Tinta Media – Badan PBB untuk Pengungsi Palestina di Timur Dekat (UNRWA) mengatakan hujan yang mengguyur Jalur Gaza memperburuk situasi yang sudah sangat mengkhawatirkan. Dilaporkan bahwa keluarga di Gaza terpaksa mencari tempat berlindung, termasuk di tenda-tenda darurat. Dalam pernyataan yang dirilis Sabtu, UNRWA menegaskan bahwa bantuan peralatan tempat tinggal sangat dibutuhkan di Gaza. (Antara, 15/11/2025).
Kondisi warga Gaza di pengungsian semakin memprihatinkan. Hujan dan banjir yang mengguyur wilayah tersebut membuat banyak tenda rusak parah, sebagian roboh, dan sebagian lain tak lagi layak huni. Fakta ini menunjukkan betapa minimnya perlindungan dasar yang mereka terima, padahal tempat tinggal aman adalah hak mendasar setiap manusia. Di tengah perhatian dunia yang sering kali hanya hangat sesaat, penderitaan mereka terus berlangsung tanpa solusi nyata.
Krisis kemanusiaan yang terus terjadi di Gaza membuka mata banyak pihak bahwa gencatan senjata, betapa pun sering digaungkan, bukanlah solusi final bagi penderitaan rakyat Palestina. Setiap kali jeda tembak diumumkan, dunia seolah diberi harapan bahwa situasi akan membaik. Namun kenyataannya, setelah jeda berlalu, kekerasan kembali meletus, reruntuhan bertambah, dan daftar korban semakin panjang.
Selama akar persoalan—yakni penjajahan yang telah berlangsung puluhan tahun—tidak dicabut, setiap gencatan senjata hanyalah perban tipis penutup luka besar. Ia tidak menghentikan pendarahan, hanya memperlambatnya. Gaza tidak butuh jeda untuk kembali dihancurkan; Gaza butuh keadilan dan penghentian total penindasan struktural yang membelenggu mereka sejak beberapa generasi.
Di tengah situasi tidak manusiawi ini, dunia justru digiring mempercayai narasi bahwa “Gaza baik-baik saja,” seolah penderitaan tidak sebesar yang diberitakan. Narasi ini tentu bukan muncul secara kebetulan. Ia dibentuk, dipelihara, dan disebarkan oleh pihak-pihak berkepentingan, terutama Amerika Serikat yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini global.
Melalui kendali media, aliansi politik, dan tekanan diplomatik, realitas di lapangan kerap dikecilkan atau dibelokkan agar tidak mengganggu agenda politik yang lebih besar. Dalam bayang-bayang kepentingan ini, suara rakyat Gaza yang sesungguhnya sedang berjuang untuk bertahan hidup justru tertutup oleh retorika bahwa situasi masih dapat “dikendalikan.” Padahal kenyataannya, penderitaan semakin dalam: pengungsian penuh, rumah-rumah hancur, fasilitas kesehatan lumpuh, dan bantuan kemanusiaan terhambat.
Lebih parah lagi, solusi-solusi yang ditawarkan negara-negara Barat selama ini bukan hanya gagal menyentuh akar persoalan, tetapi juga terbukti gagal total membawa perubahan berarti bagi Palestina. Sejak puluhan tahun lalu, berbagai perundingan, konferensi perdamaian, dan “jalan keluar diplomatik” hanya berputar di lingkaran retorika tanpa keadilan nyata. Barat tampil seolah sebagai penengah, padahal dalam banyak kasus justru memperkuat posisi penjajah melalui dukungan politik, ekonomi, bahkan militer. Bagaimana mungkin pihak yang menjadi sponsor utama ketidakadilan tiba-tiba menjadi penjamin perdamaian?
Oleh karena itu, jika dunia sungguh menginginkan perdamaian, maka solusi harus menempatkan penghentian penjajahan sebagai inti penyelesaian. Selama dunia bergantung pada formula politik yang dirancang oleh pihak berkepentingan, rakyat Palestina akan terus berada dalam lingkaran penderitaan yang sama.
Gaza tidak membutuhkan basa-basi diplomasi atau gencatan senjata yang hanya retorika. Gaza membutuhkan solusi mendasar, sistematis, dan ideologis. Mengharapkan perdamaian dari lembaga dunia saat ini hanya akan berujung pada ilusi.
Perdamaian dan kemerdekaan Palestina hanya bisa diraih dengan persatuan umat dalam membangun institusi negara berbasis Islam secara menyeluruh, yaitu Khilafah. Hanya dengan penerapan syariat secara total, Palestina mampu meraih kemerdekaan dan perdamaian sejati.
Sudah saatnya umat Islam menyadari bahwa perdamaian yang ditawarkan penjajah hanyalah utopis. Sudah saatnya umat bersatu mewujudkan negara Islam (Khilafah) untuk membebaskan Palestina dan negeri-negeri Islam lainnya. Wallahualam bissawab.
Oleh: Roudohtul Jannah,
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 31
















