Darurat HIV pada Remaja: Solusi yang Belum Menyentuh Akar Masalah

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kasus HIV di kalangan anak dan remaja semakin mengkhawatirkan karena penyebarannya begitu cepat. Data Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo hingga Juni 2026 mencatat 7.230 orang hidup dengan HIV sejak tahun 2001. Dari jumlah tersebut, sebanyak 522 orang merupakan pelajar, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA (Kumparan.com, 24/7/2026).

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Malang mencatat temuan kasus baru HIV/AIDS sepanjang Januari hingga Mei 2026. Jumlahnya cukup tinggi, yakni 186 kasus. Kepala Dinkes Kota Malang, dr. Husnul Muarif, mengatakan bahwa jumlah tersebut merupakan data pembaruan setelah sebelumnya disebutkan terdapat 97 kasus baru HIV/AIDS pada periode Januari hingga Mei 2026 (DetikJatim.com, 14/7/2026).

Angka yang terpampang ini bukan sekadar statistik, melainkan tanda nyata bahwa ada krisis mendalam yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

Berbagai pihak mulai memberikan tanggapan atas fenomena ini. Plt. Dirjen Penanggulangan Penyakit Kemenkes RI, dr. Andi Saguni, menyatakan bahwa peningkatan angka kasus disebabkan oleh makin luasnya cakupan layanan tes HIV, bukan semata-mata karena peningkatan penularan. Artinya, kenaikan angka tersebut terjadi karena deteksi dini yang semakin efektif. Sementara itu, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak menyatakan bahwa pendidikan seksual sejak dini merupakan langkah penting, meskipun hal tersebut masih sering dianggap tabu di kalangan masyarakat.

Namun, pandangan-pandangan tersebut belum menyentuh inti persoalan. Menyatakan bahwa kenaikan angka kasus hanya disebabkan oleh deteksi yang lebih baik merupakan bentuk kegagalan memahami masalah yang sesungguhnya. Padahal, fakta di lapangan menunjukkan adanya perilaku remaja yang semakin bebas dan lepas dari nilai-nilai norma susila serta ajaran Islam.

Minimnya pendidikan Islam menjadi salah satu faktor penyebab masalah ini. Bayangkan saja, di sekolah para pelajar hanya mendapatkan pendidikan Islam sekitar satu hingga dua jam dalam sepekan. Ditambah lagi, di lingkungan keluarga mereka hampir tidak pernah mendapatkan ilmu agama dari orang tua akibat minimnya pemahaman keagamaan maupun kesibukan orang tua dalam bekerja.

Selain itu, pandangan yang berkembang saat ini masih sangat kental dengan paradigma sekuler-liberal. Akidah sekuler memisahkan agama dari kehidupan. Paradigma ini mengusung gagasan agar agama tidak dibawa ke dalam seluruh aktivitas kehidupan. Dengan demikian, agama hanya ditempatkan di masjid dan dianggap sebatas mengatur ibadah ritual seperti salat, zakat, puasa, dan haji. Padahal, Islam mengatur seluruh amal manusia, mulai dari aspek ibadah dan muamalah hingga kehidupan bernegara. Islam telah mengatur seluruh aspek tersebut secara sempurna.

Kesalahan dalam membaca akar masalah berujung pada solusi yang tidak tuntas. Solusi yang ditawarkan pun masih sebatas pendekatan dangkal, seperti edukasi seksual sekuler dan promosi perilaku aman. Pendekatan tersebut hanya menyentuh aspek medis, seperti mencegah penularan penyakit atau kehamilan yang tidak diinginkan. Namun, pendekatan ini tidak pernah menyentuh pertanyaan mendasar: mengapa perilaku berisiko tersebut dapat muncul dan mengakar?

Faktanya, tingginya kasus HIV pada remaja merupakan cerminan rusaknya sistem sosial akibat sistem sekuler-kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Ketika aturan Ilahi dikesampingkan, muncullah kebebasan tanpa batas yang melahirkan pergaulan bebas dan pada akhirnya menimbulkan berbagai kerusakan, termasuk penyebaran HIV.

Karena keliru dalam mendefinisikan masalah, solusi yang ditawarkan pun tidak akan pernah menyelesaikan akar persoalan. Di sinilah Islam menawarkan solusi yang sesungguhnya, bersifat preventif dan menyeluruh.

Islam membangun sistem pergaulan yang utuh (Nizham al-Ijtima’i) untuk melindungi generasi dari hal-hal tercela. Aturan menjaga pandangan, pengaturan interaksi antara laki-laki dan perempuan, larangan mendekati zina, kewajiban berpakaian syar’i, serta pengaturan pernikahan menjadi benteng kokoh sebelum masalah terjadi.

Pendidikan pun tidak sekadar mengajarkan aspek biologis. Islam mengintegrasikan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dengan ilmu fikih pergaulan dan akhlak sehingga pelajar memahami bahwa menjaga kehormatan dan organ tubuh merupakan bagian dari ibadah serta amanah dari Allah Swt. Mereka sadar bahwa setiap perbuatan yang dilakukan akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat kelak.

Pencegahan yang sesungguhnya juga memerlukan sinergi kuat dari tiga pilar utama: keluarga sebagai madrasah pertama untuk mewujudkan ketakwaan individu; sekolah dan lingkungan masyarakat sebagai pendidik untuk membentuk tegaknya amar makruf nahi mungkar; serta negara yang menjamin tegaknya aturan syariat dan menerapkan sanksi tegas bagi pelanggarnya.

Selama kita masih menutup mata terhadap akar masalah dan hanya berpegang pada solusi parsial ala pandangan sekuler, kasus HIV pada remaja tidak akan pernah benar-benar selesai. Perubahan nyata hanya akan tercapai ketika kita kembali menyerahkan urusan kehidupan sepenuhnya kepada aturan Allah Swt.

Oleh: Kurrotul Wahyuni, S.P.
(Praktisi Pendidikan)

Loading

Views: 0

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA