Tinta Media – Pernah enggak Anda mengalami kesulitan ketika hendak memulai menuliskan kalimat pertama pada paragraf pertama? Padahal ide untuk menulis bahkan kerangka karangan juga sudah terbayang jelas di benak. Tapi anehnya, ketika mau menulis kok terasa sulit. Begitu bukan yang Anda rasakan?
Masalah tersebut terjadi karena semuanya terbayang berbarengan di kepala. Jadi membuat Anda kehilangan fokus adegan apa yang mau ditulis duluan. Adegan yang mau ditulis duluan di paragraf pertama itu disebut ๐๐๐๐๐.
๐ด๐๐๐๐ merupakan sudut pandang penulisan yang pertama kali ditulis di kalimat pertama pada paragraf pertama. Istilah ๐๐๐๐๐ ini diadopsi dari dunia fotografi. Nah, bila saya sedang merasa kesulitan membuat kalimat pertama ketika menulis karangan khas (๐๐๐๐ก๐ข๐๐ ๐๐๐ค๐ /FN), biasanya saya akan bertindak seolah-olah sebagai fotografer yang sedang memotret suatu kejadian.
Dalam demonstrasi, misalnya. Seorang fotografer bisa saja memotret dari jauh sekumpulan orang yang sedang berdemo untuk menunjukkan suasana; atau fokus kepada salah seorang pendemo yang mengacungkan poster sehingga dengan mudah pembaca menangkap pesan yang disampaikan poster tersebut.
Coba perhatikan foto yang dipotret fotografer tersebut (enggak ada di unggahan status ini, semuanya termasuk fotografernya hanya ada di benak saya dan Anda saja, heโฆ heโฆ). Foto pertama kelihatan sekerumunan orang di pinggir jalan. Sebagian ada yang tampak mengangkat poster, ada beberapa yang membentangkan spanduk, dan yang di atas mobil komando tampak sedang orasi. Enggak ada adegan lain kan? Misal, adegan ketika mereka masih di rumahnya masing-masing, atau adegan beragam laku yang mereka perbuat usai demo. Sama sekali tidak ada!
Jadi adegannya hanya itu saja bukan? Hanya semua yang tertangkap kamera dalam sekali jepret saja. Maka Anda tuliskan saja yang Anda lihat di foto tersebut, jangan tuliskan hal lain yang tidak ada di foto. Camkan itu! Heโฆ heโฆ
Begitu juga dengan foto yang kedua. Mesti di dalam foto itu hanya ada satu adegan saja bukan? Misalnya, foto orang yang sedang mengacungkan poster. Pastilah yang terlihat adalah foto orang yang sedang mengacungkan poster. Sama sekali tidak ada adegan orang tersebut berangkat dari rumah untuk pergi demo, tidak ada pula adegan orang tersebut makan mi ayam setelah demo. Padahal sejatinya (anggap saja begitu), dia itu berangkat demonya dari rumah, usai demo makan mi ayam. Oke deh saya ngaku, saya sih yang biasanya usai demo lalu makan mi ayam. Heโฆ heโฆ
๐๐๐ซ๐ ๐๐๐ง๐ฎ๐ฅ๐ข๐ฌ๐ค๐๐ง๐ง๐ฒ๐
Maka, ketika Anda hendak menulis angle, jangan lupa bersikaplah seperti fotografer. Potretlah salah satu adegan dalam benak Anda. Bayangkan potret tersebut kuat-kuat, jangan pindah ke adegan lain. Perhatikan semua yang ada di potret tersebut, lalu tuliskanlah.
Oke, dari seluruh rangkaian peristiwa demonstrasi tersebut sudah dipotret salah satu adegannya. Lantas bagaimana menuliskannya? Menuliskan angle bisa menggunakan segala macam kemungkinan dari urutan rumus 5 W + 1 H (๐คโ๐ [siapa], ๐คโ๐๐ก [apa/sedang apa], ๐คโ๐๐ [kapan], ๐คโ๐๐๐ [di mana], ๐คโ๐ฆ [mengapa], dan โ๐๐ค [bagaimana]).
Pilihlah salah satunya yang dianggap: lebih menarik, lebih penting, lebih menggambarkan suasana peristiwa, lebih berdampak, atau lebih lainnya yang memang dinilai layak untuk dituliskan pertama kali.
Bila memotret suasana, salah satu kemungkinannya bisa seperti ini:
Sekitar 20 ribu massa ormas Islam dari Jabodetabek dan sekitarnya melakukan aksi tolak pemimpin kafir, Ahad (4/9/2016) di silang Monas sisi patung kuda, Jakarta. Spanduk dan poster bertuliskan ๐ป๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐พ๐๐๐๐ dan kalimat yang senada dibentangkan dan diacungkan para demonstran. Di atas mobil komando, dengan lantang orator pun berteriak, โHaram memilih pemimpin kafir!โ
Nah, begitu juga saya ketika hendak menulis karangan khas ๐ฝ๐๐๐๐ ๐ผ๐ก๐ข ๐ท๐๐โ๐๐๐๐๐ก๐ (silakan klik https://bit.ly/3tMuXMK). Banyak adegan yang terbayang di dalam benak. Ada adegan ketika sidang BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia); ada adegan ketika sidang Konstituante; dan adegan-adegan lainnya.
Saat mau menuliskannya, saya memotret suasana sidang Konstituante. Mengapa? Karena itu yang paling terbayang, maklumlah dari kecil hingga dewasa saya tinggal di Bandung, dan Gedung Merdeka (yang dulu digunakan untuk Sidang Konstituante) sudah sering saya lihat. Jadi bagi saya lebih mudah membayangkan gedung tersebut.
Bila ๐๐๐๐๐ suasana demo di atas diadaptasi menjadi angle suasana karangan khas ๐ฝ๐๐๐๐ ๐ผ๐ก๐ข ๐ท๐๐โ๐๐๐๐๐ก๐, maka rekonstruksinya bisa seperti di bawah ini:
Sekitar 550 orang berkumpul di dalam Gedung Merdeka, Bandung pada 10 November 1956. Dalam bangunan klasik dua tingkat berlantaikan marmer mengkilap khas kolonial ๐๐๐ก ๐๐๐๐, Presiden Soekarno melantik wakil rakyat hasil pemilu 1955 sebagai anggota Konstituante (lembaga yang membahas perubahan dasar negara dan undang-undang dasar). Pelantikan tersebut menandakan pula dimulainya sidang.
Sedangkan ๐๐๐๐๐ pemotretan yang fokus kepada salah satu detail (misal: pendemo yang mengacungkan poster), salah satu kemungkinannya seperti ini:
Sembari mengacungkan poster bertuliskan ๐ป๐๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐ ๐พ๐๐๐๐, Joko Prasetyo bersama ribuan demonstran lainnya yang berasal dari Jabodetabek dan sekitarnya, berteriak, โAllahu Akbar!โ ketika mendengar orator meneriakkan haramnya memilih pemimpin kafir, Ahad (4/9/2016) di silang Monas sisi patung kuda, Jakarta.
๐ด๐๐๐๐ tersebut bila diaplikasikan kepada FN ๐ฝ๐๐๐๐ ๐ผ๐ก๐ข ๐ท๐๐โ๐๐๐๐๐ก๐ maka kalimat pertama sekaligus paragraf pertamanya bisa seperti ini:
Dengan lantang dan blak-blakan Buya Hamka mengingatkan. โBila negara kita ini mengambil dasar negara berdasarkan Pancasila, sama saja kita menuju jalan ke nerakaโฆ,โ tegas ulama yang berafiliasi ke Partai Masyumi, dalam pidatonya di hadapan lebih dari 500 peserta Sidang Konstituante (1956-1959) di Gedung Merdeka, Bandung.
Oh iya, pembahasan penulisan angle banyak persamaannya dengan pembahasan penulisan ๐๐๐๐ (teras/paragraf pertama) karena seperti yang sudah disinggung, angle adalah kalimat pertama pada paragraf pertama alias bagian dari teras. Jadi, mau tidak mau, ketika salah satunya dibahas, lainnya mesti saja terbahas.
Jadi bila Anda kesulitan menuliskan paragraf pertama, bahkan kalimat pertama, jangan lupa potret saja salah satu adegan peristiwa di benak Anda. Bekukan adegan tersebut lalu tuliskanlah di kalimat pertama dan seterusnya hingga menjadi paragraf pertama. Coba praktikkan deh, semoga menulis kalimat pertama dan paragraf pertama jadi lebih mudah. ๐ด๐๐๐๐๐.[]
Depok, 25 Dzulhijjah 1443 H | 24 Juli 2022 M
Joko Prasetyo
Jurnalis
![]()
Views: 13












