FoCUS: Kecerdasan Pemimpin Diuji oleh Kemampuannya Mendengar Kalimat yang Paling Tidak Ingin Didengar

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Merespons pernyataan Presiden Prabowo dalam pidato peringatan HUT ke-28 Partai Amanat Nasional (PAN), Jumat (18/9/2026), di Jakarta International Convention Center (JICC), yang mengatakan “ada orang yang, saking pintarnya, saking pintarnya jadi goblok,” Analis Forum of Contemporary Ummah Studies Ustadz Arif B. Iskandar menyatakan, kecerdasan seorang pemimpin diuji oleh kemampuannya mendengar kalimat yang paling tidak ingin didengar.

“Kecerdasan seorang pemimpin justru diuji oleh kemampuannya mendengar kalimat yang paling tidak ingin dia dengar,” tulisnya di laman Facebook @ Abi Arif yang bertajuk Penguasa Tak Semestinya Nyinyir Terhadap Kritik, Ahad (20/9/2026).

Menurutnya, kalimat itu mungkin dimaksudkan sebagai sindiran. Akan tetapi, justru karena keluar dari mulut Presiden, ia layak direnungkan lebih serius: Apa sebenarnya yang seharusnya dilakukan seorang penguasa ketika berhadapan dengan para pengkritiknya, terutama mereka yang memiliki keahlian dan kompetensi? Bukankah kekuasaan justru membutuhkan kritik?

“Seorang pemimpin tidak perlu mengamini semua pendapat pakar. Sama sekali tidak. Pakar bisa keliru. Sebagaimana Pemerintah juga bisa keliru. Akan tetapi, jika sebuah kritik dianggap salah, jawaban yang paling berwibawa mestinya sederhana: bantah argumennya, periksa datanya, dan luruskan analisisnya. Bukan merendahkan orangnya,” sarannya.

Sebabnya, lanjut ABI, menyebut seorang pengkritik “goblok” tidak serta-merta membuat pendapat kita menjadi benar. Ejekan bukan bantahan. Di sinilah persoalannya menjadi lebih dalam daripada sekadar soal etika berbicara.

“Kekuasaan memiliki kecenderungan alamiah untuk dikelilingi orang-orang yang mengatakan apa yang ingin dia dengar. Semakin tinggi seseorang berada dalam struktur kekuasaan, semakin mahal harga sebuah kritik yang jujur,” terangnya.

Karena itu, tegas ABI, seorang pemimpin justru membutuhkan orang-orang yang berani berkata, “Maaf, Anda keliru, Pak!” Bukan hanya orang-orang yang sigap berkata, “Anda benar, Pak!”

“Maka dari itu pertanyaannya kemudian bukan lagi siapa yang paling pintar. Pertanyaannya: Untuk apa kepintaran itu digunakan? Apakah kepintaran digunakan untuk mencari kebenaran, atau sekadar memenangkan perdebatan? Apakah ilmu digunakan untuk mengoreksi kekuasaan, atau untuk membenarkan kekuasaan? Apakah seorang pemimpin ingin mendengar apa yang benar, atau hanya ingin mendengar apa yang menyenangkan telinga?,” tanyanya.

Di titik inilah, terang ABI, perdebatan politik tentang “pakar yang terlalu pintar” membawa kita pada sebuah ukuran kecerdasan yang jauh lebih tua dan lebih mendasar.

“Terkait itu, Sayidina Abu Bakar ash-Shiddiq ra. memberikan ukuran yang sangat menarik. Kata beliau: ‘Ketahuilah bahwa cerdas yang paling cerdas adalah takwa. Bodoh yang paling bodoh adalah melakukan banyak dosa’,” ujarnya mengutip perkataan Ibn Sa’ad, dalam Thabaqaat al-Kubraa.

Nasihat ini, menurut ABI, seakan mengingatkan bahwa kepintaran dan kecerdasan bukanlah hal yang selalu sama. Seseorang bisa sangat pintar, tetapi tidak bijaksana. Bisa sangat ahli, tetapi tidak rendah hati. Bisa memiliki banyak pengetahuan, tetapi tidak memiliki keberanian untuk mengakui kesalahan. Bahkan bisa begitu pintar sehingga setiap orang yang berbeda pendapat dengannya dianggap bodoh.

“Menurut Sayidina Abu Bakar ra., ukuran kecerdasan yang paling tinggi justru adalah takwa. Takwalah yang menjadikan seseorang memiliki kesadaran moral yang membuat dirinya tidak menjadikan ilmu, jabatan, maupun kekuasaan sebagai alat untuk mengikuti kesombongan dirinya,” ungkapnya.

Nasihat ini, lanjut ABI, menjadi semakin relevan ketika kita berbicara tentang pemimpin. Sebabnya, pemimpin yang bertakwa semestinya tidak hanya bertanya, “Siapa yang mengatakan ini?” Ia juga bertanya: “Apakah yang dikatakannya benar?”

“Ia tidak buru-buru menolak kritik hanya karena datang dari orang yang tidak disukainya. Ia memeriksa substansinya. Ia menguji datanya. Ia mempertimbangkan kemungkinan bahwa dirinya memang keliru,” pungkasnya.[] ‘Aziimatul Azka

Loading

Views: 4

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA