Ketika Kesenjangan Ekonomi Mendorong Generasi untuk #KaburAjaDulu

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta media – Beberapa waktu lalu, tagar #KaburAjadulu mendadak menjadi viral di media sosial. Bukan hanya sekadar candaan, tagar ini bagaikan cermin dari kegelisahan sejumlah orang yang merasa tertekan dengan kondisi sosial dan ekonomi dalam negeri. Ketika semakin banyak yang merasa sulit bertahan hidup di negara sendiri, keinginan untuk “kabur” ke luar negeri sebagai pelarian seakan menjadi pilihan yang menarik.

Ternyata yang terjadi di dunia maya sejalan dengan fakta yang dilansir dari Kompas.id (4/12/2024), bahwa dalam acara Study and Work Abroad Festival Juli-Agustus 2024 diikuti lebih dari 100.000 orang. Acara yang memberikan informasi tentang beasiswa dan kesempatan kerja di luar negeri ini semakin ramai diminati dari tahun ke tahun.

Sejalan dengan hal tersebut, dilansir dari Kompas.com (5/2/2025) menyampaikan data Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham yang menunjukkan, sebanyak 3.912 WNI usia 25-35 tahun memilih menjadi warga negara Singapura pada 2019 hingga 2022.

Hal ini bisa dipandang sebagai ungkapan ketidakpuasan terhadap pemerintah yang dianggap gagal dalam mengurus negara. Dari masalah inflasi, pengangguran, hingga kebijakan yang tak berpihak pada rakyat kecil, banyak yang merasa bahwa masa depan di dalam negeri semakin suram. Bahkan, hidup yang semakin sulit dan harga-harga yang kian meroket membuat banyak orang merasa terpojok dan memilih untuk mencari jalan keluar di luar negeri, baik itu melalui jalur pendidikan, pekerjaan, atau sekadar mencari kehidupan yang lebih baik.

Sebagai dampak globalisasi, media sosial hari ini sudah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan sehari hari. Bagi sebagian orang, media sosial sudah menjadi tempat untuk berbagi keluhan dan harapan.

Termasuk di dalamnya diaspora yang membagikan gambaran kehidupan ideal di luar negeri. Hal tersebut dapat memicu perasaan tidak puas dan tekanan bagi mereka yang dihadapkan dengan kehidupan di dalam negeri sendiri penuh dengan tuntutan dan tekanan, seolah memberikan dorongan bagi masyarakat untuk mencari peluang di luar negeri.

Banyaknya orang yang ingin ‘kabur’ bukan hanya bentuk keinginan akan kehidupan yang lebih baik, tetapi juga mencerminkan ketidakpercayaan dan puncak kelelahan masyarakat dalam menghadapi kondisi di dalam negeri.

Ada suatu fenomena di mana tenaga kerja terampil atau berbakat seperti ilmuwan, insinyur, dokter dan profesi lainnya memilih untuk bermigrasi dari negara berkembang ke negara maju, fenomena ini disebut dengan istilah brain drain. Dengan pertimbangan gaji yang lebih tinggi, fasilitas kerja dan riset yang lebih baik, stabilitas politik dan ekonomi serta kesempatan pendidikan dan karir yang lebih luas menjadi alasan utama kenapa fenomena ini terjadi.

Dampak dari brain drain ini bisa merugikan negara asalnya karena kehilangan sumber daya manusia berkualitas yang seharusnya berkontribusi pada pembangunan dalam negeri. Dengan begitu, kesenjangan antara negara maju dan negara berkembang akan semakin lebar.

Meski banyak yang mendukung ide ini, ada juga yang mengingatkan bahwa lari dari masalah bukanlah solusi jangka panjang. Negara yang besar dan penuh potensi seperti Indonesia seharusnya bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk tinggal, jika dikelola dengan sistem yang benar.

Kapitalisme yang saat ini dijadikan sebagai asas dalam membangun perekonomian adalah biang keroknya. Kesenjangan ekonomi bukan hanya terjadi pada tingkatan negara tetapi sudah pada tingkat dunia, begitu jauh kondisi perekonomian negara berkembang dengan negara maju.

Materi dijadikan tolok ukur kesuksesan seseorang, banyak orang yang menilai berdasarkan materi yang ia miliki. Kekayaan, jabatan, dan gaya hidup mewah mewah seringkali dijadikan patokan kesuksesan dan pencapaian hidup.

Menilai seseorang hanya dari segi materi adalah ciri khas kapitalisme yang menjadikan harta sebagai solusi dari segala permasalahan hidup. Oleh karena itu, sudah saatnya kita mengubah cara pandang dan pikiran kita kembali pada fitrahnya.

Dalam Islam, negara wajib untuk mengusahakan kesejahteraan rakyat, negara harus memenuhi kebutuhan asasi setiap warga negara individu per individu. Termasuk di dalamnya wajib menyediakan lapangan kerja yang layak bagi semua laki-laki yang sudah baligh.

Pemerintah yang memiliki tanggung jawab untuk mengelola berbagai sumber daya alam (SDA) yang dianugerahkan pada kaum Muslimin. Begitu pun dengan mempersiapkan SDM yang beriman dan merupakan tanggung jawab negara untuk menghadirkan pendidikan yang berkualitas.

Islam adalah rahmat bagi seluruh alam, ajaran Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, tetapi juga hubungan antarmanusia, hubungan dengan dirinya sendiri dan dengan alam semesta. Kesempurnaan ajaran ini akan tampak jelas ketika seluruh hukum-hukumnya diberlakukan secara menyeluruh, baik dalam aspek ibadah, sosial, ekonomi, maupun hukum-hukum lainnya. Syariat Islam hadir untuk mewujudkan kehidupan yang sejahtera dan menjadi rahmat tidak hanya bagi umat Muslim, tetapi juga bagi seluruh alam semesta.

Wallahualam bishawab.

 

 

Oleh: Sabna Balqist Budiman
Penulis dan Aktivis Muslimah

Loading

Views: 11

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA