Circle: Menjaga Istiqamah ataukah Mengikisnya?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Circle interaksi keseharian ternyata bukan perkara sepele. Dengan siapa kita banyak berbicara, berdiskusi, menghabiskan waktu, dan berbagi pikiran, sedikit banyak akan memengaruhi diri kita.

Manusia mudah terpengaruh oleh apa yang terus-menerus berada di sekitarnya. Pemikiran yang awalnya terasa asing bisa menjadi biasa karena sering didengar. Kebiasaan yang awalnya dianggap salah bisa terasa lumrah karena terus dilakukan. Bahkan standar kebahagiaan pun bisa berubah mengikuti standar yang hidup di dalam circle pertemanan.

Karena itu, seorang Muslim perlu serius memperhatikan circle-nya. Bukan hanya soal “Apakah mereka orang baik?” Namun lebih jauh adalah “Pemikiran apa yang hidup di dalam circle ini? Nilai apa yang sedang dibentuk? Setelah berinteraksi dengan circle, apakah ghirah Islam dan keterikatan terhadap syariat kita semakin menguat? atau malah justru sebaliknya (melemah)?”

Sebab circle bisa menjadi jalan menuju kebaikan. Akan tetapi circle juga bisa menjadi celah pintu masuk berbagai kerusakan pemikiran dan pola sikap yang menjauhkan perilaku dari landasan akidah dan tuntunan syariat.

Waspadai Circle Sekularisme-Kapitalisme!

Salah satu bahaya yang perlu diwaspadai adalah ketika seseorang terlalu larut dalam circle yang menjadikan sekularisme dan kapitalisme sebagai standar kehidupan.

Pengaruhnya tidak selalu hadir dalam bentuk ajakan terang-terangan meninggalkan agama. Justru sering kali masuk secara perlahan melalui obrolan sehari-hari, gaya hidup, cara memandang kesuksesan, hingga cara menyelesaikan persoalan.

Sekularisme membiasakan agama ditempatkan sebagai urusan privat, sementara kehidupan publik diatur dengan standar yang dianggap terpisah dari agama. Kapitalisme menjadikan materi, kepemilikan, keuntungan, dan kebebasan ekonomi sebagai bagian penting dalam mengukur keberhasilan kehidupan.

Jika nilai-nilai semacam ini terus-menerus dikonsumsi melalui circle dalam keseharian, seorang Muslim bisa tanpa sadar mengalami perubahan standar berpikir dan bersikap.

Ukuran sukses bergeser menjadi banyaknya harta. Kebahagiaan diukur dari kenyamanan. Prestise menjadi sesuatu yang dikejar.

Popularitas menjadi kebanggaan. Kesibukan mengejar kesenangan pernak-pernik duniawi membawa persoalan yang menyelimuti umat terasa semakin jauh dari benak dan pikiran.

Yang lebih mengkhawatirkan, dakwah bisa dianggap mengganggu karier. Kajian dianggap membuang waktu. Membicarakan persoalan umat dianggap terlalu serius. Bahkan perjuangan untuk menerapkan syariahdalam kehidupan bisa jadi dipandang sebagai sesuatu yang tidak relevan.

Di sinilah pentingnya kewaspadaan! Bukan berarti seorang Muslim harus memutus hubungan sosial dengan semua orang yang berbeda pemikiran. Dakwah tetap harus dilakukan kepada siapa saja. Namun, circle yang paling dekat dan paling sering menjadi tempat bertukar pikiran harus diperhatikan dengan penuh kesadaran. Sebab orang yang paling sering berada di sekitar kita akan memiliki ruang yang besar untuk memengaruhi kita.

Circle Penjaga Islam Terpercaya

Karena itu, seorang Muslim membutuhkan circle yang dapat menjadi “penjaga Islam yang terpercaya” dalam kehidupan sehari-hari. Circle yang ketika berkumpul tidak sekadar membicarakan dunia, tetapi juga mengingatkan kepada Allah SWT. Circle yang tidak membiarkan lingkarannya larut dalam kelalaian. Circle yang saling mengingatkan ketika salah dan saling menguatkan ketika lemah.

Lebih dari itu, circle yang memiliki kesadaran Islam dan kepedulian terhadap persoalan umat. Circle semacam inilah yang sangat dibutuhkan oleh mereka yang ingin istiqamah dalam dakwah dan perjuangan Islam. Sebab istiqamah bukan perkara mudah.

Hari ini seseorang bisa sangat bersemangat. Besok bisa saja lelah. Hari ini begitu kuat berbicara tentang Islam. Beberapa waktu kemudian kesibukan dunia mulai menyita perhatian. Hari ini begitu bersemangat berdakwah. Esok mungkin muncul rasa jenuh.

Dalam kondisi seperti itu, circle yang terpercaya menjadi sangat berharga. Karena ketika seseorang mulai futur, maka akan ada yang mengingatkan. Ketika mulai terlena dengan dunia, ada yang menyadarkan. Ketika menghadapi tekanan, ada yang menguatkan. Ketika semangat dakwah menurun, ada yang mengingatkan kembali tentang kewajiban dan tujuan hidup.

Allah SWT berfirman:

وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Dan mereka saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran” (QS al-‘Ashr: 3).

Inilah ruh sebuah circle Islam: saling menjaga dalam kebenaran dan kesabaran. Maka, circle yang baik bukan sekadar circle yang membuat kita nyaman. Circle yang baik adalah circle yang menjaga arah hidup kita tetap berada dalam perjuangan dan ketaatan kepada Allah SWT.

Menjaga Istiqamah dalam Perjuangan

Bagi seorang Muslim yang meyakini kewajiban memperjuangkan penerapan syariah secara menyeluruh dalam naungan tegaknya khilafah, circle perjuangan memiliki posisi penting dalam menjaga istiqamah.

Sebab perjuangan tidak cukup dengan semangat sesaat. Perjuangan membutuhkan ilmu, kesabaran, keteguhan, dan lingkungan yang terus menjaga kesadaran. Di sinilah circle yang terpercaya menjadi tempat untuk saling menguatkan dalam dakwah dan perjuangan.

Circle tersebut bukan tempat untuk merasa paling benar. Bukan pula tempat untuk membangun fanatisme kepada individu dan kelompok circle. Justru seharusnya menjadi ruang untuk terus belajar, mengoreksi diri, saling menasihati, dan menguatkan keterikatan kepada Islam.

Sebab yang dijaga bukan sekadar eksistensi sebuah circle, melainkan “iman, pemikiran Islam, dan istiqamah dalam perjuangan dan ketaatan”.

Maka, jangan anggap remeh circle keseharian. Jika setiap hari kita dikelilingi oleh circle yang hanya mengajak mengejar dunia, jangan heran jika dunia semakin memenuhi pikiran.

Jika setiap hari kita berada dalam circle yang menganggap agama hanya urusan pribadi, jangan heran jika kepedulian terhadap penerapan Islam dalam kehidupan semakin melemah.

Sebaliknya, jika kita berada dalam circle yang menghidupkan iman, mengkaji Islam, peduli terhadap umat, saling mengingatkan dalam ketaatan, dan bersama-sama memperjuangkan syariah dan khilafah, insyaallah circle itu akan menjadi salah satu sebab kita tetap istiqamah.
Karena manusia memang membutuhkan pengingat. Ada masa ketika kita kuat, ada masa ketika kita lemah. Ada saat ketika langkah terasa ringan, ada saat ketika perjuangan terasa berat. Pada saat itulah keberadaan circle penjaga Islam menjadi nikmat yang tidak boleh diremehkan.

Maka, jaga circle yang menjaga kita. Jangan lepaskan orang-orang yang ketika bersama mereka kita semakin dekat kepada Allah! Jangan remehkan mereka yang mengingatkan ketika kita lalai! Jangan menjauh dari mereka yang mengajak kita kembali kepada Islam ketika dunia mulai melalaikan!

Dan tetaplah waspada terhadap circle yang perlahan mengubah standar hidup kita menjadi sekuler dan materialistik. Sebab pada akhirnya, circle bukan sekadar siapa yang hadir dalam keseharian kita. Circle adalah lingkungan yang ikut membentuk siapa diri kita, apa yang kita cintai, apa yang kita perjuangkan, dan ke mana langkah kita diarahkan.

Maka, pilihlah circle yang menjaga iman. Circle penjaga Islam. Circle yang saling menguatkan dalam perjuangan dan ketaatan. Circle yang menjaga istiqamah. Circle yang bersama-sama memperjuangkan tegaknya syariah dan khilafah.

Wallaahu a’lam bish-shawaab

Oleh: Muhar
Tim Redaksi Tinta Media

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA