Tinta Media – Generasi Z—mereka yang lahir di tengah perkembangan teknologi digital—sering disebut sebagai generasi yang paling terkoneksi. Namun, di balik kemudahan akses informasi dan komunikasi, muncul persoalan yang tidak sederhana: tekanan ekonomi, tuntutan sosial, budaya konsumtif, hingga kebingungan dalam menentukan arah hidup. Gen Z seolah hidup dalam dunia yang serba cepat, tetapi tidak selalu tahu hendak menuju ke mana.
Persoalan ekonomi menjadi salah satu tekanan nyata. Data BPS menunjukkan bahwa pada Agustus 2024 terdapat sekitar 9 juta penduduk usia 15–24 tahun yang masuk kategori NEET (not in employment, education, or training), atau sekitar 20,31 persen anak muda. Artinya, mereka tidak sedang bekerja, bersekolah, maupun mengikuti pelatihan. Sementara itu, BPS mencatat tingkat pengangguran terbuka Indonesia pada Februari 2025 sebesar 4,76 persen, dengan rata-rata upah buruh Rp3,09 juta per bulan.
Tekanan tersebut hadir bersamaan dengan realitas digital yang sangat kuat. Internet telah menjadi bagian dari kehidupan Gen Z. Pada 2025, penetrasi internet Indonesia mencapai lebih dari 80 persen dan sekitar 87,8 persen pengguna Gen Z terhubung dengan internet. Media sosial memang memberikan manfaat besar, tetapi juga menghadirkan ruang perbandingan tanpa henti: siapa yang lebih sukses, lebih cantik, lebih kaya, lebih bahagia, lebih sering berlibur, atau lebih keren.
Di sinilah budaya hedonisme menemukan ruang subur. Ketika kebahagiaan sering dipasarkan melalui barang, pengalaman, penampilan, dan pengakuan sosial, seseorang dapat merasa bahwa dirinya berharga ketika mampu mengikuti standar tersebut. Bahkan, penelitian mengenai Gen Z di Indonesia menemukan adanya pengaruh media sosial terhadap gaya hidup hedonis dan perilaku konsumtif.
Ironisnya, tekanan ekonomi dan budaya konsumtif berjalan beriringan. Di satu sisi, banyak anak muda menghadapi kesulitan mendapatkan pekerjaan dan membangun masa depan. Di sisi lain, mereka setiap hari disuguhi gambaran kehidupan yang seolah harus dimiliki sekarang juga. Akibatnya, muncul kecemasan, FOMO (fear of missing out), perasaan tertinggal, dan kelelahan mengejar standar kehidupan yang tidak pernah selesai.
Namun, persoalan Gen Z sesungguhnya tidak berhenti pada ekonomi ataupun media sosial. Ada persoalan yang lebih mendasar: krisis tujuan hidup.
Ketika keberhasilan hanya didefinisikan dengan uang, jabatan, popularitas, jumlah pengikut, atau kenikmatan, maka ketika semua itu tidak tercapai, hidup mudah terasa kosong. Manusia membutuhkan jawaban atas pertanyaan paling fundamental: Untuk apa aku hidup? Apa tujuan keberadaanku? Ke mana setelah kehidupan dunia berakhir?
Islam memberikan jawaban yang berbeda secara mendasar. Allah Swt. berfirman: “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini memberikan arah yang jelas. Tujuan hidup manusia bukan sekadar mengejar materi, popularitas, ataupun kesenangan. Kehidupan dunia adalah bagian dari perjalanan menuju kehidupan akhirat. Karena itu, ukuran keberhasilan seorang Muslim bukan hanya seberapa tinggi pencapaian dunianya, tetapi apakah kehidupannya berada dalam ketaatan kepada Allah.
Di sinilah Gen Z membutuhkan lebih dari sekadar motivasi, healing, atau tips mengelola stres. Mereka membutuhkan pandangan hidup yang benar. Islam bukan hanya mengatur ibadah individual, tetapi merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam memiliki aturan dalam persoalan ekonomi, pendidikan, keluarga, pergaulan, politik, sosial, hingga kehidupan masyarakat.
Maka, solusi terhadap krisis Gen Z tidak cukup dengan meminta mereka “lebih kuat menghadapi zaman”, sementara sistem kehidupan yang membentuk tekanan tersebut dibiarkan berjalan. Diperlukan perubahan cara pandang: dari kehidupan yang berorientasi pada materi menuju kehidupan yang berorientasi kepada Allah; dari budaya konsumtif menuju kesederhanaan dan tanggung jawab; dari mengejar validasi manusia menuju mencari rida Allah.
Islam kafah mengajarkan bahwa perubahan tidak hanya dimulai dari individu, tetapi juga membutuhkan lingkungan dan sistem kehidupan yang mendukung ketaatan kepada Allah. Generasi perlu dibekali akidah yang kuat, pemahaman Islam yang benar, serta pendidikan yang membentuk kepribadian Islam.
Wallahu a’lam bish-shawab.
Oleh: Imma Kurniati
(Pejuang Dakwah Muslimah Banyumas)
![]()
Views: 3
















