Analis FoCUS Jelaskan Pentingnya Memahami Makna Takwa

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Analis Politik dari Forum of Contemporary Ummah Studies (FoCUS), Iwan Januar, menjelaskan pentingnya Memahami makna takwa bagi kaum Muslim.

“Nah, andaikan kaum Muslim memahami makna takwa ini, maka sebetulnya kita tidak akan memiliki apa yang dinamakan split personality, pribadi yang pecah,” ungkapnya dalam video pendek bertajuk Puasa dan Ketundukan di Tengah Dominasi Nilai Asing, Ramadan Karim 1447 H, di kanal YouTube One Ummah TV, Jumat (20/02/26).

Ibadah puasa, jelas Iwan, secara konsep ending-nya adalah membentuk pribadi yang takwa, yang bermakna tunduk dan taat sepenuhnya kepada aturan Allah SWT.

Namun pada faktanya, kata Iwan, ada sebagian kaum Muslimin hari ini tidak memahami makna takwa ini. Sehingga, mereka memiliki yang namanya split personality di dalam dirinya.

Ia membeberkan bahwa sebagian kaum Muslimin tersebut melaksanakan puasa, tapi hal yang sama juga dilakukan normalisasi perbuatan zina, perselingkuhan dianggap biasa, dan membuka aurat menjadi hal yang lumrah saja.

“Kita melakukan salat tarawih, kita sujud, kita ruku menghadap Allah, tapi kemudian di dalam aturan ekonomi justru melaksanakan hukum-hukum ribawi,” mirisnya.

Lalu, sambungnya, ada spekulasi, penimbunan harta, monopoli banyak dilakukan, eksploitasi kekayaan oleh swasta yang tidak bermanfaat besar untuk umat, terjadi di mana-mana bahkan disahkan secara konstitusi.

“Dan pelakunya tidak sedikit adalah mereka yang melaksanakan puasa, dan melaksanakan salat tarawih, zakat ditunaikan,” tambahnya.

Iwan memandang ketika dalam diri kaum Muslimin sudah terdapat split personality, maka terjadilah yang namanya pemisahan agama dari kehidupan (sekuler).

“Pribadi yang pecah. Masjidnya milik Allah, tapi di luar masjid kemudian aturan hukum, tata kelola sumber daya alam, aturan kehidupan sosial tidak diserahkan kepada Allah,” ucapnya.

Iwan melanjutkan, Al-Quran dikumandangkan, dibaca, ditadaruskan, tapi yang dipuja dan dipuji serta diamalkan adalah aturan yang datang dari hawa nafsu manusia. Dan menurutnya, bukan itu tujuan dari berpuasa.

“Tidak ada artinya raga kita lapar, tapi dada kita sempit dari petunjuk Allah. Tidak ada artinya kerongkongan kita haus, tapi kemudian pikiran kita sempit tidak mau mendapatkan keterangan, tidak mau mendapatkan aturan, dan tidak menerima hukum dari Allah SWT,” ujarnya.

Dominasi Peradaban Asing

Iwan mengatakan bahwa harus diakui bahwa kehidupan sekarang didominasi oleh berbagai macam peradaban asing.

Ukuran hidup, sebutnya, bahagia bahkan senyum pun diatur dengan aturan-aturan asing.

“Kita harus memperjuangkan agar ibadah puasa ini, menjadi ibadah yang kemudian membentuk karakter ketaatan yang total,” tegasnya.

Islam Tak Mengenal Ketaatan Setengah

Dalam Islam, Iwan juga menjelaskan, tidak ada ketaatan setengah. Tidak ada setengah halal, setengah haram. Tidak ada setengah sah, setengah batal.

“Tidak ada separuh iman, separuh kufur, tidak ada. Allah selalu meminta kita untuk totalitas di dalam melaksanakan ketaatannya, dan menjalankan aturannya,” tegasnya.

Di akhir, Iwan mengajak kepada pemirsa di mana pun berada, untuk menjadikan ibadah puasa ini dengan hidup di tengah peradaban asing dan kufur saat ini sebagai momen untuk memperjuangkan tegaknya Islam kembali.

“Kita perjuangkan agar Islam kembali tegak, dan menjadi peradaban yang memimpin dunia dan menciptakan rahmatan lil ‘alamiin (rahmat bagi seluruh alam),” tandasnya.[] Nandang Fathurrohman

Loading

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA