Di Balik New Gaza dan Dewan Perdamaian Gaza

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pemerintah Amerika Serikat mengumumkan rencana mereka “New Gaza”, yakni membangun Gaza baru, berupa pembangunan dari nol di wilayah Gaza, Palestina, yang telah hancur. Mereka akan membangun puluhan gedung pencakar langit yang membentang sepanjang pantai dan bekas perumahan di kawasan Rafah yang telah luluh lantak. Presentasi terkait proyek ini telah disampaikan di sela kegiatan Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss (BBC News Indonesia, 23/01/2026).

 

Sementara itu, Dewan Perdamaian Gaza—Board of Peace (BoP) Gaza—adalah organisasi internasional yang diinisiasi Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dengan tujuan untuk menyelesaikan konflik di Jalur Gaza, Palestina. Anggota BoP terdiri dari 26 negara, di antaranya Arab, Israel, dan Indonesia, yang telah meneken Piagam BoP di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) World Economic Forum di Davos, Swiss, pada 22 Januari 2026. Pihak Gedung Putih mengeklaim bahwa inisiasi tersebut untuk membangun kembali Gaza yang memberi perdamaian dan stabilitas.

 

Gedung Putih menyatakan bahwa “New Gaza” dan “Dewan Perdamaian Gaza” dipandang sebagai langkah maju penting dalam mewujudkan visi Presiden Trump untuk mengubah Gaza dari wilayah konflik dan keputusasaan menjadi wilayah yang ditandai dengan peluang, harapan, dan vitalitas (CNN Indonesia, 30/01/2026).

 

Apa yang telah digagas, disampaikan, dan diwujudkan oleh Amerika sebagai “New Gaza” dan “Dewan Perdamaian Gaza” adalah sesuatu yang tampak sebagai sebuah solusi untuk menyelesaikan konflik yang terjadi di Palestina. Seolah-olah dengan dua hal tersebut, maka kerusakan, kehancuran, dan peperangan yang ada di Palestina akan selesai, serta akan tercipta kondisi yang aman, tenteram, dan kondusif bagi rakyat Palestina.

 

Namun, jika kita mau menelaah lebih jauh, apakah benar solusi yang ditawarkan dan yang sedang dijalankan oleh dunia internasional itu akan bisa menyelesaikan konflik yang terjadi di Palestina? Benarkah dengan membangun kembali Palestina, yang tentu dengan berbagai syarat, akan membebaskan Palestina dari konflik dan ancaman genosida?

 

Jika kita merunut dari awal konflik yang terjadi di Palestina, maka akar masalah yang sebenarnya adalah adanya penjajahan, perampasan hak dasar, serta kejahatan dan pelanggaran sistematis terhadap hukum humaniter internasional hingga menuju pada genosida yang dilakukan oleh Israel atas rakyat Palestina. Dan kita semua tahu siapa di belakang Israel, yang mendukung persenjataannya, yang membiarkan tindakan-tindakan brutalnya atas rakyat Palestina, tidak lain dan tidak bukan adalah Amerika itu sendiri.

 

Sekarang, ketika solusi atas perdamaian Palestina diinisiasi oleh Amerika, kemudian Israel sebagai pelaku kejahatan perang dan kemanusiaan ada di dalam keanggotaannya, apa yang bisa kita harapkan dari solusi yang ditawarkan ini? Tentu saja solusi yang ada bukanlah solusi yang berbasis keadilan. Justru solusi itu akan sangat memihak kepentingan pihak pelaku dan pendukung penjajahan, yakni Israel dan Amerika itu sendiri serta negara-negara pendukung yang lain.

 

Solusi yang ditawarkan tersebut sebenarnya hanyalah upaya Israel dan Amerika untuk menguasai Gaza secara keseluruhan dengan meninggalkan jejak perbuatan genosida yang telah mereka lakukan. Dengan melakukan pembangunan di wilayah Gaza, hal itu bisa menarik simpati dan dukungan internasional, seolah-olah mereka bukanlah pelaku kerusakan dan kehancuran di Gaza, tetapi justru sebagai penolong yang membantu memperbaiki kondisi di Gaza. Apa yang telah mereka lakukan hanyalah untuk memperkuat posisi kendali politik internasional dan untuk selanjutnya bisa menguasai serta mengendalikan Gaza (Palestina) secara total.

 

Kalau sudah seperti itu, masihkah kita percaya kepada solusi-solusi yang ditawarkan dunia internasional (khususnya Amerika Serikat)? Sebagai muslim, Allah telah mengingatkan kepada kita agar tidak menjadikan orang kafir sebagai pemimpin yang bisa menghilangkan kekuatan dan identitas keislaman kita. Maka, ketika kita mengambil solusi yang ditawarkan orang-orang kafir, bukan solusi yang kita dapatkan, tetapi justru kehancuran.

 

Gaza (Palestina) adalah milik kaum muslim. Selama kurang lebih 16 abad lamanya, ketika Palestina berada di bawah perlindungan Islam, meski di dalamnya telah tinggal beragam agama—Nasrani, Yahudi, dan Islam—kehidupan yang damai, tenteram, dan penuh kemajuan tercipta di sana. Namun, ketika institusi pelindung kaum muslim, yakni kekhilafahan Islam terakhir, runtuh, maka Islam terpecah-pecah menjadi negara-negara kecil yang lemah dan sangat mudah ditindas atau dikendalikan oleh negara-negara besar, termasuk di dalamnya Palestina yang sampai sekarang masih dalam penjajahan Israel.

 

Sekali lagi, kita tidak boleh tunduk dan patuh pada negara-negara kafir, terutama negara-negara kafir yang telah nyata memusuhi kaum muslim, apalagi memberikan dukungan dan loyalitas kita kepada mereka. Hal ini sama saja dengan menyerahkan Palestina kepada kaum kafir untuk dijajah, dieksploitasi, dan dikendalikan.

 

Umat dan penguasa dunia Islam wajib melawan semua makar yang dilakukan Amerika dan Israel untuk menguasai Gaza. Satu-satunya solusi yang bisa dilakukan untuk mewujudkan kedamaian di Gaza adalah mengusir entitas penjajah, yakni Israel, dari bumi Palestina. Hal itu hanya bisa dilakukan ketika umat Islam bersatu sehingga mempunyai kekuatan besar untuk melawan kekuatan adidaya yang sedang berkuasa saat ini di bawah komando kepemimpinan tunggal. Itulah institusi kekhilafahan Islam dengan seorang khalifah yang akan memimpin umat Islam melakukan jihad untuk membebaskan Palestina dan negeri-negeri Islam lain yang masih tertindas. Islam akan melepaskan semua rintangan yang menghalangi cahaya Islam sampai kepada manusia. Dengan kepemimpinan Islam, bumi beserta isinya akan selamat, yakni menjadi dunia yang baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, dunia yang aman, sejahtera, dengan penduduk yang beriman, bertakwa, dan bersyukur kepada Allah. Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin.

 

Sekali lagi, Gaza (Palestina) bisa bebas dan damai hanya dengan satu cara, yakni jihad oleh kaum muslim di bawah komando seorang pemimpin kaum muslim, yaitu khalifah. Maka, hal yang sangat mendesak diperlukan saat ini adalah perjuangan bersama untuk mewujudkan institusi tersebut. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Ibu Tri,

Aktivis Muslimah

Loading

Views: 1

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA