Cahaya Ramadhan di Tengah Kegelapan Dunia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dunia hari ini seperti berada dalam pusaran kegelapan yang semakin pekat. Krisis demi krisis muncul tanpa jeda, seolah menjadi tanda rapuhnya tatanan global yang selama ini diagung-agungkan. Skandal elite global seperti Epstein menguak wajah busuk kekuasaan. Konflik geopolitik di Palestina, Sudan, Suriah, Rusia-Ukraina, hingga ketegangan Iran dan India menunjukkan bahwa stabilitas dunia hanyalah ilusi yang rapuh. Perebutan wilayah dan kepentingan ekonomi (dari Venezuela hingga Greenland) menggambarkan dunia yang semakin dikuasai ambisi dan kekuatan, bukan nilai kemanusiaan. Indonesia pun tak luput dari dampak gelombang krisis global, baik ekonomi, politik, maupun sosial. Semua ini menandai sebuah fenomena besar: rupture of world order, keretakan tatanan dunia lama.

Kegelapan tersebut tidak hanya tampak pada konflik militer, tetapi juga dalam aspek ekonomi dan politik global. Ketimpangan ekonomi semakin tajam; segelintir elite menguasai kekayaan dunia sementara miliaran manusia berjuang sekadar bertahan hidup. Sistem ekonomi global yang berbasis riba dan spekulasi melahirkan krisis berulang, dari inflasi hingga resesi. Di bidang politik, demokrasi yang digadang sebagai solusi justru melahirkan polarisasi, manipulasi opini, dan krisis kepercayaan publik. Kepemimpinan dunia tampak kehilangan arah moral. Kebijakan dibuat bukan demi kesejahteraan umat manusia, melainkan demi kepentingan elite dan korporasi. Dunia kini seperti kapal besar tanpa nahkoda yang amanah.

Kegagalan sistem global semakin jelas terlihat ketika tatanan internasional yang dulu disebut rule-based order berubah menjadi power order. Hukum internasional sering kali hanya berlaku bagi negara lemah, sementara negara kuat bebas melanggarnya. Palestina menjadi contoh nyata: penderitaan rakyatnya berlangsung puluhan tahun tanpa keadilan yang nyata. Di berbagai belahan dunia, konflik dipelihara demi kepentingan ekonomi dan geopolitik. Diplomasi internasional kehilangan ruh keadilan; yang berbicara bukan lagi nilai moral, melainkan kekuatan militer dan ekonomi. Kepemimpinan dunia pun mengalami krisis figur, banyak pemimpin tampil populis, namun minim visi peradaban dan integritas moral.

Di tengah situasi gelap ini, Ramadhan hadir sebagai cahaya yang menawarkan refleksi mendalam bagi umat manusia. Ramadhan bukan sekadar ritual spiritual, tetapi momentum perenungan kolektif tentang arah peradaban. Puasa mengajarkan pengendalian diri, empati terhadap yang lemah, dan kesadaran akan tanggung jawab moral. Nilai-nilai ini sangat kontras dengan dunia yang dipenuhi kerakusan, dominasi kekuatan, dan eksploitasi manusia. Ramadhan mengingatkan bahwa perubahan sejati harus dimulai dari transformasi spiritual dan moral, bukan sekadar reformasi kosmetik dalam sistem yang rusak.

Islam menawarkan konsep tatanan dunia yang berbeda: sebuah syariah world order yang berlandaskan keadilan, amanah, dan kesejahteraan umat manusia. Dalam sejarahnya, peradaban Islam pernah menjadi pusat ilmu pengetahuan, perdagangan yang adil, serta perlindungan terhadap berbagai komunitas. Prinsip syariah menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi, bukan penguasa yang bebas menindas. Ekonomi berbasis keadilan, larangan riba, distribusi kekayaan melalui zakat, serta kepemimpinan yang amanah menjadi fondasi sistem yang berorientasi pada kemaslahatan, bukan sekadar keuntungan.

Membangun tatanan dunia baru berbasis syariah bukan berarti sekadar slogan romantis, tetapi upaya serius untuk menghadirkan sistem yang menyentuh akar persoalan. Dunia membutuhkan kepemimpinan yang takut kepada Allah dan bertanggung jawab kepada rakyat, bukan hanya kepada donor politik atau kekuatan global. Dunia membutuhkan sistem ekonomi yang menyejahterakan, bukan memiskinkan. Dunia membutuhkan hukum yang adil tanpa pandang bulu, bukan hukum yang tunduk pada kepentingan geopolitik. Ramadhan mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari kesadaran kolektif umat.

Namun, cahaya Ramadhan tidak akan bermakna jika hanya berhenti pada ibadah personal. Ia harus menjadi inspirasi untuk membangun masyarakat yang lebih adil, solidaritas yang lebih kuat, serta keberanian untuk mengkritik sistem yang zalim. Umat Islam memiliki tanggung jawab moral untuk menunjukkan bahwa nilai-nilai Islam mampu menjadi solusi bagi krisis global. Dengan menjadikan Ramadhan sebagai momentum kebangkitan spiritual dan intelektual, umat dapat berkontribusi menghadirkan tatanan dunia yang lebih manusiawi.

Kegelapan dunia hari ini sebenarnya adalah panggilan perubahan. Ia menunjukkan kegagalan sistem lama dan membuka peluang lahirnya peradaban baru yang lebih adil. Ramadhan hadir sebagai pengingat bahwa di tengah gelapnya zaman, selalu ada cahaya bagi mereka yang mau kembali kepada nilai-nilai Ilahi. Jika dunia terus berjalan menuju power order yang kejam, maka umat Islam harus berani menawarkan alternatif: tatanan dunia berbasis syariah yang menjunjung keadilan, amanah, dan kesejahteraan seluruh manusia.

Pada akhirnya, Ramadhan bukan hanya bulan ibadah, tetapi juga bulan kebangkitan peradaban. Ia mengajarkan bahwa cahaya iman mampu menembus gelapnya krisis global. Dunia yang hari ini tampak runtuh membutuhkan arah baru. Dan mungkin, di tengah malam panjang peradaban modern, Ramadhan adalah fajar yang mengajak manusia kembali kepada cahaya Islam, sebuah cahaya yang tidak hanya menyelamatkan individu, tetapi juga menuntun dunia menuju tatanan yang lebih adil dan bermartabat.[] Achmad Mu’it

Loading

Views: 30

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA