Kurikulum Berbasis Cinta, Mau Dibawa ke Mana Pendidikan Agama Indonesia?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kementerian Agama meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai bagian dari upaya menyusun ulang orientasi pendidikan keagamaan di Indonesia. Kurikulum ini bukan hanya berfokus pada transfer ilmu, akan tetapi bermaksud untuk menanamkan nilai-nilai cinta, kebersamaan, dan tanggung jawab ekologis sejak dini, mulai dari pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
 
KBC adalah pendekatan pendidikan yang menitikberatkan pada titik temu antarumat manusia, bukan perbedaan. Menurut pendapat dari Menteri Agama Nasaruddin Umar, KBC lahir dari kegelisahan akibat berbagai krisis kemanusiaan yang selalu berulang. Dalam peluncuran KBC yang digelar di Asrama Haji Sudiang, Makassar, ia menilai bahwa pendidikan merupakan pintu masuk untuk perubahan sosial yang lebih mendalam dan tahan lama. (Kemenag.go.id 24/07/2025)
 
Menurut Kemenag, hal ini dalam rangka menyusun ulang arah pendidikan keagamaan di Indonesia yang selama ini dianggap hanya mengajarkan agama, tetapi menanamkan kebencian terhadap yang berbeda. KBC akan fokus pada aspek keharmonian dalam perbedaan. Apakah KBC akan memberi suasana baru di dunia pendidikan? Atau malah sebaliknya?
 
Adanya KBC ini, sepertinya lebih menuju ke arah “moderasi beragama”. Terlebih, saat mendengar visi misi di balik diluncurkannya KBC ini. Kurikulum yang sudah berjalan saat ini saja tidak memberi dampak yang berarti bagi perkembangan pendidikan di Indonesia. Apalagi KBC ini hadir karena alasan krisis kemanusiaan, intoleran, dan degradasi lingkungan yang mengkhawatirkan.
 
Justru di saat krisis seperti ini, muncul ancaman baru dari kurikulum KBC, yaitu deradikalisasi sejak dini. Hal ini dikarenakan mulai dari sekolah dasar sampai ke perguruan tinggi akan digarap dengan KBC. Kurikulum ini mengajarkan kita bersikap keras kepada sesama muslim dan berlemah lembut kepada nonmuslim. Padahal sebelum adanya KBC saja, hal-hal berbau moderasi beragama sudah kadung terjadi.
 
Hal ini tampak jelas ketika Paus Fransiskus menyambangi Indonesia disambut dengan karpet merah yang meriah. Bahkan, Paus disambut spektakuler di masjid Istiqlal Jakarta yang notabene ini merupakan tempat ibadah umat Islam. Bukankah ini bentuk toleransi yang kebablasan berbalut moderasi beragama? Sebaliknya, saat guru besar umat Muslim dunia, Dr. Zakir Naik berencana datang ke Indonesia, sempat muncul penolakan dari segelintir orang untuk menggagalkan kedatangan beliau. Padahal tujuan beliau adalah dakwah, bukan melakukan hal yang terlarang dan radikal.
 
Miris sekali kondisi di negeri mayoritas Muslim ini. Saat seorang Muslim mau melaksanakan syariat Islam secara kaffah, malah dicap radikal, ekstrem, intoleran, dan dimusuhi oleh sesama Muslim sendiri (Islamofobia). Lebih parah lagi, para pendakwahnya dipersekusi dan dibubarkan kajiannya. Sementara perlakuan ke nonmuslim lebih sopan, lemah lembut, rumah ibadah mereka dijaga, dan saat perayaan hari besar ikut dimeriahkan bersama. Apakah yang seperti ini baru dikatakan toleransi?
 
Sejatinya, dalam Islam esensi toleransi itu adalah membiarkan nonmuslim dengan agamanya tanpa ikut campur, bahkan sampai euforia dalam perayaan mereka. Jadi, sudah tampak jelas bahwa KBC ini lahir dari sistem sekularisme yang menjauhkan generasi dari agama mereka sendiri. Menjadikan akal sebagai sumber hukum serta penentu segala sesuatu.
 
Islam memandang bahwa sekularisme merupakan asas yang salah dan batil karena memisahkan peran agama dari kehidupan. Sementara itu, asas dalam kurikulum Islam adalah akidah Islam yang memiliki prinsip komprehensif dan kaffah. Dalam Islam, akidah merupakan asas bagi setiap Muslim untuk menjalani kehidupan dan bernegara. Negara bertanggung jawab atas seluruh rakyatnya. Kemudian, menyangkut aspek pendidikan, negara akan memberikan fasilitas terbaik untuk semua rakyatnya.
 
Saat akidah umat sudah kuat, mereka akan secara totalitas taat melaksanakan semua syariat Islam sehingga mampu menyelesaikan seluruh problematika kehidupan. Jelas, semua bisa terwujud hanya dalam naungan daulah Islam. Wallahualam bissawab.
 
Oleh: Amy Sarahza
Sahabat Tinta Media

Views: 41

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA