Tinta Media – Gaza, Palestina, adalah salah satu wilayah yang menjadi bukti bahwa dunia saat ini tidak dalam kondisi baik-baik saja. Sejak awal penjajahan oleh Zionis Israel pada tahun 1917, hingga hari ini rakyat Gaza masih berada dalam keadaan kritis: tanpa kemerdekaan, jauh dari kebebasan, hilangnya sistem keamanan, sulit mendapatkan makanan, minim obat-obatan, bahkan sekadar memperoleh ketenangan pun sulit.
Badan PBB untuk Pengungsian Palestina di Timur Dekat (UNRWA) menyebut bahwa hujan yang mengguyur Jalur Gaza justru memperburuk situasi di wilayah tersebut. UNRWA juga memperingatkan bahwa badai yang melanda Gaza akan menimbulkan konsekuensi bencana bagi para pengungsi.
Tenda-tenda yang menampung warga Gaza pun tak mampu menahan hujan pertama musim dingin. Banyak tenda sobek dan roboh, membuat keluarga-keluarga pengungsi tanpa perlindungan sama sekali (Antara.com, 18/11/2025).
Saat ini Gaza memasuki musim dingin. Hujan deras dan cuaca dingin semakin memperburuk kondisi. Sebagian besar warga Gaza tidak lagi memiliki rumah dan terpaksa tinggal di tenda-tenda pengungsian yang mudah rusak akibat cuaca ekstrem.
Realitas ini menunjukkan semakin bertambahnya derita warga Gaza, terlebih karena mereka masih terkurung di area sempit yang disebut yellow line. Mereka tidak dapat bergerak bebas setelah Israel melarang warga kembali ke rumah-rumah yang telah hancur selama peperangan. Yellow line adalah garis penarikan pasukan pertama dalam fase awal gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang dimulai pada 10 Oktober.
Meski gencatan senjata telah disepakati, pada faktanya Israel tetap berulah. Mereka memblokir masuknya material perlindungan yang sangat dibutuhkan warga Gaza, seperti tenda, makanan, kendaraan, dan lainnya. Israel juga menargetkan warga yang mendekati garis tersebut. Sedikitnya 260 warga Gaza tewas dan lebih dari 630 lainnya terluka sejak gencatan senjata dimulai (Antara, 18/11/2025).
Krisis di Gaza ini menunjukkan bahwa gencatan senjata bukanlah solusi hakiki untuk menyelesaikan masalah. Sebab, akar persoalannya adalah penjajahan Israel dan sekutunya terhadap Palestina. Gencatan senjata yang berasal dari ide Barat terbukti tidak akan menyelesaikan masalah, justru melanggengkan penjajahan.
Ironisnya, ada negara-negara yang memilih diam tanpa memberikan pertolongan, bahkan seolah menganggap Gaza baik-baik saja. Bisa dipastikan mereka memakai topeng dan menjadi boneka di bawah kendali negara besar pendukung Israel—terutama Amerika Serikat.
Lalu, apa solusi hakiki yang dapat mengakhiri penjajahan ini, bahkan penjajahan di seluruh dunia?
Solusi tuntas hanya ditawarkan oleh Islam, agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Untuk melawan pasukan penjajah, diperlukan pasukan pula—pasukan kaum muslim yang berjihad membebaskan saudara-saudaranya. Inilah yang seharusnya menjadi rujukan para pemimpin negeri-negeri muslim. Namun, pembebasan membutuhkan persatuan: bersatunya negeri-negeri muslim dalam bingkai negara Khilafah Islamiah.
Gaza membutuhkan jihad dan Khilafah. Khilafah adalah perisai yang akan menghapus segala bentuk penjajahan. Solusi hakiki ini harus terus disuarakan melalui dakwah ideologis. Wallahualam bissawab.
Oleh: Dewi Rohmah, S.Pd.,
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 38
















