Isra Mikraj: Antara Perayaan dan Keteladanan

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Sudah menjadi hal yang lumrah bahwa di negara kita, Indonesia, yang mayoritas penduduknya muslim, peristiwa Isra Mikraj Nabi Muhammad saw. merupakan peristiwa yang sangat istimewa. Bahkan, pemerintah menetapkan peringatan Isra Mikraj sebagai hari libur nasional. Di kalangan umat Islam, berbagai kegiatan dilaksanakan untuk memperingati peristiwa tersebut. Mulai dari sekolah, institusi pemerintahan, masjid dan musala, hingga kelompok-kelompok pengajian, semuanya ramai mengadakan peringatan Isra Mikraj.

 

Banyak tema yang diangkat dalam peringatan ini, seperti “Mewujudkan Generasi Berakhlak Mulia Melalui Salat”, “Isra Mikraj dan Perintah Salat sebagai Tiang Agama”, atau “Sucikan Hati dan Jiwa dalam Peringatan Isra Mikraj”, dan lain sebagainya. Tema-tema tersebut biasanya diwujudkan dalam bentuk pengajian umum di kantor-kantor pemerintahan, masjid, musala, maupun kelompok pengajian. Sementara di sekolah-sekolah, kegiatan peringatan sering dilakukan dalam bentuk pawai atau lomba bernuansa islami.

 

Sesungguhnya tidak ada yang salah dengan seluruh aktivitas tersebut. Semuanya merupakan syiar Islam dan bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad saw. sebagai teladan umat. Namun, persoalan yang sering muncul adalah bahwa kegiatan-kegiatan itu lebih banyak bersifat seremonial dan temporer, hanya menjadi euforia sesaat. Setelah peringatan selesai, semangat yang muncul pun perlahan menghilang. Kisah Isra Mikraj hanya diulang setiap tahun tanpa benar-benar menyentuh relung hati terdalam untuk mendorong umat meneladani Nabi dalam seluruh aspek kehidupan.

 

Hampir semua umat Islam mengetahui bahwa Isra Mikraj adalah peristiwa perjalanan Nabi Muhammad saw. dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina dengan mengendarai Burak, yang ditempuh hanya dalam waktu satu malam. Di Masjidil Aqsa, beliau memimpin salat para nabi terdahulu. Selanjutnya dari Masjidil Aqsa, beliau dimikrajkan ke langit ketujuh hingga Sidratul Muntaha. Di tempat inilah Nabi menerima perintah salat lima waktu.

 

Memang benar, inti peristiwa tersebut adalah turunnya perintah Allah secara langsung kepada Nabi Muhammad saw. untuk melaksanakan salat lima waktu. Namun lebih dari itu, terdapat banyak _ibrah_ atau pelajaran penting yang dapat kita ambil.

 

Pertama, Isra Mikraj terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, yang dikenal sebagai tahun kesedihan. Pada tahun tersebut, Nabi kehilangan dua sosok yang sangat dicintainya, yaitu istri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib. Keduanya merupakan penopang utama dakwah Nabi. Dalam kondisi penuh tekanan itulah, peristiwa Isra Mikraj menjadi penghiburan sekaligus penguat mental dan spiritual bagi Nabi untuk menghadapi tantangan dakwah yang semakin berat.

 

Kedua, inti peristiwa Isra Mikraj adalah turunnya perintah salat secara langsung kepada Nabi Muhammad saw. di Sidratul Muntaha. Hal ini menunjukkan bahwa salat memiliki kedudukan yang sangat penting sebagai fondasi utama pembentukan manusia bertakwa yang siap mengemban amanah kehidupan. Makna salat bukan hanya sebatas ibadah ritual lima waktu, tetapi juga mencakup makna ketaatan menyeluruh terhadap hukum-hukum Allah dalam kehidupan.

 

Ketiga, makna kepemimpinan Islam juga tergambar dalam peristiwa Isra Mikraj, yaitu ketika Nabi Muhammad saw. memimpin salat para nabi di Masjidil Aqsa. Peristiwa ini menjadi isyarat ilahiah bahwa Islam ditakdirkan menjadi pemimpin bagi seluruh umat manusia.

 

Dari ketiga pelajaran penting tersebut, sangat relevan bagi kita saat ini, di tengah kepemimpinan sekularisme dan kapitalisme yang membawa berbagai krisis di bidang politik, ekonomi, sosial, dan kemanusiaan, untuk menjadikan momen Isra Mikraj sebagai pemicu kebangkitan umat. Peristiwa ini seharusnya membangkitkan semangat untuk menyampaikan Islam sebagai solusi kepemimpinan bagi seluruh manusia, dengan kesiapan mental dan spiritual serta keyakinan penuh akan pertolongan Allah.

 

Dengan salat sebagai fondasi yang kukuh, umat Islam seharusnya siap memimpin dengan aturan-aturan Islam yang mampu membawa manusia pada keselamatan hidup di dunia dan akhirat. Melalui penerapan hukum-hukum Allah di bawah kepemimpinan Islam, negeri-negeri muslim yang tertindas seperti di Rohingya, Uighur, India, Rusia, Filipina Selatan, dan khususnya Palestina sebagai bumi Mikraj Rasulullah, dapat dibebaskan dari kezaliman.

 

Karena itu, yang kita butuhkan bukan sekadar seremonial rutin atau euforia sesaat. Yang diperlukan adalah dakwah yang serius, berkesinambungan, terukur, dan terarah dalam barisan yang rapi dan kokoh. Inspirasi Isra Mikraj harus benar-benar diwujudkan dalam aktivitas dakwah untuk menyadarkan umat bahwa kondisi kita saat ini sedang terpuruk dan tertindas. Padahal, seharusnya umat Islam menjadi pemimpin, khairu ummah, dengan membawa Islam sebagai rahmatan lil-‘alamin. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Ibu Tri,

Aktivis Muslimah

Loading

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA