Kegilaan Donald Trump: Ancaman Baru Dunia

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Nama Donald Trump kembali menjadi pusat kontroversi global. Sejak kembali memegang pengaruh besar dalam politik Amerika Serikat, berbagai kebijakannya memicu kegelisahan dunia. Dari membela Israel secara membabi buta, menerapkan tarif perdagangan secara ugal-ugalan, hingga langkah-langkah geopolitik agresif seperti menculik pemimpin negara lain, mencaplok wilayah asing, dan menyerang negara berdaulat. Semua itu memperlihatkan satu hal: politik luar negeri Amerika di bawah Trump semakin mendekati bentuk kegilaan kekuasaan.

Membela Israel Tanpa Batas

Salah satu ciri paling mencolok dari kebijakan Trump adalah dukungannya yang hampir tanpa batas kepada Israel. Dukungan ini bukan sekadar diplomasi biasa, tetapi sering kali tampak sebagai pembelaan mati-matian yang menutup mata terhadap pelanggaran hukum internasional.

Setiap kritik terhadap Israel, terutama terkait agresi militer terhadap rakyat Palestina, kerap dianggap sebagai ancaman terhadap kepentingan Amerika. Bahkan, dalam banyak kesempatan, Washington di bawah Trump menggunakan pengaruh politik dan militernya untuk melindungi Israel dari tekanan internasional.

Sikap ini membuat Amerika kehilangan posisi sebagai mediator global yang netral. Alih-alih menjadi penengah, Washington justru terlihat sebagai pihak yang memihak secara ekstrem. Konsekuensinya adalah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah serta menurunnya kepercayaan dunia terhadap diplomasi Amerika.

Tarif Perdagangan yang Ugal-Ugalan

Di bidang ekonomi global, kebijakan Trump juga menimbulkan kekacauan. Pemerintahannya menerapkan tarif impor besar-besaran terhadap banyak negara. Bahkan setelah Mahkamah Agung Amerika membatasi sebagian kebijakan tarifnya, Trump tetap bersikeras menerapkan tarif global baru sekitar 10–15 persen terhadap barang impor.

Kebijakan ini memicu kritik luas, termasuk dari kalangan bisnis di Amerika sendiri. Ribuan perusahaan menggugat kebijakan tersebut karena dianggap merugikan ekonomi dan menaikkan biaya produksi.

Tarif yang diterapkan secara sepihak ini juga memicu ketegangan perdagangan global. Negara-negara mitra dagang Amerika menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk proteksionisme ekstrem. Bahkan ancaman tarif Trump sempat mengguncang pasar keuangan Amerika, memicu penurunan tajam indeks saham pada Januari 2026.

Alih-alih memperkuat ekonomi dunia, kebijakan ini justru berpotensi memperbesar konflik ekonomi global.

Politik Penculikan Presiden

Jika kebijakan ekonomi Trump dianggap keras, pendekatannya terhadap negara-negara yang dianggap lawan bahkan lebih ekstrem. Dalam konflik dengan Venezuela, tindakan yang menyerupai penculikan terhadap pemimpin negara tersebut menjadi salah satu simbol paling kontroversial dari kebijakan luar negeri Amerika.

Tindakan seperti ini mencerminkan sikap bahwa hukum internasional dapat diabaikan ketika bertentangan dengan kepentingan geopolitik Amerika. Bagi banyak negara, ini adalah preseden berbahaya.

Jika negara adidaya merasa bebas menculik pemimpin negara lain, maka tatanan hukum internasional yang dibangun sejak Perang Dunia II bisa runtuh. Dunia berisiko kembali ke era politik kekuatan, di mana yang kuat bebas menindas yang lemah.

Ambisi Mencaplok Greenland

Kontroversi Trump juga muncul ketika ia menunjukkan ambisi untuk mencaplok Greenland, wilayah otonom yang berada di bawah kerajaan Denmark.

Ide membeli Greenland sebenarnya pernah muncul pada masa lalu, tetapi Trump membawanya kembali secara serius ke panggung politik internasional. Banyak pihak melihatnya sebagai contoh mentalitas imperialisme abad ke-19 yang tidak relevan dengan dunia modern.

Upaya tersebut memicu ketegangan diplomatik antara Amerika Serikat dan Denmark. Bahkan ancaman kebijakan terkait Greenland ikut mengguncang pasar keuangan Amerika karena memicu ketidakpastian global.

Langkah ini menunjukkan bahwa geopolitik Trump sering kali didorong oleh logika ekspansi dan dominasi, bukan kerja sama internasional.

Serangan terhadap Iran

Ketegangan semakin meningkat ketika Amerika Serikat bersama Israel melakukan serangan terhadap Iran. Serangan tersebut memicu kekhawatiran dunia akan kemungkinan perang besar di Timur Tengah.

Iran adalah salah satu kekuatan utama di kawasan itu. Konflik terbuka dengan negara tersebut berpotensi menyeret banyak negara lain ke dalam konfrontasi militer.
Bagi banyak pengamat, tindakan ini menunjukkan bahwa pemerintahan Trump lebih memilih pendekatan militer dibanding diplomasi. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa perang di Timur Tengah hampir selalu berujung pada instabilitas yang berkepanjangan.

Dunia Butuh Khilafah

Serangkaian kebijakan Trump, mulai dari dukungan ekstrem terhadap Israel, perang tarif global, tindakan agresif terhadap negara lain, hingga ambisi geopolitik ekspansionis, memunculkan pertanyaan besar tentang masa depan tatanan dunia. Apakah dunia akan kembali ke era politik kekuatan, di mana negara besar bertindak semaunya? Atau justru muncul perlawanan global terhadap pendekatan unilateral seperti ini?

Yang jelas, kebijakan-kebijakan tersebut telah memperlihatkan satu hal: stabilitas dunia tidak lagi dapat dianggap sebagai sesuatu yang pasti.

Dalam situasi seperti ini, dunia membutuhkan kepemimpinan global yang mengutamakan hukum internasional, kerja sama antarnegara, dan perdamaian. Tanpa itu, kegilaan kekuasaan bukan hanya menjadi masalah satu negara, tetapi bisa berubah menjadi ancaman bagi seluruh umat manusia.

Di tengah kegilaan kebijakan global yang sarat standar ganda dan dominasi kekuatan besar, dunia Islam sejatinya memiliki potensi besar untuk keluar dari lingkaran ketidakberdayaan. Solusi alternatif yang sering diabaikan adalah bersatunya negeri-negeri Muslim dalam satu kepemimpinan politik yang menaungi seluruh umat, yakni Khilafah. Dengan persatuan tersebut, negeri-negeri Muslim yang kaya sumber daya alam, memiliki populasi besar, serta posisi geopolitik strategis dapat menjadi kekuatan global yang mampu melindungi kepentingan umat, menghentikan agresi terhadap negeri-negeri Muslim, dan menegakkan keadilan di panggung internasional. Tanpa persatuan politik yang kuat, dunia Islam akan terus tercerai-berai, mudah ditekan, dan menjadi arena permainan kekuatan besar dunia.[] Achmad Mu’it

Loading

Views: 17

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA