Dolar Naik, Rakyat Jadi Korban

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Pidato Presiden Prabowo Subianto di Nganjuk pada Sabtu, 16 Mei 2026, seketika menjadi viral. Menanggapi kekhawatiran publik atas kenaikan dolar Amerika Serikat, ia merasa tidak bersalah dengan krisis ekonomi yang sedang terjadi. Dengan riangnya, ia mengatakan dalam pidatonya bahwa melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) hingga mencapai titik terendah sepanjang sejarah Indonesia tidak berpengaruh pada masyarakat di desa karena orang desa tidak memakai dolar. Pernyataan konyol yang tidak pantas disampaikan oleh seorang presiden. Bahkan, anak SD saja mampu memahami realitas krisis yang terjadi saat ini, dan tidak perlu menjadi seorang ahli ekonomi untuk memahaminya.

Dalam pidatonya, seperti biasa, bukan solusi yang ditawarkan agar rupiah menguat dan kondisi ekonomi membaik, melainkan hanya pembelaan diri atas kondisi yang terjadi saat ini. Seharusnya seorang presiden peka terhadap apa yang salah dengan kebijakannya, kemudian memperbaikinya agar rupiah kembali menguat dan kondisi ekonomi mengalami peningkatan.

Pernyataan itu bukan sekadar candaan spontan. Ia adalah cermin cara kekuasaan membodohi rakyat dengan membangun ilusi bahwa rakyat kecil berada di luar pusaran kapitalisme global, dengan mengatakan bahwa sebagian besar masyarakat di daerah tidak menggunakan dolar AS dalam aktivitas sehari-hari sehingga dampaknya tidak dirasakan langsung oleh rakyat kecil yang hidup di bawah garis kemiskinan.

Bagaimana rakyat tidak terdampak jika Indonesia masih mengimpor berbagai komoditas utama dari Amerika Serikat yang mencakup sektor teknologi, industri, hingga produk pertanian? Ternyata banyak produk yang dibutuhkan rakyat masih diimpor dari Amerika, seperti kedelai, gandum, jagung, dan buah-buahan. Bahkan, BBM yang dibutuhkan untuk menopang aktivitas masyarakat juga masih impor. Jadi, tidak bisa dimungkiri bahwa melemahnya rupiah terhadap dolar akan memicu kenaikan harga barang-barang yang dibutuhkan dan berakibat pada menurunnya daya beli rakyat.

Seharusnya krisis 1998 bisa dijadikan pelajaran bagaimana Presiden B. J. Habibie secara sadar mengorbankan mimpinya untuk mendirikan dan mengembangkan industri pesawat nasional (PT IPTN dan proyek N250) demi menyelamatkan Indonesia dari keterpurukan akibat Krisis Moneter 1997–1998. Beliau memprioritaskan stabilitas ekonomi dan ketersediaan pangan bagi rakyat di atas ambisi pribadinya.

Seharusnya Presiden Prabowo berani mengorbankan mimpinya, seperti program MBG dan Koperasi Merah Putih yang dianggap tidak bermanfaat. Program-program tersebut bukanlah yang dibutuhkan rakyat, tetapi sudah menghabiskan anggaran besar. Banyak pengamat menilai program unggulannya hanya merupakan pemborosan anggaran, sementara dalam pelaksanaannya jauh dari cita-cita untuk menciptakan generasi emas. Namun, semua kritik diabaikan dan justru dijawab dengan nyinyiran.

Jika ingin negara ini tidak terpengaruh oleh naiknya mata uang dolar, kita harus berani memutus tali kendali asing dan bisa mandiri sebagaimana yang terjadi dalam sistem khilafah. Negara harus benar-benar merdeka dan berani tegak di atas kaki sendiri. Namun, yang terjadi justru sebaliknya. Amerika dan pihak asing dibiarkan mencengkeramkan pengaruhnya yang dapat mengancam kedaulatan suatu negara.

Sejak keputusan bergabung dengan BoP, Indonesia masuk ke dalam perangkap jaring kendali Amerika. Terlebih lagi, hal itu diikuti dengan kerja sama ART yang merugikan Indonesia dan MDCP yang mengancam kedaulatan Indonesia. Jika ingin menjadi negara yang kuat dan tidak terpengaruh oleh pusaran kapitalisme global, Indonesia harus mandiri dan terbebas dari pengaruh asing. Negara yang kaya raya dengan sumber daya alamnya seharusnya mampu mewujudkan swasembada pangan dan energi.

Namun, semua itu hanya ilusi selama kita menggunakan sistem kapitalisme yang membuat pemimpin dan pengelola negara tidak berani membela dan memperjuangkan rakyatnya. Mereka berada dalam kendali oligarki dan asing karena takut kehilangan kekuasaan. Saatnya kita mencampakkan sistem kapitalisme demokrasi dan kembali kepada sistem khilafah agar menjadi negara yang kuat dan benar-benar merdeka dari pengaruh buruk pusaran global.[]

Oleh: Mochamad Efendi
Sahabat Tinta Media

Loading

Views: 25

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA