Islam Mengatasi Masalah Pengangguran

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Menurut survei  Angkatan Kerja Nasional, jumlah pengangguran berlatar belakang sarjana mencapai 1.033.182 orang per Mei 2026. Ternyata, gelar sarjana tidak menjamin seseorang terhindar dari ancaman pengangguran.

Menurut Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) Mei 2026, total penduduk 7,22 juta orang usia kerja yang menganggur. Adapun yang menganggur berlatar belakang sarjana terapan atau S-1, S-2, dan S-3 (sarjana) berjumlah sekitar 14,31 persen atau 1.033.182 orang (Kompas .com (7/08/2026)

Total porsi penduduk usia kerja yang menganggur memang cenderung turun jika data ditarik mundur sampai Sakernas Agustus 2022, seiring dengan penurunan tingkat pengangguran terbuka (TPT) dari kisaran 5 persen ke 4 persen. Namun, pengangguran dengan latar belakang sarjana pada Agustus 2022 ke Mei 2026 cenderung naik. Dari jumlah pengangguran 8,43 juta orang, 7,98 persennya adalah pengangguran berlatar belakang sarjana.

Masalah pengangguran belum bisa terselesaikan hingga saat ini. Tingginya angka pengangguran yang terjadi bukan tanpa sebab. Ada beberapa faktor yang mengakibatkan banyaknya pengangguran. Jadi, bukan karena mereka malas bekerja, tetapi lebih kepada sempitnya akses masyarakat terhadap lapangan pekerjaan. Banyaknya pelamar pekerjaan tidak sebanding dengan luasnya lapangan kerja.

Di samping itu, ada tekanan ekonomi global dan digitalisasi ekonomi. Terlebih lagi dengan adanya kebijakan kran impor yang dibuka lebar-lebar sehingga manufaktur industri dalam negeri tumbang. Imbasnya adalah terjadinya PHK massal yang menambah jumlah pengangguran.

Di sisi lain, muncul investasi asing yang berbasis utang riba. Para investor yang datang biasanya akan menyerap tenaga kerja asing, akibatnya pekerja lokal tetap tidak mendapatkan tempat. Itu hanya beberapa faktor penyebab makin tingginya angka pengangguran. Akan tetapi, yang harus dipahami adalah akar masalah terjadinya berbagai kebijakan tersebut.

Setelah ditelaah lebih dalam, akar masalahnya adalah sistem politiknya, yaitu kapitalisme sekuler. Kehidupan yang dipisahkan dari agama menyebabkan hidup hanya untuk meraih materi sebanyak-banyaknya. Itulah yang dianut kebanyakan negeri muslim saat ini.

Dalam kapitalisme, yang menjadi fokus adalah keuntungan pemilik modal. Kehidupan pekerja bukan menjadi prioritas. Dalam hal ini, negara tidak berperan dalam menyediakan lapangan pekerjaan. Ini karena negara telah menyerahkan penciptaan lapangan pekerjaan itu kepada swasta atau para pemilik modal. Peran negara hanya sebagai regulator semata, sementara rakyat tetap berjibaku sendiri dalam mencari pekerjaan. Akibatnya, masyarakat banyak yang mencari kerja di luar negeri karena kesulitan mencari kerja di negeri sendiri. Sementara, yang dari luar berbondong-bondong masuk ke dalam negeri.

Padahal, negeri ini kaya dengan sumber daya alam. Namun, sistem kapitalisme telah membebaskan kepemilikan umum (SDA, tambang, energi). Sehingga, harta milik umum dikuasai asing demi investasi. Padahal, jika dikelola negara untuk rakyat, tentunya akan menyerap tenaga kerja yang sangat banyak. Namun, potensi itu hilang karena tata kelola yang salah.

Sebaliknya, Islam mengatur semuanya dengan baik. Keberhasilan ekonomi dilihat dari terpenuhi atau tidaknya kebutuhan pokok setiap individu masyarakat, bukan sekadar pertumbuhan ekonomi ala  kapitalisme.

Dalam Islam, semua kebutuhan dasar manusia, seperti sandang, pangan, dan papan adalah tanggung jawab negara. Negara sangat berperan dalam mengatur urusan rakyat. Seseorang yang kehilangan pekerjaan akan menjadi tanggung jawab negara. Tidak boleh ada rakyat atau para pencari nafkah yang menganggur. Jika ada, maka negara akan memberikan pekerjaan sesuai dengan keahliannya.

Itu karena negara Khilafah berperan sebagai raa’in (pengurus/pemelihara). Negara akan mengelola sumber daya alam sesuai syariat Islam. Negara akan mengelola harta milik umum dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat dalam bentuk berbagai fasilitas pendidikan, kesehatan, dan bahan pokok dengan harga murah.

Negara juga akan membuka lapangan kerja luas untuk rakyat yang membutuhkan, mengembangkan industri strategis dan memfasilitasi penempatan kerja rakyat serta ketrampilan. Begitulah indahnya syariat Islam jika diterapkan dalam kehidupan manusia.

Oleh karena itu, perlu dipahami bahwa penyebab terjadinya berbagai masalah seperti pengganguran adalah faktor sistem, bukan masalah individu semata. Akarnya adalah sistem kapitalisme, solusinya adalah sistem Islam.

Jadi, solusi menyelesaikan berbagai masalah adalah dengan kembali kepada syari’at Islam. Syariat Islam tidak bisa diterapkan tanpa adanya Daulah Khilafah. Inilah yang harus diupayakan dengan cara dakwah pemikiran tanpa kekerasan yang dilakukan oleh para pengemban dakwah Islam ideologi. Karena hanya dengan itulah kebangkitan dan kesejahteraan akan bisa terwujud. Wallahu a’lam bishawab.

Oleh: Dartem
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA