Manifesto Riau Menuju Sistem Negara Federal: Wajib Ditolak!

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Dialog lanjutan terkait masalah kebangsaan, penindasan, dan ketidakadilan dilaksanakan pada hari Sabtu, 25 September 2025 di Wareh Kopi, Jalan Arifin Achmad, Pekan baru, Riau. (Membumi.com, 25/09/2025)

Dialog ini merupakan keempat kalinya telah dilaksanakan yang akhirnya mengerucut kepada sebuah Manifesto Riau yang disepakati oleh tokoh dan elemen masyarakat.

Dalam dialog tersebut, Said Lukman yang merupakan tokoh Riau Federal mengungkapkan penemuan cadangan minyak bumi sebesar 724 juta barel di wilayah kerja (WK) Pertamina Hulu Rokan. Menurutnya, fakta hari ini cadangan minyak bumi tersebut tidak memberikan kontribusi signifikan kepada Riau. Hal ini disebabkan, bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalam wilayah Provinsi Riau tidak untuk kemakmuran rakyat Riau.

Lebih lanjut, ia juga menyoroti berjuta-juta ton hasil pertanian dan perkebunan dari berbagai wilayah Riau yang dieksploitasi kemudian diekspor selama puluhan tahun melalui Pelabuhan Dumai. Faktanya, Kota Dumai dan Provinsi Riau sebagai pemilik wilayah tidak mendapatkan keadilan.

Negara Federal Wajib Kita Tolak

Lahirnya sebuah manifesto Riau yang selanjutnya disepakati beberapa elemen tokoh masyarakat perlu kita kritisi secara proposional. Mereka bersepakat bahwa negeri ini telah mengalami ketidakadilan, tetapi narasi untuk menuju negara Federal wajib kita tolak.

Kenapa wajib kita tolak? Ini alasannya:

Pertama, kita sebagai umat Islam yang berakidah Islam tentu mencontoh kanjeng Nabi saw. dalam beribadah, bermuamalah, dan bernegara. Nabi saw. telah mewariskan dua hal, yakni umat yang berakidah Islam dan Daulah Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah.

Kedua, narasi negara federal itu belum tentu akan mengurai persoalan yang dikemukakan oleh para tokoh masyarakat tersebut. Alih-alih akan menyelesaikan akar masalah, justru makin dikangkangi oleh asing. Kita bisa lihat contoh bagaimana nasib Timor-Timur. Apakah semakin sejahtera? Apalagi, ini mengundang asing untuk turut campur dalam persoalan tersebut.

Ketiga, narasi negara federal malah akan memunculkan bibit perpecahan, baik itu konflik horizontal maupun vertikal. Semenjak lama asing telah bercokol di negeri ini. Setiap ada letupan kecil mereka akan mencoba menggoyang negara ini. Ini juga merupakan narasi lama yang kembali dimainkan.

Pasalnya, dulu ada wacana Riau merdeka juga hilang begitu saja. Maka, narasi Riau Federal ini mesti kita tolak sebab akan memecah persatuan seluruh rakyat atau umat ini.

Keempat, perlu kesadaran oleh seluruh rakyat bahwa asing tidak akan pernah senang dengan persatuan umat Islam. Mereka akan memecah belah kita dengan berbagai upaya. Seharusnya para tokoh itu melakukan penyadaran kepada publik telah terjadi kezaliman demi kezaliman di negeri ini. Pangkalnya adalah karena tidak diterapkannya syariat Islam.

Kelima, tentu persoalan ini perlu solusi tuntas. Apa solusinya? Jelas sekali, tegaknya Khilafah ‘Ala Minhajin Nubuwwah, yang dengan tegaknya ini terlaksananya syariat Islam secara kafah dan diembannya dakwah dan jihad untuk memerangi musuh-musuh Allah.

Maka dari itu, perubahan harusnya diarahkan kepada Islam, bukan yang lain. Yang mana justru akan menjadi tambal sulam tiada akhir. Islam akan menyelesaikan seluruh problematika umat tanpa terkecuali. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Muhammad Nur, S.E.,

Jurnalis

Views: 23

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA