Rajab dan Isra Mikraj: Momentum Membumikan Hukum Langit

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Peringatan Isra Mikraj 2026 yang jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan 27 Rajab 1447 Hijriah, menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam. Momentum ini relevan untuk memperkuat keimanan sekaligus merenungkan kembali posisi Islam di tengah tantangan kehidupan modern yang kian kompleks.

 

Isra Mikraj merupakan peristiwa agung yang dialami Nabi Muhammad saw., sarat dengan makna spiritual, ideologis, dan peradaban. Peristiwa ini tidak hanya layak dikenang secara seremonial, tetapi juga dipahami secara mendalam sebagai pedoman dalam menata kehidupan umat Islam.

 

Isra Mikraj terdiri atas dua fase penting. Isra adalah perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, sedangkan Mikraj adalah kenaikan beliau ke sidratulmuntaha untuk menerima perintah salat. Peristiwa luar biasa ini terjadi pada masa yang sangat berat bagi Rasulullah saw., yang dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn (Tahun Kesedihan), setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib. Dalam kondisi tekanan psikologis dan sosial tersebut, Allah Swt. memberikan penguatan luar biasa melalui Isra Mikraj, sebagaimana difirmankan dalam QS Al-Isra ayat 1.

 

Secara historis, Isra Mikraj tidak berdiri sendiri. Tak lama setelah peristiwa ini, terjadi Baiat Aqabah Kedua yang menandai lahirnya dukungan politik bagi dakwah Islam di Madinah. Hal ini menunjukkan bahwa Isra Mikraj bukan sekadar momentum spiritual individual, melainkan juga pintu gerbang perubahan sosial dan politik umat Islam. Dari sinilah Islam bertransformasi dari dakwah personal menuju tatanan masyarakat dan negara yang menerapkan hukum Allah secara menyeluruh.

 

Namun, dalam pemaknaan kontemporer, hikmah Isra Mikraj kerap direduksi hanya pada kewajiban salat sebagai ibadah mahdhah. Padahal, salat memiliki makna yang jauh lebih luas. Dalam berbagai hadis, istilah “menegakkan salat” juga digunakan sebagai kinayah (ungkapan simbolis) untuk menegakkan hukum Allah secara menyeluruh. Dengan demikian, salat bukan sekadar ritual, melainkan fondasi ketaatan total terhadap syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

 

Realitas umat Islam hari ini menunjukkan adanya jarak yang lebar antara ajaran Islam dan sistem kehidupan yang diterapkan. Sejak runtuhnya Khilafah Islamiah 105 tahun lalu, umat Islam kehilangan institusi politik yang menyatukan mereka dan menerapkan syariat Islam secara kafah. Sebagai gantinya, sistem sekuler demokrasi dan kapitalisme global mendominasi kehidupan dunia, termasuk di negeri-negeri muslim. Sistem ini secara ideologis memisahkan agama dari kehidupan serta hukum dari wahyu, yang pada hakikatnya bertentangan dengan Islam sebagai agama sekaligus sistem hidup.

 

Dampaknya tampak nyata dalam berbagai krisis multidimensi: ketimpangan ekonomi struktural, konflik politik berkepanjangan, krisis kemanusiaan, hingga kerusakan lingkungan. Dunia, termasuk umat Islam, berada di bawah hegemoni sistem global yang menguntungkan segelintir elite, sementara mayoritas manusia menanggung penderitaan. Tragedi kemanusiaan di Palestina—tanah yang diberkahi dan menjadi titik awal Isra Rasulullah saw.—menjadi simbol nyata ketidakadilan global. Demikian pula penderitaan umat Islam di berbagai wilayah lain akibat konflik, diskriminasi, dan penindasan.

 

Dalam konteks inilah bulan Rajab dan peringatan Isra Mikraj seharusnya menjadi momentum refleksi kolektif untuk membumikan kembali hukum Allah dari langit ke realitas kehidupan. Upaya ini bukan melalui kekerasan atau paksaan, melainkan melalui kesadaran ideologis, dakwah pemikiran, dan perjuangan politik yang berlandaskan syariat. Menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang adil dan rahmatan lil-‘alamin dipandang sebagai solusi sistemis atas krisis global yang tengah melanda umat manusia.

 

Umat Islam memiliki sejarah panjang peradaban gemilang di bawah kepemimpinan Islam, mulai dari masa Khulafaur Rasyidin hingga para pemimpin besar seperti Shalahuddin Al-Ayyubi dan Muhammad Al-Fatih. Keyakinan akan kemampuan umat untuk bangkit kembali bukanlah nostalgia kosong, melainkan optimisme historis yang berakar pada akidah dan kesadaran kolektif.

 

Dengan demikian, hikmah Isra Mikraj 2026 bukan sekadar ajakan untuk memperbaiki kualitas salat, tetapi juga seruan untuk mengembalikan Islam sebagai pedoman hidup yang menyeluruh. Momentum ini menjadi pengingat bahwa kemuliaan umat sangat bergantung pada ketaatan terhadap hukum Allah. Ketika umat mampu menyatukan spiritualitas dan perjuangan peradaban, maka kebangkitan Islam bukanlah utopis, melainkan keniscayaan sejarah. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Hanifah,

Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 11

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA