Tinta Media – Ramadan mulia sudah beranjak pergi. Bulan istimewa itu membuat banyak kaum muslimin berlomba mengisinya dengan amalan terbaik. Mereka mengejar ampunan, rahmat, ijabahnya doa, serta pahala yang berlipat ganda. Semua itu dilakukan dengan penuh suka cita, terasa indah menjalaninya.
Meskipun merayakan Ramadan di tengah kesempitan karena berbagai harga kebutuhan semakin mahal, tetapi semangat taat tetap terasa. Tilawah, sedekah, iftar, kajian, saling menasihati, tempat maksiat ditutup, dan berbagai kebaikan semarak menghiasi bulan agung ini. Sungguh Ramadan membawa spirit yang bisa menembus batas keterbatasan yang di bulan lain seakan sulit dilakukan.
Ramadan memang spesial. Di antaranya karena Allah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Dengan Al-Qur’an, manusia menjalani kehidupan dengan mudah karena semua sudah dijelaskan dan sekaligus dipraktikkan oleh Rasulullah saw. Dari aspek ekonomi, pendidikan, pergaulan masyarakat, politik, pemerintahan, dan berbagai hal ada panduannya, tinggal menerapkan.
“Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang hak dan yang batil).” (TQS Al-Baqarah 185)
Sayangnya, Al-Qur’an yang diturunkan di bulan Ramadan belum dijadikan pedoman hidup. Al-Qur’an tidak sekadar bacaan, tetapi harus dipahami, diamalkan dalam kehidupan, dan diserukan/didakwahkan. Bahkan, Rasulullah saw. dan para sahabat di bulan Ramadan melakukan jihad dalam rangka untuk membebaskan manusia dari menyembah kepada makhluk agar tunduk patuh pada Pencipta, yaitu Allah Swt. Terbukti penerapan Al-Qur’an membawa rahmat bagi seluruh alam, mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju nur iman Islam.
Di sisi lain, Ramadan membawa berkah bagi semuanya, bukan hanya muslim, tetapi juga nonmuslim. Sebagai contoh, roda ekonomi berputar dinamis, berbagai komoditas barang terjual, jasa banyak yang memerlukan, apalagi moda transportasi menjelang Idul Fitri banyak yang menggunakannya. Sungguh, Ramadan memang bulan berkah. Bertambahnya kebaikan dan manfaat bisa dirasakan semua kalangan.
Meskipun Ramadan hanya satu bulan, sejatinya kita bisa menghadirkan keberkahan Ramadan terasa sepanjang tahun. Namun, semua itu perlu sinergis antara masyarakat dan pemimpin, karena keduanya punya peran yang saling terkait dan mendukung.
Hal itu sebagaimana yang pernah terjadi pada masa Rasulullah saw. yang dilanjutkan para khulafaur rasyidin dan pemimpin setelahnya. Pemimpin akan menyuasanakan agar keimanan senantiasa hadir di tengah-tengah masyarakat, baik saat Ramadan maupun setelahnya dengan berbagai langkah.
Pertama, pemimpin akan menetapkan 1 Ramadan berdasarkan rukyatul hilal global. Hal ini dilakukan untuk menyatukan perbedaan pendapat, apalagi kaum muslimin dengan banyak latar belakang, baik suku, bahasa, warna kulit, dan lainnya adalah bagaikan satu tubuh. Pemimpin akan memastikan bahwa Ramadan adalah momen menyatukan umat, baik dari sisi perasaan maupun pemikirannya.
Kedua, para pemimpin memberi contoh bagaimana menjalankan ketaatan saat Ramadan maupun setelahnya. Mereka melayani dengan asas syariat, yaitu mudah dan murah, tidak berbelit-belit. Pemimpin harus dengan kasih sayang ketika menjalankan amanah dalam mengurusi keperluan rakyat. Hal itu menjadikan rakyat mencintai pemimpin karena pemimpin juga mencintai mereka.
Ketiga, kebutuhan dasar rakyat juga disediakan oleh pemimpin dengan mudah, terjangkau, hingga gratis. Sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan, dan keamanan adalah hak rakyat dan negara wajib menyediakan sebagai bentuk tanggung jawab sebagai pemimpin. Mereka sadar bahwa jabatan adalah amanah besar dan berat hisabnya di akhirat. Dengan ketakwaan, para pemimpin akan melayani rakyat, bukan membebani.
Keempat, negara menjaga kehidupan agar berjalan tenang dengan menetapkan hukuman, bisa berupa hudud dan jinayat yang bentuk kemaksiatan dan hukumannya sudah ditentukan syariat. Takzir dan mukhalafah adalah pelanggaran yang hukumannya ditetapkan atas ijtihad pemimpin atau khalifah. Sanksi diberikan untuk memberikan efek jera/jawazir, dan penebus dosa di akhirat/jawabir.
Di bawah komando pemimpin bertakwa serta dalam sistem yang benar, yaitu Islam yang berasal dari Tuhan alam semesta, akan mudah mengajak masyarakat hidup dalam ketaatan. Keberkahan akan diturunkan sebagai bentuk balasan kepatuhan mereka.
“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS Al-A’raf 96)
Sebaliknya, hidup dalam sistem kapitalisme demokrasi seperti saat ini, Ramadan belum berpengaruh untuk menjadikan individu taat. Negara juga abai terhadap keperluan rakyat sehingga kesengsaraan masih melanda dan tindak kriminalitas tidak pernah tuntas membuat hidup cemas. Allahu a’lam.
Oleh: Umi Hanifah
Sahabat Tinta Media
![]()
Views: 24
















