Tinta Media – Setiap tahun di bulan Rajab, umat Islam memperingati salah satu peristiwa penting dalam sejarah Islam, yakni Isra Mikraj. Isra Mikraj merupakan peristiwa luar biasa ketika Allah Swt. memperjalankan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, kemudian dari Masjidil Aqsa menembus lapisan langit pertama hingga langit ketujuh, sampai ke sidratulmuntaha.
Peristiwa Isra Mikraj memiliki makna yang sangat penting bagi umat Islam. Pada momen inilah Rasulullah saw. bertemu langsung dengan Allah Swt. dan menerima wahyu tanpa perantara Malaikat Jibril, yaitu kewajiban salat lima waktu. Hal ini menunjukkan kedudukan salat yang sangat agung dalam Islam, sehingga salat disebut sebagai tiang agama, fondasi keimanan, serta sarana komunikasi langsung antara hamba dan Allah Swt. (liputan6.com, 10/01/2026).
Namun, tidak sedikit umat Islam yang memaknai Rajab dan Isra Mikraj hanya sebatas kisah perjalanan Nabi Muhammad saw. ke langit dan turunnya perintah salat. Padahal, selain kewajiban salat lima waktu, terdapat banyak peristiwa penting lain yang dialami Rasulullah saw. selama Isra Mikraj. Salah satunya adalah pertemuan Nabi Muhammad saw. dengan para nabi terdahulu.
Sesampainya di Masjidil Aqsa, Rasulullah saw. melaksanakan salat dua rakaat dan menjadi imam bagi para nabi terdahulu. Menurut Prof. Dr. Muhammad Rawwas Qal’ah Ji dalam kitab Qira’ah Siyasiyah li Sirah Nabawiyah, peristiwa ini mengandung makna yang sangat penting, yakni sebagai isyarat bahwa kepemimpinan dunia akan berada di tangan umat Islam, umat Nabi Muhammad saw. Terlebih, saat peristiwa Isra Mikraj terjadi sekitar tahun 621 M, kekuasaan dunia didominasi oleh dua imperium besar, yaitu Kekaisaran Bizantium (Romawi Timur) dan Kekaisaran Persia (Sasaniyah).
Tidak lama setelah peristiwa Isra Mikraj, terjadi Baiat Aqabah, yaitu perjanjian sumpah setia antara Rasulullah saw. dan penduduk Yatsrib (Madinah) di sebuah tempat bernama Aqabah. Baiat Aqabah berlangsung dua kali, yakni Baiat pertama pada tahun ke-12 kenabian dan Baiat kedua pada tahun ke-13 kenabian.
Peristiwa inilah yang membuka jalan bagi hijrahnya Rasulullah saw. dan kaum muslimin ke Madinah. Isyarat kepemimpinan umat Islam pun terwujud ketika Rasulullah saw. hijrah dan membangun masyarakat Islam di Madinah dengan menerapkan hukum-hukum Allah Swt. Oleh karena itu, Isra Mikraj bukan sekadar momentum spiritual, melainkan juga menjadi gerbang perubahan politik umat secara ideologis.
Al-Qur’an menyebutkan bahwa umat Islam adalah khairu ummah, umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Perwujudan umat terbaik meniscayakan umat Islam tampil sebagai pemimpin dalam seluruh aspek kehidupan. Umat Islam harus menjadi pemimpin peradaban, pembawa rahmat bagi seluruh alam (rahmatan lil-‘alamin), serta teladan bagi bangsa-bangsa lain.
Ketika berada di Makkah, Rasulullah saw. menjalankan misi kenabian. Namun, setelah hijrah ke Madinah, selain misi kenabian, beliau juga diperintahkan untuk menjalankan misi kepemimpinan dengan membangun negara Islam. Rasulullah saw. menerapkan syariat Islam sebagai aturan hidup dan memimpin seluruh penduduk Madinah, baik kaum Muslim, Nasrani, maupun Yahudi. Setelah wafatnya Rasulullah saw., misi kenabian berakhir, tetapi misi kepemimpinan umat terus berlanjut melalui para khalifah.
Hikmah Isra Mikraj tentang perintah salat oleh sebagian umat Islam saat ini sering kali dimaknai sebatas ibadah mahdhah. Padahal, terdapat makna tersirat bahwa salat juga menjadi kinayah dalam hadis tentang larangan memerangi seorang imam selama ia masih menegakkan salat, yang maknanya adalah menegakkan hukum Allah Swt.
Ketika Khilafah masih tegak, hanya hukum Allah Swt. yang diterapkan di tengah-tengah umat. Namun, pascaruntuhnya Khilafah, selama lebih dari satu abad umat Islam tidak dapat menerapkan syariat Islam secara kafah di seluruh penjuru dunia. Runtuhnya Khilafah merupakan bencana besar bagi umat Islam karena dunia kemudian berada di bawah dominasi sistem kapitalisme global.
Sayangnya, umat Islam belum sepenuhnya menyadari bahwa penerapan sistem sekuler demokrasi secara global merupakan bentuk penentangan terhadap hukum Allah Swt. Ditinggalkannya syariat Islam telah melahirkan bencana politik dan ekonomi struktural, bencana sosial-kemanusiaan, hingga bencana alam. Oleh karena itu, memperjuangkan kembalinya kepemimpinan Islam atau Khilafah menjadi sebuah keharusan bagi seluruh umat Islam.
Maka, Rajab dan Isra Mikraj seharusnya dijadikan momentum untuk membumikan kembali hukum Allah Swt., dengan mencampakkan hukum sekuler kapitalisme dan menegakkan syariat Islam secara kafah. Menegakkan Khilafah merupakan perjuangan yang mulia, penting, dan sangat mendesak untuk segera diwujudkan.
Para pemimpin negeri-negeri muslim juga seharusnya menyerukan kepada tentara muslim untuk membebaskan Palestina dan menegakkan Khilafah Rasyidah. Palestina, yang menjadi tempat perjalanan Isra Mikraj Rasulullah saw. dan pernah dibebaskan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, kini berada di bawah penjajahan entitas Yahudi. Hal ini menunjukkan betapa lemahnya kondisi umat Islam saat ini.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw. bahwa umat Islam di akhir zaman bagaikan buih di lautan—jumlahnya banyak, tetapi tidak memiliki kekuatan. Palestina harus segera dibebaskan dari penjajahan. Demikian pula negeri-negeri muslim yang terpecah belah harus disatukan. Kezaliman terhadap kaum muslim di Rohingya, Uighur, India, Rusia, dan Filipina Selatan juga harus dihentikan.
Partai Islam ideologis harus terus berjuang tanpa henti untuk mengembalikan kemuliaan umat Islam dengan membimbing dan memimpin umat agar kembali menjalani kehidupan Islam. Dengan pemikiran Islam dan tujuan yang sama, yakni menegakkan Daulah Islamiah, kemuliaan Islam dan umat hanya akan terwujud ketika umat Islam bersatu dan bernaung di bawah Daulah Islamiah. Wallahualam bissawab.
Oleh: Fitri Andriani,
Aktivis Dakwah Remaja
![]()
Views: 19
















