Kurikulum Berbasis Cinta, Benarkah Memperkuat Karakter Bangsa?

Bagikan tulisan ini agar semakin bermanfaat !

Facebook
WhatsApp
Twitter
Telegram
Threads

Tinta Media – Kementerian Agama Republik Indonesia resmi meluncurkan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) sebagai wajah baru pendidikan Islam yang lebih humanis, inklusif, dan spiritual. Peluncurannya digelar di Asrama Haji Sudiang, Makassar, Kamis (24/07/2025). Menurut Menteri Agama RI, Nasaruddin Umar, KBC diluncurkan sebagai langkah transformasi besar dalam ekosistem pendidikan nasional dan hadir sebagai respons terhadap krisis kemanusiaan, intoleransi, dan degradasi lingkungan yang semakin mengkhawatirkan. (Republika.co.id, 26/07/2025)

KBC juga disambut baik oleh Rektor Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU), Prof. Nurhayati, yang menyampaikan bahwa gagasan kurikulum berbasis cinta bukan hanya wacana, tetapi sebuah kebutuhan mendesak dalam sistem pendidikan nasional saat ini yang cenderung kehilangan sentuhan kemanusiaan.(AntaraNews.com, 25/07/2025)

Sekilas KBC memang memberi kesan baik dan menawarkan gagasan yang bisa diterima masyarakat, khususnya madrasah karena mampu memperkuat karakter generasi. Benarkah demikian? Jawabannya tidak.

Bagai musuh dalam selimut. Pendidikan layaknya topeng semata untuk memperkuat agenda penjajahan, walaupun itu dibuat atau dirancang oleh bangsa sendiri. Strategi divided et impera (politik pecah belah atau adu domba) seolah lagu lama, namun diputar kembali. Rencana penjajah sudah terbaca, secantik apa pun kemasan yang dibuat. Ini sebagai kamuflase dari racun yang bisa menjadi bumerang dan menyerang rakyat atau bangsa sendiri, bahkan bisa membuatnya mati. Ya, kematian umat Islam adalah harapan yang didambakan para penjajah.

Sebelum dibiarkan “mati“, umat Islam sengaja disimpan dalam kotak-kotak perbedaan. Sementara itu, yang jelas berbeda dalam akidah malah disatukan. Umat Islam seakan harus meyakini akidah umat agama lain sebagai keyakinannya. Ini jelas sebuah pemaksaan meskipun terdengar sopan dan halus. Sungguh miris, sesama Muslim saling mencurigai, bahkan berprasangka buruk. Pada akhirnya, bisa menimbulkan ketakutan pada agama sendiri atau sering disebut dengan islamofobia.

Hal ini akan berimbas pada banyaknya generasi yang enggan mempelajari agamanya sendiri, bahkan menjalankan agama sebatas ibadah saja. Itu pun kalau masih sempat. Islam sudah diserang dari berbagai macam aspek, termasuk budaya.

Itulah yang terjadi jika manusia membuat aturan hanya mengandalkan akal dan nafsu semata. Mereka melihat masalah hanya pada permukaan. Padahal, Islam sangat mendalam dan komprehensif (lengkap) mengatur seluruh aspek kehidupan, termasuk pendidikan.

Allah Swt. berfirman, “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan banyak dari kalangan jin dan manusia untuk (masuk neraka) Jahanam (karena kesesatan mereka). Mereka memiliki hati yang tidak mereka pergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan memiliki mata yang tidak mereka pergunakan untuk melihat (ayat-ayat Allah), serta memiliki telinga yang tidak mereka pergunakan untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. al-A’raf: 179)

Dalam Islam, setiap perbuatan harus memiliki nilai yang jelas, baik itu nilai kemanusiaan (qimah insaniyyah), materi (qimah madiyyah), akhlak (qimah akhlaqiyah), atau spiritual (ruhiyah). Dari sini jelas, tujuan perbuatan Muslim seharusnya meraih rida Allah Swt. semata, walaupun ada nilai yang dapat diambil dari perbuatan tersebut.

Islam memberikan pendidikan berasaskan akidah Islam. Dengan demikian, seorang Muslim akan memiliki kepribadian Islam yang kukuh dan tidak mudah diguncang berbagai propaganda berbalut toleransi. Hanya dalam sistem Islam akan terwujud generasi cemerlang. Mereka bukan hanya ahli dalam berbagai bidang keilmuan, namun juga memiliki ketundukan yang tinggi terhadap Allah Swt., Sang Pengusa alam semesta. Wallahualam bissawab.

 

Oleh: Alin Aldini, S.S.,

Aktivis Dakwah

Views: 25

TintaMedia.Com : Menebar opini Islam di tengah-tengah umat yang terkungkung sistem kehidupan sekuler.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

TULISAN TERBARU

SEDANG TRENDING

MENANGKAN OPINI ISLAM

JADWAL SHOLAT DI KOTA ANDA