Tinta Media – Kelahiran dan kehadiran Rasulullah Muhammad saw. di dunia ini semestinya tidak hanya melahirkan peringatan yang bersifat seremonial semata. Peringatan atas kelahiran (maulid) beliau sejatinya merupakan wujud kesyukuran dan kecintaan atas datangnya cahaya petunjuk yang mengandung makna kemenangan. Sebagaimana Allah Swt. berfirman: “Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk (Al-Qur’an) dan agama yang benar untuk Dia menangkan atas segala agama, walaupun kaum musyrik tidak suka.” (QS. At-Taubah: 33)
Mencintai Rasulullah saw. adalah kewajiban. Bahkan, kecintaan kepada Allah Swt. dan Rasul-Nya harus lebih diutamakan daripada kecintaan kepada keluarga, harta, dan seluruh kenikmatan dunia. Sebagaimana firman Allah Swt. dalam QS. At-Taubah ayat 24.
Dalam hadis yang lain, beliau bersabda: “Seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Hal ini menegaskan bahwa mencintai Rasulullah saw. merupakan jalan menuju kesempurnaan iman, memperoleh cinta dan ampunan Allah Swt., serta jalan yang menjadikan seorang mukmin dapat dikumpulkan bersama beliau di akhirat kelak.
Selama lebih dari dua puluh tiga tahun masa kerasulan, Nabi Muhammad saw. tidak pernah memperjuangkan kepentingan pribadi, keluarga, suku, ataupun kelompok. Hal ini menjadi simbol integritas beliau yang tidak pernah menggadaikan prinsip demi kepentingan duniawi, materi, dan jabatan.
Keteladanan Rasulullah saw. mengajarkan bahwa perjuangan menegakkan kebenaran Islam menuntut keistiqamahan, keberanian, dan kemurnian niat semata-mata karena Allah Swt.
Meneladani Rasulullah saw. berarti membangun komitmen untuk memperjuangkan Islam secara istiqamah. Tidak tunduk pada intimidasi, godaan, maupun kompromi yang bertentangan dengan syariat, utamanya sistem sekuler warisan penjajah. Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Rizky A. P.
(Pelajar STPS Teladan Umat)
![]()
Views: 3





