Konflik Sudan: Urgensi Kebangkitan Umat dengan Islam

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Gaza kembali berguncang dengan jeritan dan ledakan. Gencatan senjata pun tak mampu menghentikan derita mereka. Di balik puing-puing bangunan yang hancur, terdapat iman yang tetap kukuh. Mereka terus bersyahadat dengan darah dan air mata, berharap kemenangan akan datang. Namun di sudut lain, Sudan juga berdarah akibat perang saudara yang memecah belah rakyatnya.

Ribuan manusia dibunuh dengan kejam, para wanita dilecehkan, dan anak-anak tak berdosa dikubur hidup-hidup. Konflik perebutan kekuasaan di Sudan telah berlangsung sejak April 2023. Pertempuran antara militer Sudan (SAF) dan pasukan paramiliter Rapid Support Forces (RSF) telah menewaskan puluhan ribu orang dan memaksa warga untuk mengungsi. Kekerasan terus meningkat meski berbagai gencatan senjata telah dilakukan. Tragedi ini tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga menimpa warga sipil yang menjadi sasaran kekerasan, penyiksaan, dan pelecehan. Sementara itu, akses terhadap bantuan kemanusiaan hampir tidak ada karena blokade dan situasi yang tidak aman. (detik.com, 09/11/2025)

Situasi di Sudan menggambarkan krisis multidimensi — politik, ekonomi, dan moral — yang menyebabkan konflik berkepanjangan. Di balik krisis perebutan kekuasaan, tersimpan campur tangan negara asing, khususnya Barat. Amerika Serikat memiliki kepentingan ekonomi dan geopolitik karena Sudan merupakan negara kaya sumber daya alam: emas, minyak, dan lahan pertanian yang luas. Inilah yang menjadikan Sudan sebagai ajang perebutan kekayaan dalam “proxy war”. Dengan kata lain, Barat tidak sekadar menonton, tetapi ikut memainkan peran di balik layar demi menjaga kepentingan ekonominya.

Maka tak heran, meskipun gencatan senjata berkali-kali dilakukan, kekerasan tetap berlanjut. Akar masalahnya bukan sekadar konflik internal, melainkan perebutan kekuasaan yang kompleks. Derita saudara-saudara kita di Palestina yang dibombardir tanpa belas kasihan kini dialami pula oleh rakyat Sudan. Dunia seolah buta, sementara para penguasa hanya berdebat di meja perundingan ketika darah kaum Muslimin terus tumpah. Mereka berbicara tentang gencatan senjata, namun membiarkan penjajahan dan pengkhianatan tetap berkeliaran.

Padahal, Rasulullah saw. telah mengingatkan: “Hancurnya dunia lebih ringan bagi Allah daripada terbunuhnya seorang mukmin tanpa alasan yang benar.” (HR. Ibnu Majah)

Inilah kenyataan pahit yang umat rasakan saat ini—ketika solidaritas melemah, kepemimpinan yang melindungi umat telah lenyap, dan ketaatan pada hukum Allah Swt. digantikan oleh hukum buatan manusia.

Selama umat Islam hanya bersedih tanpa bergerak untuk bangkit, tangisan itu tidak akan menghentikan darah kaum Muslimin yang terus mengalir. Islam datang bukan hanya mengatur aspek ibadah, tetapi juga urusan dunia dengan hukum dan keadilan yang telah ditetapkan Allah. Karena itu, umat Islam membutuhkan pemimpin sejati yang melindungi mereka dari kezaliman—pemimpin yang takut kepada Allah Swt. bukan takut kehilangan jabatan atau kepentingan pribadi.

Dari berbagai krisis yang melanda negeri-negeri Muslim, jelas bahwa solusi sejati bukan sekadar bantuan kemanusiaan atau perundingan diplomatik. Solusi hakikinya adalah menerapkan hukum Islam secara menyeluruh dan menyatukan umat di bawah satu kepemimpinan yang menegakkan syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan. Hanya dengan itu, darah kaum Muslimin akan dijaga, kehormatan mereka dilindungi, dan bumi Allah dipenuhi dengan keadilan yang diridai-Nya. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Hamidatus S.,

Inspirator Hijrah Gen Z

Loading

Views: 34

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA