Tinta Media – Bulan Rajab bukan sekadar penanda waktu dalam kalender Hijriah. Ia adalah bulan haram, bulan yang dimuliakan Allah, yang seharusnya mengundang perenungan mendalam umat Islam tentang arah sejarah, kondisi umat, dan tanggung jawab masa depan. Dalam Rajab, sejarah Islam menyimpan dua wajah yang kontras yakni kemuliaan peristiwa agung dan luka panjang peradaban.
Di bulan inilah terjadi Isra’ Mikraj, perjalanan luar biasa Rasulullah SAW yang meneguhkan posisi shalat sebagai tiang agama dan menegaskan hubungan langsung umat dengan Rabb-nya. Namun Rajab juga menjadi saksi runtuhnya Khilafah Islamiyah Utsmaniyah pada 28 Rajab 1342 H, sebuah peristiwa yang mengakhiri institusi politik pemersatu umat selama lebih dari 13 abad. Tak lama setelahnya, dunia Islam menyaksikan tragedi besar lain: berdirinya negara Israel di atas tanah Palestina, menjadikan Palestina terjajah hingga hari ini.
Pertanyaannya kemudian bukan sekadar apa yang terjadi, tetapi mengapa semua ini terjadi?
Jawabannya pahit namun harus jujur diakui. Akar utama tragedi umat adalah kelemahan internal kaum Muslim sendiri, yang berpuncak pada runtuhnya Khilafah Utsmaniyah. Ketika institusi pelindung agama dan umat itu roboh, umat Islam kehilangan perisai politiknya. Hukum Islam tidak lagi menjadi rujukan, dan wilayah-wilayah Muslim terpecah menjadi negara-bangsa kecil yang rapuh.
Kondisi ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Makar musuh-musuh Islam, terutama Inggris dan sekutunya, memainkan peran besar. Dengan strategi divide et impera, mereka menyusupkan ide, mendanai pemberontakan, dan merancang peta dunia pasca-Khilafah. Konferensi demi konferensi dilakukan tanpa melibatkan umat Islam, tetapi menentukan nasib mereka.
Salah satu racun paling mematikan yang ditanamkan adalah nasionalisme. Umat yang sebelumnya dipersatukan oleh akidah Islam dipecah berdasarkan ras, bangsa, dan wilayah. Seorang Muslim Arab dipisahkan dari Muslim Turki, Kurdi, atau Nusantara. Loyalitas berpindah dari Islam kepada bendera-bendera buatan penjajah. Padahal Rasulullah SAW telah memperingatkan bahaya ‘ashabiyah yang memecah belah umat.
Lebih tragis lagi, proses ini diperparah oleh gerakan pemberontakan dan disintegrasi yang dipimpin elite lokal, rezim-rezim Arab dan Muslim yang berkhianat. Atas nama “kemerdekaan”, mereka justru menjadi kaki tangan penjajah, menggantikan Khilafah dengan rezim-rezim sekuler yang melanggengkan hukum buatan manusia dan menindas umatnya sendiri. Palestina adalah bukti paling nyata, dikhianati oleh para penguasa di sekitarnya, sementara penjajah Zionis terus dilindungi.
Namun Rajab tidak hanya menyimpan luka. Ia juga adalah bulan kemenangan umat Islam. Dalam Rajab, kaum Muslim meraih kemenangan besar dalam Perang ‘Ain Jalut, menghancurkan mitos kekuatan Mongol yang sebelumnya tak terkalahkan. Di bulan ini pula terjadi futuhat Palestina, pembebasan Baitul Maqdis dalam sejarah Islam. Bahkan Perang Tabuk, simbol kesiapsiagaan politik dan militer negara Islam, juga terjadi pada bulan Rajab.
Fakta ini menegaskan satu hal penting yakni kemenangan umat tidak bergantung pada jumlah atau kekuatan materi semata, tetapi pada kepemimpinan Islam dan kesatuan umat di bawah syariah.
Maka, Rajab seharusnya menjadi momentum muhasabah sekaligus kebangkitan. Bukan untuk meratap tanpa arah, apalagi berdamai dengan penjajahan dan ketertindasan.
Pertanyaan paling krusial hari ini adalah apa yang harus kita lakukan?
Pertama, melanjutkan dakwah Islam secara kaffah, bukan Islam yang dipersempit menjadi ritual individual, tetapi Islam sebagai sistem kehidupan. Dakwah ini harus mengarahkan umat pada penerapan syariah Islam secara menyeluruh, termasuk dalam aspek politik, ekonomi, dan pemerintahan.
Kedua, umat harus memahami bahwa Khilafah bukan ide asing atau romantisme sejarah, melainkan ajaran Islam yang disepakati ulama mu‘tabar. Khilafah adalah institusi yang menjalankan hukum Allah, menjaga agama, melindungi darah kaum Muslim, dan menyatukan wilayah Islam. Mengingkari kewajibannya berarti mengabaikan bagian penting dari syariat.
Ketiga, penting untuk membangun kesadaran politik umat. Politik tidak boleh diserahkan kepada elite sekuler dan pragmatis. Umat harus paham bahwa politik adalah bagian dari Islam, dan bahwa penderitaan mereka, kemiskinan, konflik, penjajahan, berakar pada sistem kufur yang diterapkan hari ini.
Keempat, dari kesadaran itu harus lahir opini umum yang benar, berbasis akidah Islam. Opini yang menolak penjajahan, menolak nasionalisme sempit, dan menuntut penerapan hukum Allah. Tanpa opini umum yang lurus, perubahan hanya akan menjadi wacana elite, bukan gerakan umat.
Terakhir, semua ini harus bermuara pada pembangunan dukungan umat (qaidah sya’biyah) yang kuat dan luas. Perubahan besar dalam sejarah Islam selalu ditopang oleh dukungan umat yang sadar, konsisten, dan terorganisir.
Rajab mengajarkan kita bahwa kemuliaan dan kehinaan umat bergantung pada sikap mereka terhadap Islam. Ia adalah bulan peringatan, sekaligus panggilan. Apakah umat akan terus menjadi penonton sejarah, atau kembali menjadi pelakunya? Jawabannya ditentukan oleh pilihan kita hari ini.[] Achmad Mu’it
![]()
Views: 53













