Data Diretas, Rakyat Was-Was

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Beberapa hari lalu, kabar bahwa Pusat Data Nasional (PDN)
diretas. Tentu hal ini menjadi perhatian serius bagi publik. Sistem PDN
mengalami down akibat terkena serangan siber ransomware dan mengganggu sistem
layanan pada 282 instansi pemerintahan.  

Di antaranya instansi  keimigrasian dan 
administrasi kependudukan. Tidak hanya kali ini saja, peretasan data
negara  sudah terjadi berulang kali, bahkan pada tahun 2021 sebanyak enam
kali situs milik instansi pemerintah mengalami kebocoran, yakni pada bulan Mei
2021 berupa data BPJS kesehatan hingga bulan Oktober 2021, yaitu database
Polri. (Inilah.com, 30/6/2024)

Serangan siber ransomware tidak hanya terjadi di Indonesia,
tetapi di seluruh dunia, bahkan negara adidaya Amerika Serikat (AS) juga
terkena serangan siber ransomware tersebut.

Berdasarkan pernyataan Menkominfo Budi Arie, Indonesia hanya
sebesar 0,67 persen terkena  serangan ransomware. Tidak hanya itu,
ungkapan Budi Arie terkait beberapa negara yang terkena dampak ransomware 
paling banyak Amerika Serikat, yaitu 40,43 persen, Kanada 6,75 persen,
Inggris 6,44 persen, Jerman 4, 29 persen dan Perancis 3,8 persen. (Viva.co.id,
27/6/2024)

Kepercayaan yang Dikhianati

Publik telah mempercayakan kepada para penguasa/pemimpin
untuk menjaga privatisasi database rakyat. Akan tetapi, kepercayaan itu telah
dikhianati. Data yang seharusnya sepenuhnya dilindungi, ternyata hanya 2%
saja mendapat perlindungan.

Inilah salah satu gambaran bahwa ketika suatu tanggung jawab
tidak diberikan kepada ahlinya, maka tunggulah kehancurannya. Saling lempar
tanggung jawab dan saling menyalahkan merupakan bentuk ketidaksiapan para
penguasa terhadap amanah yang diterima. Bentuk kekecewaan rakyat tidak hanya
sampai di situ, bahkan mendesak menkominfo Budi Arie untuk mundur atas kejadian
ini.

Seharusnya, jebolnya data tidak boleh terulang lagi. Negara
harus mempunyai pertahanan siber yang mumpuni dengan menerjunkan orang-orang
yang ahli di bidangnya.

Tidak hanya itu, bahkan orang yang diamanahi tersebut harus
bertanggung jawab terhadap tugas yang telah diberikan. Penyimpanan cadangan
data, seharusnya sudah dilakukan sejak awal sebagai antisipasi dari tindak
kejahatan apa pun, tetapi kini baru dicanangkan setelah data tercecer oleh para
peretas.

Akibat dari jebolnya data ini, banyak sekali tindak
kejahatan yang memungkinkan akan terjadi.

Pertama data masyarakat bisa diperjualbelikan, sehingga para
peretas mendapat keuntungan yang banyak.

Kedua, bisa saja data pribadi disalahgunakan oleh orang lain
untuk digunakan pada pinjaman online. Ini akan menimbulkan dampak yang sangat
tidak baik bagi para korban sehingga membuat resah masyarakat.

Inilah bentuk nyata semrawutnya wajah peradaban sekularisme.
Dengan jebolnya data oleh peretas di  PDN, bertambahlah benang kusut
permasalahan yang bertubi tubi di negeri ini.

Islam sebagai Solusi

Sekularisme telah nemisahkan kehidupan beragama dan
bernegara. Kehidupan beragama hanya sebatas ibadah di masjid saja.
Sementara, kehidupan bernegara tidak boleh ada campur tangan agama di dalamnya,
sehingga aturan yang diciptakan berdasarkan akal pikiran manusia tidak berasal
dari Sang Pencipta. Dampak yang timbul, pasti ada kepentingan manusia yang
berkuasa di dalamnya. Sebagaimana tertuang dalam TQs. Ar Rum: 41

“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh
perbuatan tangan manusia, supaya mereka merasakan sebagian dari perbuatan
mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar”.

Dari ayat di atas dapat dilihat bahwa kerusakan-kerusakan
yang terjadi tersebut disebabkan oleh tangan manusia. Manusialah yang menjadi
sebab munculnya berbagai problem dalam kehidupan. Maka dari itu, marilah kita
bersama-sama berupaya untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan dakwah, untuk
mendapatkan keberkahan hidup.

Dengan Islam, negara akan memfasilitasi rakyat dengan
pelatihan-pelatihan dan senantiasa melakukan perbaikan-perbaikan akidah
sehingga terbentuk pribadi yang cerdas, jujur ,dan amanah.

Sebagaimana Al-kindi, yang dikenal sebagai Bapak Kriptografi
. Berdasarkan karya al-Khalil (717–786), Buku Al-Kindi yang berjudul Manuscript
on Deciphering Cryptographic Messages memunculkan lahirnya kriptanalisis,
sebagai penggunaan inferensi statistik paling awal. Masyaallah.

Wallahu ‘alam.

Oleh: Umi Salamah, Ibu Rumah Tangga, Aktivis Dakwah

Loading

Views: 6

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA