Antara Kemajuan Teknologi dan Krisis Kehidupan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Di era digital, Gen Z hidup dengan berbagai kemudahan. Mereka memiliki akses komunikasi dan sumber ilmu yang sangat luas sehingga dapat belajar di mana saja dan kapan saja hanya melalui genggaman tangan. Namun, di balik kemudahan tersebut, Gen Z justru menghadapi tekanan yang tidak ringan dari berbagai sisi, mulai dari tuntutan sosial, banjir informasi, hingga budaya perbandingan yang memicu tingginya tingkat kecemasan dan gangguan kesehatan mental.

Berbagai survei menyebutkan bahwa Gen Z di Indonesia merupakan generasi yang paling banyak mengalami kecemasan dan gangguan mental. Mereka dilaporkan mengalami tingkat kecemasan, stres, dan depresi yang lebih tinggi dibandingkan generasi sebelumnya. Berdasarkan hasil riset, demografi ini mendominasi populasi dengan proporsi 25% hingga 27%. Tingginya tekanan sosial di dunia digital, ketidakpastian masa depan, dan persoalan finansial menjadi faktor utama yang membuat Gen Z rentan mengalami gangguan mental. Di tengah himpitan media sosial, Gen Z juga dihadapkan pada kekhawatiran akan biaya hidup dan pendidikan. Kondisi ini mendorong banyak dari mereka menjalani polyworking demi mencapai stabilitas finansial dan memenuhi kebutuhan hidup.

Fenomena ini terjadi di berbagai belahan dunia. Ketidakpastian karier dan masa depan membuat Gen Z bersikap lebih skeptis. Berdasarkan kajian Business Insider, Gen Z mengalami krisis kepercayaan yang signifikan terhadap otoritas. Sebanyak 66% Gen Z membutuhkan bukti faktual secara langsung sebelum mengambil langkah atau memutuskan sesuatu. Dalam bidang politik, misalnya, mereka mulai menolak narasi politik dan janji-janji kampanye serta menuntut rekam jejak dan bukti nyata. Tidak hanya itu, Gen Z juga enggan menerima otoritas agama secara membabi buta. Pergeseran nilai antargenerasi menunjukkan adanya penurunan praktik keagamaan, bukan karena meninggalkan iman, melainkan karena mereka menolak menerima otoritas dan dogma keagamaan tanpa nalar maupun bukti.

Sikap skeptis ini dapat memicu gelombang resistensi yang diprediksi menjadi titik balik bagi masa depan generasi dan struktur sosial, seperti penolakan terhadap konsumerisme berlebihan di media sosial, cancel culture finansial, perlawanan terhadap budaya hustle culture warisan generasi sebelumnya, serta penolakan terhadap eksploitasi kerja dengan memilih bekerja sesuai porsi demi menjaga kesehatan mental. Selain itu, Gen Z juga mampu menggalang massa dan membentuk opini tanpa bergantung pada figur politik formal. Mereka mengorganisasikan berbagai gerakan sosial secara mandiri melalui platform digital untuk memperjuangkan keadilan.

Gen Z berupaya menciptakan perubahan yang mampu meruntuhkan monopoli informasi sehingga kendali narasi tidak lagi sepenuhnya berada di tangan penguasa atau pemerintah. Informasi untuk mengungkapkan kebenaran dapat divalidasi bersama oleh komunitas publik. Selain itu, mereka berusaha menciptakan standar baru akuntabilitas korporasi serta mendefinisikan ulang makna kekuasaan. Orientasi hidup bergeser dari akumulasi kekayaan dan status jabatan menuju keseimbangan hidup, dampak sosial, dan keaslian diri. Perbedaan cara pandang antara Gen Z dan pemerintah ini berpotensi memicu perpecahan.

Krisis multidimensi juga menjadi salah satu faktor yang memicu kecemasan Gen Z terhadap masa depan mereka. Potensi generasi ini dilemahkan oleh berbagai hal yang merusak jati diri. Dalam peradaban sekuler kapitalistik, Gen Z terjerumus dalam arus tren modern serta paham kebebasan individu yang menjadikan nilai seseorang diukur dari produktivitas kerja dan kesuksesan materi semata. Gen Z dipisahkan dari nilai-nilai agama sehingga kehilangan kompas moral dan spiritual yang kuat. Media sosial menjadi penentu standar kebahagiaan, mulai dari kepemilikan barang, gaya hidup hedonis, hingga perilaku berutang demi memenuhi tuntutan gaya hidup. Peradaban sekuler kapitalistik juga dinilai telah memudarkan kepedulian sosial karena lebih menekankan validasi diri dan kompetisi pribadi. Berbagai tekanan yang kompetitif tersebut turut berkontribusi terhadap meningkatnya persoalan kesehatan mental pada generasi saat ini.

*Ke Mana Peran Negara terhadap Gen Z Saat Ini?*

Abainya riayah negara terhadap Gen Z telah menciptakan lingkungan yang membuat mereka bukan hanya kehilangan arah, tetapi juga terus-menerus menerima stigma negatif dari generasi sebelumnya. Gen Z sering dianggap lemah, manja, bahkan dijuluki generasi stroberi. Pandangan ini cenderung melihat pemuda hanya sebagai komoditas ekonomi atau bahkan sebagai beban sosial. Padahal, Gen Z bukanlah generasi stroberi, melainkan generasi yang menghadapi tekanan mental yang besar dan sering kali tidak didengarkan suaranya.

Kondisi kecemasan dan krisis yang dialami Gen Z bahkan dijadikan peluang perubahan yang menguntungkan para pemegang modal. Gen Z diposisikan sebagai mesin penggerak utama untuk merombak tatanan lama. Di bidang kesehatan, meningkatnya kecemasan dan gangguan mental menciptakan ekosistem layanan psikologis, ruang aman untuk bercerita, serta berbagai sektor lain yang berkembang menjadi peluang keuntungan.

Negara seharusnya menjadi pelindung dan pelayan umat yang mampu mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Dalam sistem pemerintahan Islam, negara wajib menjamin terpenuhinya kebutuhan asasi setiap individu tanpa diskriminasi. Negara menghilangkan kecemasan ekonomi yang menjadi faktor utama kecemasan Gen Z terhadap tingginya biaya hidup, pendidikan, kesehatan, serta menjamin keamanan jiwa dan harta. Negara juga berfungsi sebagai pelayan yang membuka ruang evaluasi dan koreksi dari rakyat sehingga sikap kritis Gen Z dapat tersalurkan secara konstitusional demi perbaikan kebijakan. Islam diyakini memiliki solusi atas krisis yang melanda dunia saat ini. Penerapan Islam diyakini mampu menghadirkan rahmatan lil-‘alamin bagi manusia.

Negara juga harus menyadarkan pemuda untuk mengemban mabda Islam serta peduli terhadap kondisi umat agar masa depan yang gemilang bukan sekadar angan-angan. Pemuda harus dibentuk melalui integrasi keimanan, akhlak, dan ilmu pengetahuan sehingga lahir generasi yang berkepribadian tangguh sekaligus inovatif. Dengan menanamkan fondasi spiritual yang kuat, Gen Z diharapkan mampu mengatasi krisis identitas, kecemasan, dan berbagai gangguan kesehatan mental yang mereka hadapi.

Kehadiran negara menjadi kunci utama dalam mewujudkan perubahan karena berbagai kebijakan ditetapkan oleh negara. Oleh sebab itu, negara harus menetapkan kebijakan yang tepat agar Gen Z tidak hanya menjadi generasi yang melek teknologi, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, kepedulian sosial, dan arah hidup yang jelas. Negara harus berfokus pada pendidikan, kesejahteraan, dan pembinaan moral agar Gen Z dapat berkembang secara optimal serta tidak terpengaruh oleh dampak negatif perkembangan zaman. Dengan menerapkan sistem kebijakan Islam, perpecahan, krisis multidimensi, dan berbagai persoalan yang terjadi saat ini diyakini dapat diatasi. Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah Swt., tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri serta hubungan antarsesama manusia, tidak hanya bagi umat Islam, tetapi untuk seluruh manusia.

Oleh: Rahmadina
(Pendidik Generasi)

Loading

Views: 3

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA