Tinta Media – Di tengah badai krisis ekonomi global dan kesenjangan sosial yang semakin melebar, muncul sebuah tagar yang menjadi simbol kekecewaan dan frustasi generasi muda. Tagar #KaburAjaDulu, telah menjadi perbincangan hangat di media sosial termasuk X (Twitter) dan sempat menjadi topik tren unggahan di Indonesia dalam platform X. Tagar ini bukan hanya sekedar ungkapan kekesalan tapi juga menjadi simbol perlawanan dan keberanian bagi mereka yang merasa terjebak dalam situasi yang tidak aman dan tidak nyaman. Tagar ini juga menjadi cerminan dari kesenjangan ekonomi yang semakin parah dan kehilangan harapan. Di satu sisi, kita menyaksikan bagaimana kesenjangan ekonomi global semakin melebar, dengan hanya 1% penduduk dunia yang menguasai lebih dari 90% kekayaan dunia.
Di sisi lain, kita juga menyaksikan bagaimana generasi muda semakin kehilangan harapan dan kepercayaan terhadap sistem ekonomi yang ada sekarang. Seperti lonjakan kenaikan harga kebutuhan pokok membuat biaya hidup semakin tinggi. Sedangkan pendapatan tidak ada peningkatan yang seimbang, ditambah beban pajak yang terus meningkat dan sangat memberatkan.
Kurangnya lapangan pekerjaan dan kesempatan kerja yang sesuai karena kualifikasi yang tinggi serta maraknya korupsi di dalam pemerintahan yang tumbuh subur membuat ketidakpercayaan masyarakat juga meningkat.
Kondisi ini tentu tidak lepas dari pengaruh digitalisasi terutama medsos yang menggambarkan tentang kehidupan negara lain yang lebih menjanjikan. Sedangkan di dalam negeri sendiri kualitas pendidikan sangat rendah. Berbeda halnya dengan di luar negeri di mana banyaknya tawaran beasiswa keluar negeri di negara maju sehingga semakin memberi peluang untuk “kabur”.
Sulitnya mencari kerja bertemu dengan banyaknya tawaran kerja di luar negeri baik pekerja terampil maupun pekerja kasar dengan gaji yang lebih tinggi di negara maju. Kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari fenomena brain drain yang menjadi isu krusial dalam konteks globalisasi atau liberalisasi ekonomi yang semakin menguat dan makin memperlebar kesenjangan antara negara maju dan berkembang, menciptakan ketidakadilan dalam akses terhadap sumber daya dan kesempatan. Hal ini menggambarkan kegagalan kebijakan politik ekonomi dalam negeri untuk memberikan kesejahteraan hidup bagi rakyatnya.
Potret Buram Sistem Kapitalisme
Tren #KaburAjaDulu terjadi akibat dari beberapa masalah yang lebih dalam, termasuk akar dari masalah ini yaitu dianutnya sistem kapitalisme selama ini. Sistem kapitalisme yang dijadikan sebagai asas negeri ini faktanya merupakan akar dari masalah kondisi ini. Nyatanya kesenjangan ekonomi tidak hanya terjadi di dalam negeri tapi juga di tingkat dunia, antara negara berkembang dan negara maju. Sistem kapitalisme seringkali memprioritaskan keuntungan atas kesejahteraan pekerja, contohnya perusahaan manufaktur di Indonesia yang memperkerjakan buruh dengan upah minimum dan tidak memberikan hak-hak yang memadai seperti asuransi kesehatan dan cuti yang cukup.
Dengan dalih untuk menghemat biaya dan meningkatkan keuntungan dan juga memperkerjakan pekerja dengan kotrak kerja yang tidak adil seperti kontrak kerja yang tidak memiliki jaminan kesehatan dan keamanan, sehingga menyebabkan eksploitasi tenaga kerja dan ketidakadilan.
Kapitalisme juga dapat memperburuk kesenjangan ekonomi di mana orang kaya semakin kaya sementara yang miskin menjadi semakin miskin. Seperti dominasi pasar oleh pemilik modal yang mana pemilik modal besar dapat menguasai pasar dan menggerus pasar tradisional sehingga pedagang kecil tidak dapat bersaing dan harus menutup toko mereka.
Selain itu sistem kapitalisme juga dapat membatasi akses ke pendidikan dan kesehatan bagi orang miskin sehingga meningkatkan perbedaan yang sangat signifikan dalam status sosial dan ekonomi. Kapitalisme juga mendorong konsumsi berlebihan sehingga menciptakan ketergantungan pada barang-barang material hal inilah yang menimbulkan masyarakat Indonesia menjadi fomo dan hidup hedon.
Jadi wajar jika dari beberapa hal ini mengapa sistem kapitalisme dianggap sebagai biang atau akar masalah dari tagar #KaburAjaDulu. Karena dilihat dalam sudut pandang Islam, kapitalisme dianggap sebagai sebuah sistem ekonomi yang tidak sesuai dengan nilai-nilai keadilan dan kesetaraan dalam Islam karena sifatnya menzalimi rakyat.
Adapun sistem demokrasi kapitalis sekuler saat ini justru banyak melahirkan pemimpin yang banyak dicela oleh Rasulullah SAW, sebab mereka yang akan memegang tampuk kekuasaan acapkali berada di bawah kendali para cukong yang selama ini mensupport mereka dengan banyak gelontoran dana pada musim pemilu. Mereka tentu akan lebih loyal kepada para pemodal mereka daripada kepada rakyat. Jadi, jangan heran jika banyak pejabat yang kehilangan rasa empati sekalipun banyak rakyatnya yang menderita. Mereka lebih memilih memperkaya diri dan koleganya (oligarki) daripada peduli kepada rakyatnya sendiri.
Solusi dalam Islam
Adapun di dalam sistem pemerintahan Islam yang disebut Khilafah dan yang memimpinnya disebut Khalifah tentunya seorang yang amanah dan bertanggung jawab penuh terhadap rakyatnya. Karena hakikatnya pemimpin adalah pengurus dan pelayan rakyat. Pengurusan rakyat (ri’ayah) itu dilakukan dengan siyaasah (politik) yang benar dengan menjalankan hukum syariah dan mengutamakan kemashlahatan dan kepentingan rakyat. Maka dalam Islam langkah solusi yang benar dan tepat untuk mengatasi permasalahan #KaburAjaDulu dan mencegah eksodus generasi muda, negara perlu mengambil langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesempatan yang sama di dalam negeri. Dengan kebijakan yang adil dan mensejahterakan rakyat yang memungkinkan semua orang untuk menikmati kehidupan yang layak dan setara.
Seperti meningkatkan mutu kualitas pendidikan supaya generasi muda terdidik dan siap bersaing secara global. Lapangan pekerjaan yang luas dan terbuka bagi siapa saja dengan kualifikasi yang sesuai sehingga tidak ada lagi pengangguran, yang efeknya bisa menekan angka kemiskinan dan kriminalitas.
Belum lagi pengelolaan sumber daya alam yang dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk semua rakyat karena sumber daya alam milik umum tidak boleh dikuasai perorangan atau perusahaan swasta dan tata kelolanya tidak boleh merusak lingkungan. Serta memastikan bahwa kegiatan ekonomi dilakukan dengan cara yang etis dan berdasarkan pada nilai-nilai Islam yang bertujuan menciptakan keberkahan bagi kaum Muslim.
Di samping itu juga melarang riba (bunga) dalam semua transaksi keuangan karena riba merupakan sebuah bentuk eksploitasi dan menzalimi rakyat. Islam menetapkan para penguasa haruslah orang-orang yang memiliki iman dan takwa, dengan itu mereka tidak akan mau menerima suap, korupsi apalagi mengintimidasi rakyat. Mereka mengurus dan melayani rakyat semata-mata hanya mengharap Ridha Allah SWT. Jadi, solusi penyelesaian masalah ini hanya akan bisa terwujud dalam sistem pemerintahan Islam sebab pemimpin yang baik harus ada dalam sistem yang baik.
Sistem pemerintahan yang baik tentu bersumber dari Zat yang Maha Baik, ialah Allah SWT. Itulah sistem yang telah diamanahkan oleh Rasulullah ﷺ kepada kaum Muslim sepeninggal beliau, yaitu Khilafah’alaa minhaaj an nubuwwah.
Wallaahu a’lam bi ashshawaab.
Oleh: Tati Pranita
Aktivis Muslimah
![]()
Views: 8










