Dari Doa Sembuh ke Husnul Khatimah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Ada masa ketika kami terus berdoa agar Abdurrahman Auf sembuh. Namun setelah bertahun-tahun menyaksikan tubuhnya semakin kehilangan kekuatan, doa kami perlahan berubah.

Bukan karena kami berhenti berharap kepada Allah. Kami justru mulai memahami bahwa kesembuhan bukan satu-satunya kebaikan yang dapat kami harapkan untuk seorang anak.

Auf mengalami distrofi otot Duchenne (Duchenne muscular dystrophy/DMD), kelainan genetik yang membuat kekuatan ototnya terus menurun. Selama empat belas tahun, saya dan Siti Aisyah (istri saya), mendampinginya melewati berbagai tahap penyakit tersebut.

Awalnya, seperti orang tua pada umumnya, kami memiliki banyak harapan untuk masa depannya. Kami membayangkan Auf bersekolah, melanjutkan pendidikan, bekerja, menikah, dan memiliki keluarga.

Namun satu per satu kemampuan fisiknya hilang. Ia mulai sering terjatuh. Ia tidak mampu mengayuh sepeda roda tiga dan menangkap bola. Kemudian ia tidak lagi mampu berdiri, duduk tanpa disangga, bahkan mengangkat gelas. Menelan makanan, mengeluarkan dahak, hingga bernapas pun menjadi perjuangan.
Sejak usia tiga tahun, kami membawanya menjalani berbagai terapi dan pengobatan. Rumah sakit kami datangi. Pengobatan alternatif pun kami coba. Namun penyakit itu terus berkembang.

Dokter akhirnya mengatakan, “Hingga saat ini belum ada obat yang mampu menyembuhkan DMD.”

Kami tetap berdoa agar Allah menyembuhkannya.

Kekhawatiran Terbesar

Di tengah ikhtiar itu, muncul kekhawatiran lain: bagaimana jika saya atau istri lebih dahulu meninggal? Siapa yang akan merawat Auf?

Kekhawatiran itu juga dirasakan kakak perempuan Auf. Saat masih mondok di pesantren, ia pernah berniat berhenti mondok dan tidak menikah agar dapat merawat Auf seumur hidup.

Kami menolaknya. Merawat Auf adalah amal mulia, tetapi masa depan anak yang lain tidak boleh dikorbankan.

Ketika kemudian ada yang melamarnya, ia sempat menolak. Bukan karena tidak cocok, melainkan karena ingin tetap fokus mengurus Auf.

Kami kembali menjelaskan bahwa merawat Auf tidak harus berarti mengorbankan masa depannya.

Ketika akhirnya ada calon yang serius, kami menyampaikan satu harapan: jika mereka menikah, ia harus menerima keberadaan Auf sebagai bagian dari keluarga. Ia menyanggupinya.

Meski demikian, saya dan istri tetap merasa bahwa Auf adalah amanah Allah kepada kami, bukan kepada anak dan menantu kami.

Mengubah Harapan

Kami terus menangis, berharap, dan berdoa agar Auf sembuh. Namun bersamaan dengan itu, kami belajar menerima bahwa semua yang terjadi adalah qadha Allah.

Perlahan, target kami sebagai orang tua berubah.

Kami tidak lagi sibuk membayangkan Auf harus kuliah di mana, bekerja sebagai apa, atau mencapai kesuksesan duniawi seperti apa.

Target kami menjadi lebih sederhana sekaligus lebih mendasar: Semoga Auf meninggal dalam keadaan husnul khatimah.

Kami tetap memohon kesembuhan. Namun kami semakin sering berdoa agar Allah menjaga iman Auf sampai napas terakhir.

Sejak itu, kami lebih sering membimbingnya mengucapkan dua kalimat syahadat.
Namun kemampuan bicara Auf semakin melemah. Kami khawatir suatu saat ia tidak lagi mampu mengucapkan syahadat secara utuh.

Sekitar dua bulan sebelum Auf berpulang, kami mengganti kalimat yang sering kami tuntun ketika rasa sakit datang. Bukan lagi syahadat, melainkan: “Allahu Akbar.”

Pertimbangannya sederhana. Jika suatu saat Auf hanya mampu mengucapkan sebagian, yang keluar tetap nama Allah. Sejak itu, setiap kali rasa sakit datang, terdengar suara lirihnya:

“Allahu Akbar…”

Takbir itu menjadi bagian dari kesehariannya.

Di Ujung Kehidupan

8 Ramadhan 1447 Hijriah (25 Februari 2026 M), menjelang berbuka, Auf tersedak ketika minum. Napasnya mulai memburu dan ia tampak kepayahan.

Kami bertiga mengucapkan takbir berulang-ulang.

“Allahu Akbar…”

“Allahu Akbar…”

“Allahu Akbar…”

Di tengah keadaan itu, Auf bertanya kepada ibunya, “Kalau Auf menghilang bagaimana, Mah?”

Mamah Auf yang tengah mengelus-elus kepala Auf berpura-pura tidak memahami maksudnya.

“Hilang bagaimana? Auf ada di sini.”

Namun beberapa saat kemudian, Auf kembali bertanya dengan lebih jelas,

“Bagaimana kalau Auf meninggal, Mah?”

Tanpa menunggu Mamah Auf menjawab, saya sembari memijat-mijat kaki Auf langsung berkata, “Auf masuk surga, insyaallah. Di surga, Auf bisa berdiri, berjalan, bahkan berlari.”

Auf mengangguk.

Saya kemudian berkata, “Syaratnya, Auf tetap beriman kepada Allah. Tetap shalat. Dan ketika saat itu tiba, ucapkan Allahu Akbar.”

Ia kembali mengangguk.

Tak lama kemudian, ia mengucapkannya dengan lirih.

“Allahu Akbar…”

Kami mengikutinya.

Beberapa saat kemudian, dengan napas yang semakin berat, Auf melafalkan bacaan yang selama ini dihafalnya.

“Audzubillahi minasy-syaithanir rajim…”

“Bismillahirrahmanirrahim…”

“Subhanallah…”

Lalu dengan sangat jelas:

“La ilaha illallah…”

Kemudian,

“Muhammadur Rasulullah.”

Saya dan istri spontan mengikuti setiap kata yang diucapkan Auf. Bukan kami yang mentalqin Auf. Justru Auf yang melafalkan bacaan-bacaan itu, dan kami mengikutinya.

Kami terharu. Air mata pun mengalir. Tidak ada orang tua yang benar-benar siap mengantarkan anaknya ke liang lahat.

Namun saat itu kami merasakan bahwa doa yang selama ini kami panjatkan mendapat jawaban dalam bentuk yang tidak pernah kami bayangkan.

Auf mengakhiri hidupnya dengan mengingat Allah.

Tak lama kemudian, Auf kembali berdoa,

“Ya Allah… tolonglah Auf…”

Kami mengulang doa itu bersamanya.
Setelah azan Magrib, saya dan istri bergantian menunaikan shalat. Ketika saya kembali menghampiri Auf, napasnya semakin berat.

Dari bibirnya terdengar lirih,

“Allah… Allah… Allah…”

Ia sudah tidak bisa kami ajak berkomunikasi lagi. Yang terus terdengar dari bibirnya hanya lafaz “Allah”.

Namun tiba-tiba ia memanggil,

“Mamah…! Kerudung…!”

Mamah Auf segera mengenakan jilbab dan kerudungnya.

Lalu ia kembali mengucapkan,

“Allah… Allah… Allah…”

Kami pun selalu mengulangi ucapan Auf.
Lalu perlahan, napas itu berhenti.
Jam dinding menunjukkan pukul 18.40 WIB.

Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.

Auf telah pulang kepada Pemiliknya.

Harapan yang Tersisa

Kehilangan anak tetaplah kehilangan. Kami tetap rindu, tetap menangis, dan tetap berharap dapat memeluknya sekali lagi.

Namun setelah kepergiannya, kami memahami sesuatu. Dulu kami mengira tugas kami sebagai orang tua adalah memastikan Auf memiliki masa depan seperti anak-anak lainnya.

Kemudian Allah mengajarkan kepada kami bahwa masa depan seorang manusia tidak berhenti pada pendidikan, pekerjaan, penghasilan, pernikahan, atau pencapaian duniawi.

Semuanya berhenti di pintu kematian.

Yang dibawa seorang hamba setelahnya adalah iman dan amal salehnya.

Kami pernah memohon agar Auf sembuh. Allah tidak menakdirkannya. Kami pernah memohon agar ia tumbuh besar, bersekolah, bekerja, menikah, dan menjalani kehidupan seperti anak-anak lainnya. Allah juga tidak menakdirkannya.

Namun Allah mengabulkan doa yang ternyata jauh lebih penting bagi kami: agar iman Auf terjaga sampai akhir hayatnya.

Kami mendengar sendiri putra kami mengucapkan,

“La ilaha illallah Muhammadur Rasulullah.”

Beberapa bulan sebelumnya, Mamah Auf sudah beberapa kali berbicara kepadanya tentang kehidupan di surga. Ia mengatakan bahwa di sana Auf tidak hanya bisa berjalan, tetapi juga bisa berlari.

Kini, kalimat “Nanti di surga, Auf bukan hanya bisa jalan, tapi juga bisa berlari” bukan lagi sekadar harapan. Kami yakin, insyaallah, di surga nanti Auf akan benar-benar bisa berjalan dan berlari. Kami pun berharap Allah mempertemukan kami kembali dengannya di sana.

Kami belajar bahwa menerima ketetapan Allah bukan berarti berhenti mencintai atau berhenti menangis.

Sabar dan syukur dapat hadir bersamaan. Kami bersabar atas kehilangan Auf. Dan kami bersyukur karena di ujung kehidupannya, Allah mengizinkan kami menyaksikan sesuatu yang selama ini kami doakan.

Semoga Allah menerima amal saleh Abdurrahman Auf, mengampuni dosa-dosanya, melapangkan kuburnya, menjauhkannya dari neraka, dan menjadikannya penghuni surga-Nya.
Sebagaimana yang pernah dikatakan Mamah Auf kepadanya:

“Nanti di surga, Auf bukan hanya bisa jalan, tapi juga bisa berlari.”[]

Depok, 29 Rabiul Awal 1448 H | 11 September 2026 M

Oleh: Joko Prasetyo
Ayah Abdurrahman Auf

Loading

Views: 2

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA