Tinta Media – Manusia secara fitrah memiliki naluri berkasih sayang (gharizah nau’), sehingga ketertarikan kepada lawan jenis dan keinginan untuk menikah adalah hal natural. Namun, realitas hari ini menunjukkan hal berbeda. Unggahan viral di media sosial Threads—yang disukai lebih dari 12.500 kali dan ditayangkan ulang 207.000 kali—menyatakan bahwa generasi muda lebih takut miskin daripada takut tidak menikah (Kompas.com, 22/11/2025). Fakta ini menunjukkan bahwa banyak pemuda sepakat dengan pandangan tersebut, sebuah konsekuensi dari hidup dalam sistem sekuler kapitalisme yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama hanya dianggap urusan privat, sementara urusan sosial diatur dengan standar manusia. Dalam sistem ini, tolok ukur kebahagiaan adalah kepuasan materiel.
Tak heran jika manusia kemudian mengejar materi dengan segala cara. Ukuran sukses dilihat dari rumah, kendaraan, jabatan, status sosial, dan predikat kaya. Mereka berpikir ketika sudah kaya, semua keinginan—termasuk yang melanggar moral—dapat terpenuhi. Sebaliknya, kemiskinan dipandang sebagai kehancuran masa depan. Di era serba mahal ini, untuk menghidupi diri sendiri saja sudah sulit, apalagi memikirkan biaya pernikahan dan nafkah keluarga. Maka, pernikahan pun tampak menakutkan: marriage is scary.
Tak mengherankan jika unggahan di Threads tadi begitu relevan. Banyak pemuda akhirnya terjebak dalam rutinitas mengejar materi semata agar tidak mendapat label “miskin”. Semua ini bertolak belakang dengan sistem Islam yang memberi panduan hidup menyeluruh agar manusia selamat di dunia dan akhirat. Islam menetapkan bahwa kebahagiaan hakiki bukanlah materi, tetapi rida Allah. Ketika syariat diterapkan, negara mengelola sumber daya alam untuk dikembalikan kepada rakyat secara merata, ditopang ketakwaan individu dan kontrol masyarakat. Dengan demikian, beban hidup tidak seberat dalam sistem kapitalisme, dan pemuda tidak takut menikah hanya karena nafkah.
Dalam Islam, pernikahan adalah ibadah yang memenuhi fitrah manusia dan menjadi jalan sah dalam menyalurkan naluri berkasih sayang. Rasulullah saw. bersabda, “Apabila seorang hamba menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka bertakwalah kepada Allah untuk separuh yang lainnya.” (HR. Al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman, dinilai hasan oleh sebagian ulama)
Beliau juga bersabda, “Wahai para pemuda, barang siapa di antara kalian mampu menikah, maka menikahlah. Sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kemaluan. Dan barang siapa tidak mampu, hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi pengendali baginya.“ (HR. Bukhari dan Muslim)
Pernikahan bukan beban, meski bukan pula sesuatu yang ringan, tetapi ia adalah ibadah agung yang menjaga diri dari zina dan mendatangkan pahala sepanjang hidup.
Dalam pernikahan, suami istri adalah sahabat sekaligus pakaian bagi satu sama lain: saling melindungi, menutupi aib, menopang, dan membantu menghadapi suka duka kehidupan. Ketika pemuda memandang pernikahan sebagaimana pandangan Islam, maka rumah tangga akan menuju sakinah, mawaddah, wa rahmah—tenang, penuh cinta, dan kasih sayang. Maka sejatinya, marriage is not scary. Wallahualam bissawab.
Oleh: Tri W.,
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 35





