiliki mekanisme tersendiri yang berbeda dari generasi sebelumnya dalam menyuarakan aspirasi, baik menyoroti kasus korupsi, pengangguran, dan kegagalan pemerintah dalam menghadirkan masa depan bagi generasi muda. Fenomena ini menjadi bukti simbol kebangkitan generasi muda yang menuntut perubahan nyata.

Menurut Anastasia Satriyo, M.Psi, selaku Psikolog anak dan remaja, bahwa kepribadian Gen Z cukup berbeda dengan generasi sebelumnya dalam merespon tekanan. Salah satunya disebabkan Gen Z memiliki mekanisme otak yang lebih maju dibandingkan generasi sebelumnya, mulai dari Boomer, Gen X, hingga Milenial. Selain itu memiliki mekanisme “face” dalam menghadapi ancaman yaitu respons seseorang untuk membela diri dengan cara sehat, berani terlibat, dan menyuarakan pendapat, menetapkan batas dengan jelas serta tetap terhubung dengan orang lain secara emosional. (Kompas.com, 05/09/2025)

Lain halnya pernyataan Psikolog Universitas Indonesia, Prof. Rose Mini Agoes Salim, saat menyoroti semakin banyaknya jumlah anak usia di bawah umur mengikuti aksi demonstrasi. Menurutnya unjuk rasa bisa menjadi ajang belajar menyampaikan aspirasi. Sayangnya, remaja rentan terprovokasi karena mereka belum mampu mengontrol emosinya. Apalagi, jika berada di suasana massa yang penuh gejolak tekanan sehingga bisa lepas kendali ke hal negatif, mengingat kondisi demo bercampur dengan banyak orang yang usianya berbeda.

Alih-alih begitu responsifnya Gen Z mengikuti aksi, sebaliknya beredar sebuah video perbuatan tak etis yang dilakukan oleh dua orang siswa SMA Taruna Bakti, Bandung, yang menyepelekan aksi demo yang terjadi di beberapa tempat termasuk di Jakarta serta sudah menewaskan seorang driver ojol. Pihak sekolah turut meresponsnya dan memberikan sanksi tegas dengan melayangkan surat pernyataan pemberhentian siswa tersebut yang berinisial SJA sedangkan DS sejak 14 Juli 2025 dinyatakan sudah bukan siswa Taruna Bakti lagi.

Seperti kita ketahui, tiap generasi pasti memiliki kelebihan dan kekurangan serta pemahaman terhadap sesuatu. Ini sangat penting diketahui untuk memfokuskan ke arah mana potensi tersebut akan digunakan dengan optimal. Seharusnya negara memandang potensi ini sebagai aset berharga, bukan ancaman. Sebab, mental seperti ini dibutuhkan dalam sebuah perubahan.

Gen Z dianggap generasi beruntung karena makin gemilang berkat berkembangnya kemajuan teknologi seperti AI. Berkat AI maka peluang besar Gen Z untuk lebih mengembangkan idenya semakin lebih cepat. Namun, sisi negatifnya tak menutup kemungkinan ada dampak dan ancaman nyata dari kecerdasan buatan ini yang mampu menghapus beberapa jenis pekerjaan secara permanen.

Di balik potensi gemilang tersebut, Gen Z diakui mempunyai keunikan dalam berekspresi. Sayangnya, di sistem kapitalisme potensi tersebut digunakan untuk memperjuangkan kemajuan seputar manfaat dan materi belaka tanpa ada tuntunan hidup yang jelas. Apalagi lingkungan sekitar yang tidak mendukung, ditambah aturan yang tak mampu mengarahkan ke mana tujuan hidupnya. Kapitalisme menjauhkan generasi dari agama. Mereka semakin bebas dalam berpendapat, berperilaku, serta hal lainnya yang menyimpang.

Pengklasifikasian karakteristik Gen Z berdasarkan ilmu psikologi akan difokuskan agar sesuai pola pikir kapitalisme dalam menghilangkan kesadaran politik dan diarahkan pada cara mempertahankan nilai dan identitas mereka sekaligus meminimalkan eskalasi konflik. Sebenarnya ini keliru karena sejak awal penciptaan manusia sudah memiliki karakteristik naluri baqa dalam menolak kezaliman dan berusaha mencari solusi untuk menghilangkan kezaliman tersebut.

Berbeda halnya dalam sistem Islam, Gen Z akan dibekali dan diarahkan dengan pemahaman agama yang jelas agar tujuan hidupnya tak sekadar bertahan hidup, tetapi sebagai penerus peradaban. Penguatan pembekalan agama untuk Gen Z agar kelak mereka mampu mencari solusi terbaik dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan, memperjuangkan, dan menegakkan yang hak, menolak kezaliman serta menyerukan keadilan.

Islam memandang fitrah manusia yang memiliki khosiatul-insan agar memperoleh pemenuhan melalui tuntunan syarak, bukan tuntunan psikologi. Islam juga mengatur muhasabah lil hukkam melalui mekanisme yang serupa semenjak keberadaan Rasulullah saw., seperti dalam firman Allah yang berbunyi, ”Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS an-Nahl: 125)

Rasulullah saw. bersabda, ”Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seseorang yang bangkit melawan penguasa yang zalim, ia memerintahkan (kepada kebaikan) dan melarang (dari kemungkaran), lalu penguasa itu membunuhnya.” (HR Ath Thabrani dalam Al Awsath No. 4079).

Dari hadis tersebut diketahui bahwa pemimpin para syuhada ada dua orang yaitu paman Rasulullah saw., Hamzah bin Abdul Muthalib dan mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim ketika beramar makruf nahi mungkar.

Hal tersebut membuktikan potensi pemuda sejak masa Rasulullah saw. patut dibanggakan. Generasi yang memiliki kepribadian Islam akan semakin lantang dalam melaksanakan dakwah, beramar makruf nahi mungkar, dan tidak akan terkecoh arus deras kapitalisme. Bangkitlah generasi muda untuk menjadi garda terdepan menolak kezaliman dan tidak tinggal diam melihat kerusakan dan kesewenangan demi tegaknya kemuliaan Islam! Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Umi Kulsum

Sahabat Tinta Media

Views: 25

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA